
Selamat hari Senin tanggal merah!
Di hari libur yang "kejepit" tapi nikmat ini, mari kita jujur-jujuran sebentar sambil ngopi (atau ngeteh, tim lambung aman).
Coba cek cermin. Apakah kamu melihat bayangan seseorang yang merasa harus menggendong beban satu kantor, beban keluarga, plus beban negara sendirian? Seseorang yang pantang bilang "nggak bisa" dan haram bilang "tolong"?
Selamat, kamu positif mengidap Sindrom Superman.
Tapi, ada satu fakta unik tentang kita, para Superman duniawi ini.
Kita sok kuat di depan manusia, tapi giliran mentok, dompet tipis, atau dikejar deadline yang mustahil... mendadak kita berubah jadi "Klien yang Banyak Mau" di hadapan Tuhan.
Di sinilah letak komedi tragis kehidupan kita yang sering disindir halus sama Al-Fatihah ayat 5: "Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in."
Mari kita bedah kelakuan absurd kita ini.
Fase 1: Sok Jadi Superman (Lupa 'Nasta'in')
Dalam mode sehari-hari, mindset kita adalah: "Gue bisa sendiri. Minggir lo semua."
Kita kerja bagai kuda (padahal kudanya aja istirahat). Kita gengsi minta bantuan. Kita merasa kalau kita delegasikan tugas, dunia bakal kiamat. Kita lupa kalau kapasitas otak kita itu terbatas, punggung kita gampang encok, dan mental kita butuh healing.
Di fase ini, kita melupakan paruh kedua ayat 5: Wa iyyaka nasta'in (Dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan).
Kita lupa kalau Nasta'in itu bukan tanda lemah. Itu adalah fasilitas VIP biar kita nggak gila. Tuhan udah bilang, "Minta tolong sama Aku," tapi kita malah jawab, "Nggak usah Bos, saya handle sendiri."
Akibatnya? Burnout. Stres. Ubanan dini.
Fase 2: The "Klien Dadakan" (Lupa 'Na'budu')
Nah, ini bagian lucunya.
Begitu si Superman ini jatuh, sakit, atau rekeningnya minus di tanggal tua... barulah dia lari kencang ke sajadah.
Tiba-tiba doanya kenceng banget. Khusyuk banget. Air matanya deras.
"Ya Allah, tolong cairkan invoice ini..."
"Ya Allah, sembuhkanlah..."
"Ya Allah, jodohkanlah..."
Teriakan NASTA'IN (tolong aku!) kita menggema ke langit.
Tapi, coba ingat pas kemarin baru gajian? Pas lagi liburan di Bali? Pas proyek lagi gol?
Mana suaranya NA'BUDU (aku mengabdi pada-Mu)? Hening.
Salatnya di-rapel (atau di-qada pake perasaan). Sedekahnya nanti dulu. Syukurnya lupa.
Kita memperlakukan Tuhan kayak Customer Service atau Pemadam Kebakaran. Ditelepon cuma pas ada masalah darurat doang. Giliran hidup lagi lancar, kita ghosting.
Kita Ini Hamba atau Klien?
Ayat 5 itu urutannya jelas: "Iyyaka Na'budu" (Setor muka/pengabdian dulu), baru "Wa Iyyaka Nasta'in" (Minta tolong kemudian).
Hubungan ini paket hemat. Nggak bisa diecer.
Lah kita? Maunya transaksional.
"Tuhan, nih gue udah salat Dhuha 2 rakaat, mana rezekinya? Kok belum cair?"
Waduh, Bestie. Itu Tuhan, bukan mesin vending machine. Masukin koin ibadah, keluar kaleng rezeki. Nggak gitu konsepnya.
Kita ini HAMBA. Posisi kita itu butuh, bukan menuntut.
Lucu kan, kita resign jadi Superman karena nggak kuat, tapi pas minta tolong gayanya kayak Klien VIP yang lagi marahin manajer restoran?
Resolusi Sebelum Ramadan
Mumpung sebentar lagi puasa, yuk kita perbaiki SOP (Standar Operasional Prosedur) hidup kita.
Turunkan Ego Superman-mu.
Akui kalau kamu lemah. Akui kalau kamu butuh backup dari Langit. Gunakan fitur Nasta'in setiap hari, bukan pas kepepet doang. Biar beban hidup dibagi dua: porsi usahamu, dan porsi pertolongan-Nya.
Stop Jadi Klien Musiman.
Jangan cuma datang pas susah. Malu dong sama kucing yang ngeong cuma pas laper. Sapa Tuhan pas kamu lagi happy. Lapor pas kamu lagi sukses. "Ya Allah, makasih ya, hari ini lancar."
Percayalah, kalau pas senang kita ingat Dia (Na'budu), pas susah Dia bakal gercep tolong kita (Nasta'in).
Jadi, mari nikmati hari libur ini dengan status baru:
Bukan Superman, bukan Klien, tapi Hamba yang Tahu Diri.
Selamat rebahan, jangan lupa setor muka (ibadah) sebelum minta jatah (doa)!
Your email address will not be published. Required fields are marked *