
Coba deh kamu buka aplikasi WhatsApp atau buku telepon di HP kamu sekarang. Scroll dari huruf A sampai Z. Dari "Aam Temen SD", "Budi Bengkel", "Cici Laundry", sampai "Zaky Yang Waktu Itu Ketemu di Halte". Kontak ada 800 biji, grup percakapan ada puluhan, tapi pas kamu lagi kepikiran masalah hidup jam satu malam, jempol kamu cuma bisa muter-muter bingung mau menekan tombol panggil ke siapa.
Keadaan ini absurd banget, tapi nyata buat masyarakat Indonesia zaman sekarang. Kita ini hidup di negara yang katanya paling ramah dan paling heboh di media sosial. Orang Indonesia itu hobi banget bikin grup, mulai dari grup arisan, grup alumni dari TK sampai S2, grup gowes minggu pagi, sampai grup "Panitia Qurban 2021" yang sampai sekarang belum dibubarin. Tapi giliran mau curhat masalah hati yang agak dalam, kenapa rasanya susahnya minta ampun ya?
Bukannya kita nggak punya kenalan, tapi nyari orang yang aman buat ditumpangi curhatan itu rintangannya lebih banyak dari ujian SIM C.
Mau chat temen SMA yang udah lama nggak ketemu, baru ngetik "P" doang, pasti dia langsung panik dan ngebatin, "Waduh, ini anak mau minjem seratus, nawarin MLM, atau nyebar undangan kawinan nih?"
Mau curhat ke temen kantor? Boro-boro dapet ketenangan, pas kamu baru bilang, "Duh gue capek banget deh...", dia langsung nyamber, "Sama! Eh btw file Excel kemarin udah lo kelarin belum?" Malah nambah beban pikiran. Belum lagi risiko kalau curhatan kamu di pantry sorenya langsung menyebar luas jadi topik utama saat nyeduh kopi saset.
Mau curhat ke orang tua atau grup keluarga? Ini yang paling sakral. Kamu baru cerita, "Pikiran aku lagi kalut banget nih," respon balik dari ibu atau tante kamu biasanya bukan bikin tenang di hati, tapi nasehat spiritual bertubi-tubi: "Makanya, kamu sih jarang sholat subuh di masjid, makanya pikiran kosong. Coba rukiyah sana." Bukannya lega, malah merasa makin berdosa.
Akhirnya, anak muda Indonesia punya jalan ninja baru: bikin second account di Instagram atau akun bodong di X. Di sana kita merasa bebas ngeluarinunek-unek. Tapi kocaknya, di second account pun kita masih milih-milih penonton. Dari 20 orang teman terdekat yang dimasukkan ke daftar Close Friends, kita masih mikir tiga kali sebelum mengunggah tulisan galau. "Duh, si ini ntar nge-judge nggak ya? Si itu ntar ngira gue caper nggak ya?"
Ujung-ujungnya, fenomena ini bikin kita sadar kalau punya ribuan teman di dunia maya itu beda banget sama punya satu orang yang beneran mau mendengarkan tanpa menghakimi. Kita pintar banget basa-basi di permukaan—bertukar stiker lucunya setengah mati, komen "Cakep amat!" di foto orang, tapi giliran hati lagi remuk, kita cuma bisa memeluk guling sambil menatap langit-langit kamar yang catnya mulai mengelupas.
Kalau kamu lagi ada di fase ini, santai aja, kamu nggak aneh kok. Ini cuma pengingat kecil kalau di tengah bisingnya dunia modern, manusia tetap butuh hubungan yang nyata. Mungkin malam ini kamu belum tahu mau curhat ke siapa. Tapi setidaknya, daripada pusing menyeleksi 800 kontak di HP, mending kamu seduh teh hangat, selonjoran, dan istirahat dulu. Siapa tahu besok, kamu menemukan satu teman yang pas buat diajak duduk lesehan sambil cerita jujur tanpa takut di-judge.
Your email address will not be published. Required fields are marked *