
Pernah nggak, kamu kepikiran kenapa otak manusia itu kalau disuruh belajar atau ngingat rumus matematika langsung ngelag, tapi kalau disuruh bikin konspirasi tingkat tinggi malah secepat kilat?
Otak kita ini sebenarnya canggih, tapi entah kenapa software bawaannya sering punya bug yang ajaib. Begitu ada hal sepele terjadi, bukannya mikir logis, otak kita malah otomatis menyalakan mode siaga satu dan memutar film thriller berdurasi panjang.
Padahal kalau dipikir-pikir, hampir semua drama yang kita takuti itu cuma ada di imajinasi sendiri.
Secara teori biologis, kebiasaan bikin skenario palsu ini sebenarnya warisan zaman purba. Dulu, kalau nenek moyang kita mendengar semak-semak bergoyang, mereka wajib curiga itu harimau supaya tidak mati dimakan.
Masalahnya, kita hidup di zaman modern. Semak-semak bergoyang sudah diganti dengan tetangga depan rumah yang lagi lirik-lirik ke arah halaman kita. Otak kita—yang masih memakai program purba—langsung menjerit, “Awas, dia pasti lagi merencanakan sabotase tanaman hias gue!”
Padahal si tetangga cuma lagi kebingungan nyari sandal jepitnya yang diseret kucing.
Saking hobinya otak kita merangkai naskah palsu, perbedaan antara apa yang kita pikirkan dan apa yang sebenarnya terjadi suka bikin mengelus dada. Mari kita lihat beberapa contohnya:
Dosen atau atasan ngeliatin tanpa senyum
Prasangka: “Mati gue. Laporan kemarin pasti salah total. Gue bakal dipecat, di-unfollow, terus diusir dari kontrakan.”
Realita: Beliau cuma lupa membawa kacamata minus dan lagi berusaha mereka-reka apakah yang di depannya itu muka orang atau tiang listrik.
Tukang parkir mendadak melambaikan tangan dengan heboh
Prasangka: “Gawat, rem gue blong! Gue mau nabrak gerobak batagor!”
Realita: Beliau cuma lagi berusaha mengusir lalat yang berputar-putar di depan jidatnya.
Grup WhatsApp mendadak hening tepat setelah kamu kirim chat
Prasangka: “Fix, mereka punya grup rahasia tanpa gue dan sekarang lagi mengetik kejelekan gue di sana.”
Realita: Semua anggota grup lagi sibuk berburu diskon barang di aplikasi belanja online karena jam menunjukkan pukul 12 malam.
Prasangka buruk itu pada dasarnya adalah kemampuan otak untuk menderita duluan sebelum penderitanya sendiri datang. Kita sudah nangis sesenggukan menyesali nasib, padahal belum ada musibah apa pun yang menimpa.
Ingat, sekitar 90% skenario buruk yang dibikin sama otak itu tidak pernah kenyataan. Kebanyakan cuma ilusi hasil gabungan antara capek, kurang tidur, dan kebanyakan nonton drama.
Daripada membiarkan otakmu terus-terusan jadi produser bioskop mini yang bikin jantung berdebar dan pikiran spaneng, lebih baik salurkan bakat halumu itu ke tempat yang benar. Tulis skenario palsu itu di laptop, kirim ke produser film, atau jadikan novel. Lumayan, daripada cuma dapat pusing dan emosi jiwa, mending dapat royalti!
Your email address will not be published. Required fields are marked *