
Mari kita jujur-jujuran. Di dunia ini, ada tipe manusia yang vibes-nya kayak Panitia Surga Jalur VVIP.
Kamu pasti tahu tipe ini.
Di grup WhatsApp keluarga, dia yang paling rajin kirim broadcast ancaman neraka jahanam jam 5 pagi (padahal kita baru bangun tidur, nyawa belum kumpul, udah ditakut-takutin siksa kubur).
Atau tipe "Akhi-Akhi" yang profil WA-nya gambar kuda perang atau pedang, bio-nya tulisan Arab gundul, tapi pas ditagih utang, jawabannya: "Afwan, Akhi. Qadarullah uangnya terpakai. Insya Allah ana ganti kalau rezeki cair. Antum harus tawakal ya."
Hah? Maksudnya gimana nih, Bambang? Duit gue yang lu pakai, kok gue yang disuruh tawakal?
Belum lagi tipe "Ukhti Polisi Fashion" yang kalau komen di IG orang pedesnya ngalahin Seblak Level 5.
"Afwan Ukhti, itu jilbabnya kurang turun 2 senti, nanti dihisab loh. Ana cuma mengingatkan demi kebaikan..." Tapi abis itu dia lanjut ghibah sama temennya di DM.
Gara-gara oknum-oknum model begini (yang sering kita sebut STMJ: Salat Terus Maksiat Jalan), banyak teman-teman kita yang akhirnya nyeletuk:
"Ah, males gue deket-deket agama. Orang yang kelihatan alim aja kelakuannya minus, mending gue jadi orang biasa tapi real, nggak munafik."
Bahkan yang lebih sedih, ada yang jadi ilfeel sama Islam, bahkan marah sama Allah. "Ya Allah, kok wakil-Mu di bumi nyebelin banget sih?"
Eits, tunggu dulu. Hold your horses (tahan kuda perangmu). Yuk kita luruskan logika ini sambil ngopi.
Teori "Bengkel dan Montir Magang"
Bayangkan Islam itu sebuah Bengkel Resmi Ferrari yang teknologinya canggih banget. Pemilik bengkelnya (Allah) Maha Tahu segala kerusakan mesin. Buku manualnya (Al-Qur'an) itu super lengkap, nggak ada cacatnya.
Nah, kita-kita ini—para jamaah, ustaz, santri, atau hijrah starter pack—adalah montir-montir yang kerja di situ.
Masalahnya:
Ada montir yang udah pro.
Ada montir yang baru belajar megang kunci inggris.
Ada montir yang sok tahu, mesin rusak malah diketok pakai palu.
Ada montir yang tangannya kotor penuh oli, tapi dia berusaha bersihin mesin kamu.
Kalau ada montir yang salah benerin mobil kamu sampai mogok, apakah kamu bakal bakar bengkelnya? Apakah kamu bakal bilang, "Ah, Ferrari itu mobil jelek!"?
Enggak dong. Mobilnya tetep keren, bengkelnya tetep canggih. Yang salah itu si Mamat, montir yang baru masuk kerja kemarin sore tapi udah gaya-gayaan.
Islam itu sempurna. Muslim-nya? Oh tentu tidak, Bestie. Kita ini masih produk beta version yang penuh bug dan dosa.
Jangan Salahin Dokter Kalau Pasiennya Masih Batuk
Ini poin paling penting yang sering bikin kita salah paham.
Masjid itu bukan Museum Orang Suci, tapi Rumah Sakit buat Orang Sakit.
Isinya ya orang-orang yang "sakit" jiwanya, yang "borok" dosanya, yang lagi berusaha sembuh. Jadi wajar kalau di sana kamu ketemu orang yang masih emosian, masih pelit, atau masih suka nyinyir. Ya namanya juga lagi berobat jalan, belum sembuh total!
Kalau kamu ketemu orang yang rajin salat tapi mulutnya tajam, anggap aja obatnya belum bereaksi sepenuhnya. Jangan sampai kamu mikir salatnya yang salah. Salatnya udah bener (sebagai obat), cuma mungkin dosis "khatam Al-Qur'an"-nya belum meresap sampai ke akhlak.
Ingat: Allah Itu Asik, Jangan Dibikin Ribet
Kadang kita lupa, saking seringnya ditakut-takutin sama "oknum dakwah keras", kalau Allah itu punya nama Ar-Rahman (Maha Pengasih) dan Ar-Rahim (Maha Penyayang) di urutan paling atas. Bukan "Maha Menghukum" duluan.
Nabi Muhammad SAW aja—manusia paling suci—itu orangnya asyik, santai, humoris, dan lembut banget. Beliau nggak pernah tuh judging orang sembarangan atau bikin orang lari ketakutan.
Jadi, kalau ada orang yang ngaku ngikutin Nabi tapi bawaannya marah-marah mulu kayak singa laper, berarti dia baru baca "judul" bukunya doang, belum baca isinya sampai tamat.
Jangan sampai kita unfollow Allah cuma gara-gara admin fanbase-nya di dunia ini kelakuannya norak. Rugi di kita, sumpah. Allah mah tetap Maha Keren dengan segala kebesaran-Nya.
Tips Menghadapi "Ukhti/Akhi Menyebalkan" Tanpa Kehilangan Iman
Kalau kamu lagi di fase "muak" sama orang berlabel agama, coba lakuin ini:
Pakai Fitur "Skip Ad" di Kehidupan Nyata: Kalau ada teman pengajian yang omongannya nyakitin, anggap aja dia iklan YouTube yang nggak bisa di-skip 5 detik pertama. Dengerin bentar, terus pencet skip di otak kamu. Ambil baiknya, buang toxic-nya.
Bypass Langsung ke "Pusat": Kalau kecewa sama manusia, langsung curhat ke Allah pas sujud. Bilang aja: "Ya Allah, hamba-Mu yang itu kok nyebelin banget ya? Ampunilah dia, atau minimal sibukkanlah dia dengan rezekinya biar nggak ngurusin hidup gue mulu." Curhat jalur langit itu lebih lega dan 100% rahasia terjamin.
Hargai Proses: Mungkin si "Akhi Galak" atau "Ukhti Judes" itu dulunya preman atau orang yang jauh lebih buruk. Sekarang mereka lagi belajar jadi baik, cuma caranya masih kaku kayak kanebo kering. Maafin aja, doain biar kanebo-nya cepet basah (hatinya melembut).
Jadi kesimpulannya…..
Jangan jadikan perilaku manusia sebagai tolak ukur kebenaran agama. Manusia tempatnya salah, lupa, dan khilaf.
Sementara Allah? Dia tempat pulang yang paling nyaman, Dzat yang paling ngerti kenapa kamu capek, dan satu-satunya yang nggak bakal pernah nge-prank hidup kamu.
Tetaplah berbuat baik, tetaplah ngopi, dan tetaplah dekat sama Allah, meskipun tetangga sebelah yang pake gamis itu kadang bikin darah tinggi.
Wallahu a'lam bish-shawab. (Dan hanya Allah yang lebih tahu kebenarannya—termasuk kebenaran kenapa utang si Akhi belum dibayar juga).
Your email address will not be published. Required fields are marked *