
Pernah nggak sih, Njenengan (Anda) tiba-tiba dapat chat WhatsApp dari teman lama? Teman yang sudah bertahun-tahun hilang ditelan bumi, bahkan pas kita nikahan atau sunatan anak pun dia gaib. Tiba-tiba, ting! Muncul notifikasi:
"Assalamualaikum, Bro. Apa kabar? Sehat?"
Jujur saja, sebagai manusia biasa yang imannya kadang naik turun (lebih sering turunnya), respons pertama kita pasti bukan terharu, tapi curiga. Otak kita langsung scanning berbagai kemungkinan:
Mau pinjam duit ("Dulu sih pinjam seratus, sekarang inflasi jadi lima ratus").
Mau nawarin MLM/Asuransi.
Mau nyebar undangan nikah (padahal pas kita nikah, dia nggak datang).
Salah kirim.
Inilah fenomena zaman now. Kalimat sakti "Apa Kabar" yang harusnya jadi jembatan silaturahmi, malah sering jadi "mukadimah" alias basa-basi busuk sebelum melancarkan modus operandi.
Sindrom "Robot" Penanya Kabar
Masalahnya, kita juga sering jadi pelakunya. Kita tanya "Gimana kabarmu?" ke tetangga atau teman ngopi, tapi kuping kita nggak siap mendengar jawaban jujur. Kita cuma berharap dijawab: "Alhamdulillah, baik." Titik. Selesai.
Coba bayangkan kalau mereka jawab jujur: "Waduh, lagi pusing nih, cicilan panci belum lunas, kucing sakit gigi, terus tadi pagi keselek biji salak."
Pasti kita bingung mau jawab apa. Paling cuma bisa bilang, "Ooo... yang sabar ya," sambil buru-buru nyeruput kopi biar nggak canggung. Kita tanya kabar cuma buat menggugurkan kewajiban sosial, kayak absen sidik jari di kantor; yang penting bunyi tit, urusan hati mah belakangan.
Seni Mendengarkan Tanpa "Adu Nasib"
Nah, di sinilah letak seni tingkat tingginya. Bertanya "Apa kabar" dengan niat tulus itu ibarat sedekah yang paling murah meriah. Nggak butuh amplop, nggak butuh kotak amal. Cuma butuh kuping dan hati yang legowo.
Tulus itu artinya ketika teman jawab dia lagi susah, kita mendengarkan. Nggak buru-buru memotong dengan jurus andalan: "Halah, itu mah mending! Lha aku lho, lebih parah..."
Tolong ya, ini bukan lomba menderita. Nggak ada piala buat orang yang hidupnya paling susah. Kalau ada teman curhat, didengerin aja. Anggap saja kita lagi jadi tong sampah emas—menampung keluh kesah biar beban dia agak enteng. Itu pahalanya gede lho, bisa menyaingi pahala wiridan sambil ngantuk.
Kembali Menjadi Manusia (Humanis, Bukan Human-Robot)
Jadi, yuk ah, kita belajar lagi jadi manusia. Mumpung masih dikasih napas. Sekali-kali kalau ketemu teman, atau pas lagi ngumpul di majelis, tanya "Apa kabar?" sambil tatap matanya (jangan tatap layar HP).
Tanya karena kita benar-benar peduli dia masih napas atau nggak, bahagia atau lagi dikejar debt collector. Bukan tanya karena ada maunya.
Ingat, Gus Dur pernah bilang, "Gitu aja kok repot." Hidup ini sudah ruwet, jangan ditambah ruwet dengan kepalsuan. Kalau tanya kabar ya yang tulus. Kalau mau pinjam duit ya... tolong tahu diri (hehehe).
Mari kita mulai hari ini. Coba tanya kabar orang di sebelah Anda, istri, suami, atau anak. Siapa tahu, di balik senyum mereka, ada cerita yang butuh didengarkan ditemani segelas kopi hitam dan gorengan hangat.
Wallahul Muwaffiq ila Aqwamit Tharieq. (Semoga kita nggak jadi orang yang cuma datang pas butuhnya doang).
Your email address will not be published. Required fields are marked *