
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Kepada para jamaah yang budiman, yang cita-citanya setinggi langit tapi jam bangun tidurnya masih nunggu matahari setinggi galah.
Mari kita muhasabah (introspeksi) sebentar sambil ngopi.
Pernah nggak kepikiran, kenapa ada orang yang sukses banget, hidupnya barokah, rezekinya ngalir kayak air zam-zam? Sementara di sisi lain, ada orang yang hidupnya gitu-gitu aja, ruwet kayak kabel headset di dalam saku?
Padahal, kalau urusan doa, dua-duanya sama-sama kenceng!
Coba cek pas malam Jumat atau pas lagi kepepet utang.
Si Pemenang (sebut saja Kang Sukses) doanya: "Ya Allah, beri hamba rezeki yang melimpah dan berkah."
Si Pecundang (sebut saja Kang Halu) doanya: "Ya Allah, beri hamba rezeki yang melimpah, kalau bisa turun dari langit sekarang juga, Amiin."
Tuh kan? Judul proposalnya sama. Sama-sama minta sukses. Sama-sama pengen masuk surga. Sama-sama pengen punya mantu idaman.
Dalam buku Atomic Habits, Gus James Clear (ulama motivasi dari negeri Barat) menampar kita dengan fakta pahit:
"Pemenang dan Pecundang itu punya GOAL (Tujuan) yang sama."
Coba lihat lomba lari 17 Agustusan. Apakah yang juara 1 pengen menang? Iya.
Apakah yang juara harapan 3 pengen menang? Iya juga. Nggak ada orang ikut lomba cita-citanya pengen kalah.
Jadi, kalau doanya sama, niatnya sama, tujuannya sama, kenapa nasibnya beda?
Jawabannya satu: Beda di "SISTEM" alias "Jadwal Harian".
1. Doa vs. Wiridan (Routine)
Bedanya orang sukses sama orang zonk itu bukan di khusyuk-nya doa, tapi di Wiridan Kehidupan-nya.
Kalau Kang Halu:
Goal: Pengen kurus 10 kg.
Jadwal Harian: Bangun siang, sarapan nasi uduk (gorengan 3), siang makan Padang (kuah banjir), malam rebahan sambil scroll TikTok liatin orang senam.
Hasil: Timbangan malah geser ke kanan.
Kalau Kang Sukses:
Goal: Pengen kurus 10 kg (Dia malah jarang ngomongin ini).
Jadwal Harian: Bangun subuh, jalan kaki 15 menit, kurangi gula, makan sayur. Dilakukan tiap hari, mau hujan mau panas.
Hasil: Tiba-tiba celananya kedodoran.
Gusti Allah itu Maha Adil, Kang. Dia melihat siapa yang paling riyadhoh (berlatih/berusaha). Doa itu "proposal", jadwal harian itu "tindak lanjut". Malaikat juga bingung kalau ada orang kirim proposal tiap hari tapi pas didatengin ke rumah, orangnya lagi tidur melulu.
2. Bahagia Itu Eceran, Bukan Grosiran
Ini penyakit kita. Kita sering mikir: "Aku bakal bahagia KALAU nanti saldo rekening udah 1 Miliar."
Akibatnya apa? Selama saldonya masih 500 ribu, kita cemberut terus. Kita merasa gagal. Hidup jadi neraka menunggu surga yang belum tentu datang.
Kata Gus James Clear, ubah pola pikirnya: Fokus ke Sistem.
Kalau kamu punya sistem "Nabung 10 ribu tiap hari", maka setiap kali kamu masukin duit ceban ke celengan, kamu BERHAK bahagia. Kamu sudah menang hari ini!
Hari ini berhasil nggak makan gorengan? Alhamdulillah, menang!
Hari ini berhasil baca buku 2 lembar? Alhamdulillah, menang!
Bahagia itu diecer tiap hari, Kang. Jangan nunggu nanti pas wisuda atau pas nikah doang. Keburu tua, keburu gigi ompong.
3. Jangan Jadi "Ahli Hisab" (Hitungan Melulu)
Si Pecundang biasanya kebanyakan ngitung (hisab).
"Waduh, kalau aku lari pagi sekarang, butuh 3 tahun buat kurus. Lama amat ya? Ah, mending tidur lagi."
Si Pemenang itu penganut aliran Al-Istiqomah.
Dia nggak peduli hasil akhirnya kapan. Pokoknya hari ini jadwalnya lari, ya lari. Hari ini jadwalnya kerja, ya kerja. Urusan hasil serahkan sama Yang Di Atas.
Ingat kaidah fiqih jalanan: "Hasil tidak akan mengkhianati usaha, tapi usaha yang cuma di status WA tidak akan membuahkan hasil."
Kesimpulan: Cek Jadwalmu Ba'da Subuh
Jadi, Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah...
Mulai sekarang, kurangi pamer resolusi tahun baru yang muluk-muluk. Nggak usah teriak-teriak "Tahun ini gue mau jadi Sultan!" kalau beli kopi sachet aja masih ngutang di warung Mpok Ijah.
Cek aja jadwal harianmu:
Bangun jam berapa?
Berapa jam main HP?
Berapa jam belajar/kerja beneran?
Berapa rakaat/halaman yang dikerjakan?
Perbaiki jadwal itu. Bikin sistem yang masuk akal. Lakukan istiqomah walau sedikit (Teori 1% tadi loh).
Ingat, Gusti Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu mau mengubah jadwal bangun pagi dan kebiasaan malasnya sendiri.
Sekian, semoga kita semua jadi pemenang jalur "Jadwal Harian", bukan pemenang jalur "Halu".
Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Tharieq.
(Semoga Allah menuntun kita ke jalan yang paling lurus, bukan jalan rebahan).
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Your email address will not be published. Required fields are marked *