
Jam menunjukkan pukul 06.30 pagi. Suasana hening. Tidak ada suara, bahkan cicak di dinding pun sepertinya menahan napas. Ini bukan ritual pemanggilan arwah, ini adalah ritual yang jauh lebih sakral: Melukis Alis.
Bagi sebagian orang, alis hanyalah rambut di atas mata untuk menahan keringat. Tapi bagi bagi kaum Hawa? Oh, tidak semudah itu, Ferguso. Alis adalah koentji. Alis adalah bingkai wajah. Alis adalah penentu apakah hari ini kita akan terlihat seperti bidadari turun dari kayangan atau seperti Angry Bird yang lagi PMS.
Bab 1: Arsitektur Wajah Tingkat Dewa
Mari kita jujur, menggambar alis itu butuh skill setara insinyur sipil.
Kita harus mengukur sudut kemiringan, ketebalan, dan panjang ekor alis. Salah tarik garis satu milimeter saja, muka kita bisa berubah drastis.
Kepanjangan dikit: Jadi kayak pemain opera China.
Ketebelan dikit: Jadi Shin-chan.
Ketinggian dikit: Kelihatan kaget terus seharian.
Tantangan terbesarnya adalah SIMETRIS. Konon, cuma Tuhan dan tukang cetak foto paspor yang bisa bikin muka simetris sempurna. Kita? Kita cuma bisa berusaha supaya alis kiri dan kanan itu saudaran kembar. Tapi seringnya, mereka malah kayak musuhan. Yang kiri "on fleek" menukik tajam, yang kanan malah rebahan santai kayak ulat bulu kekenyangan.
Tapi setelah 20 menit berjuang, menahan napas, dan menghapus ulang pakai cotton bud yang dibasahi ludah (iyuh, tapi efektif), akhirnya... JADI! Paripurna. Cantik. Siap menaklukkan dunia.
Bab 2: Musuh Terbesar Wanita: Helm SNI (Standar Ngerusak Image)
Kamu keluar rumah dengan percaya diri. Langkah kakimu ringan. Angin sepoi-sepoi menerpa wajah... eh tunggu, angin?
Di sinilah tragedi dimulai. Kamu harus naik ojek online atau motor sendiri. Kamu menatap benda bulat bernama HELM itu dengan tatapan nanar. Itu bukan pelindung kepala, itu adalah penghapus dosa... eh, penghapus alis.
Kamu mencoba teknik "memakai helm tanpa menyentuh wajah". Kamu meregangkan tali helm sekuat tenaga sampai tangan gemetar, lalu memasukkan kepala dengan hati-hati seolah-olah kepalamu adalah bom waktu.
Plung. Masuk. Aman? Sepertinya aman.
Lalu abang ojolnya ngegas. Ngueng!
Angin menerpa dari segala penjuru. Helm bergoyang. Busa helm yang apek itu mulai menggesek dahi. Kamu cuma bisa pasrah. Di dalam hati kamu berdoa, "Ya Tuhan, lindungilah alisku dari kepunahan."
Bab 3: Realita Pasca-Perjalanan (The Walk of Shame)
Sampai di tujuan, kamu membuka helm. Momen kebenaran. Kamu buru-buru ngaca di spion motor.
Dan... Jeng jeng jeng!
Dedikasi 20 menit tadi sirna sudah.
Ujung alis kanan hilang, terhapus busa helm.
Alis kiri smudge (mleber) ke atas jidat, seolah-olah dia mau kabur dari kenyataan.
Sekarang kamu punya alis model baru: Model "Barusan Tawuran".
Angin tidak menghargai senimu. Helm tidak peduli pada estetikamu. Kamu berdiri di parkiran dengan alis buntung sebelah, sementara dunia tetap berputar. Sakit, tapi tidak berdarah.
Tips Bertahan Hidup (Bermanfaat & Berisi)
Supaya penderitaan ini tidak berlanjut, berikut adalah beberapa tips survival untuk menjaga marwah per-alis-an duniawi:
Teknik "Sulam Alis" Versi Miskin: Gunakan brow pomade atau pensil alis yang waterproof dan badai-proof. Kalau perlu yang anti-badai katerina. Jangan pakai pensil alis yang lembek, nanti kena keringat dikit langsung luntur kayak harapan palsu.
Kertas Minyak is My Bestie: Sebelum gambar alis, tap-tap dulu area alis pakai kertas minyak atau bedak tabur. Alis yang digambar di kulit berminyak itu ibarat nulis di atas gorengan, pasti luntur.
Sedia Payung Sebelum Hujan, Sedia Pensil Sebelum Gundul: JANGAN PERNAH keluar rumah tanpa membawa "P3K" (Pertolongan Pertama Pada Kebotakan). Simpan satu pensil alis di tas, satu di laci kantor, dan satu di jok motor. Just in case.
The Power of Jari Kelingking: Kalau pas ngaca alisnya mleber, gunakan jari kelingking untuk merapikan (hapus bagian yang keluar jalur). Ini teknik darurat paling ampuh.
Pesan Moral….
Wahai para pejuang alis, jangan bersedih.
Kejadian alis luntur kena helm atau hilang sebelah kena angin itu mengajarkan kita satu hal penting tentang hidup: Tidak ada yang abadi di dunia ini, apalagi makeup.
Mungkin hari ini alismu tidak simetris. Mungkin yang satu tajam setajam silet, yang satu tumpul setumpul otak pas ujian matematika. Tapi nggak apa-apa. Itu bukti bahwa kamu manusia. Kamu berusaha, kamu berjuang, dan kamu tetap berangkat menjalani hari meski diterpa angin dan helm bau apek.
Lagipula, kalau ada orang yang menegur, "Kok alisnya beda sebelah?", jawab saja dengan elegan:
"Sengaja. Ini konsepnya asimetris kontemporer. Kamu nggak bakal ngerti seni."
Tetap semangat, Bestie! Pantang pulang sebelum alis (digambar ulang) jadi!
Your email address will not be published. Required fields are marked *