
Jujur saja, hidup zaman sekarang itu ribet.
Pagi pusing mikirin cicilan, siang overthinking lihat Instagram teman yang liburan terus, malamnya susah tidur karena kebanyakan kopi kekinian. Kita semua sibuk mencari "healing", ikut yoga mahal, atau unduh aplikasi meditasi berbayar cuma buat nyari ketenangan.
Padahal, ada satu kelompok manusia di Indonesia yang hidupnya kelihatannya santai banget, ketawanya paling keras, dan kopinya paling kental. Ya, siapa lagi kalau bukan warga NU (Nahdlatul Ulama).
Kenapa sih organisasi yang isinya "kaum sarungan" ini malah terlihat lebih bahagia daripada kita yang hustle culture ini? Ini analisis "nakal"-nya.
Kamu bayar ratusan ribu buat sesi curhat atau support group? Warga NU punya solusinya gratis: Tahlilan & Yasinan.
Coba pikir, konsepnya jenius. Kamu kumpul bareng tetangga, dzikir biar hati tenang (meditasi), ngobrol ngalor-ngidul (sosialisasi), dan pulangnya... dapat besek (makan gratis!).
Di saat anak muda sibuk cari validasi, warga NU sibuk bagi-bagi nasi. Nggak ada tuh cerita warga NU kesepian atau kelaparan sendirian di kost. Sistem support-nya level dewa. Kalau kamu sedih, mereka datang bawa doa. Kalau kamu lapar, mereka datang bawa soto.
Di media sosial, orang salah ngomong dikit langsung cancel culture. Dikit-dikit lapor polisi, dikit-dikit bikin utas klarifikasi. Capek, kan?
Masuklah ke dunia pesantren atau tongkrongan kiai NU. Isinya roasting semua! Guyonan kiai NU itu kadang pedas, "nakal", dan menohok, tapi anehnya nggak ada yang sakit hati.
Motto mereka seolah-olah: "Hidup sudah susah, kalau nggak diketawain, kita yang gila."
Mereka mengajarkan kita seni menertawakan diri sendiri. Kalau kamu bisa tertawa saat dompet tipis atau saat sandalmu hilang di masjid, berarti level spiritualmu sudah tinggi (atau saking pasrahnya). NU mengajarkan bahwa beragama itu harus riang gembira, bukan tegang urat leher.
Lihat Mark Zuckerberg yang bangga pakai kaos polos tiap hari biar nggak ribet? Kiai NU sudah mempraktikkan "minimalisme" itu sejak abad lalu lewat Sarung.
Sarung itu simbol kebebasan. Adem (sirkulasi udara lancar), fleksibel (bisa buat sholat, bisa buat selimut, bisa buat "nyabet" maling), dan egaliter. Mau kiai besar atau santri baru, bawahannya sama: kain kotak-kotak.
Ini sindiran halus buat kita yang suka pusing mikirin OOTD. NU bilang: "Yang penting itu isinya, bukan bungkusnya."
Oke, ini agak nakal. Tapi pernah lihat rapat NU tanpa kopi dan asbak? Mustahil.
Ini bukan cuma soal kafein, tapi soal diplomasi meja kopi. Masalah negara, masalah umat, sampai masalah jodoh, semua bisa selesai di depan secangkir kopi hitam (yang ampasnya bisa buat ngelukis batik).
Mereka mengajarkan bahwa seberat apapun masalah bangsa ini, jangan lupa nyeruput dulu. Pause sebentar. Jangan panik. Dunia nggak akan kiamat cuma karena kamu telat deadline.
Jadi, kenapa kamu diam-diam butuh NU? Karena di tengah dunia yang menuntut kamu harus sempurna, kaya raya, dan aesthetic, NU menawarkan tempat di mana kamu boleh jadi manusia biasa.
Kamu boleh datang dengan dosa-dosamu, dengan kebingunganmu, bahkan dengan celana jeans sobekmu. Mereka nggak akan menghakimi. Paling cuma ditanya: "Sampéyan wis ngopi urung?" (Kamu sudah ngopi belum?).
Dan percayalah, pertanyaan sederhana itu seringkali lebih menyembuhkan daripada motivator manapun.
Jadi, kapan mau ikut ngopi?
Your email address will not be published. Required fields are marked *