
Pernah nggak, lagi bengong malam-malam, HP kamu getar kencang banget sampai hampir meluncur dari kasur? Pas kamu angkat dengan wajah penuh harapan—siapa tahu dari gebetan atau kabar transferan misterius—ternyata itu cuma notifikasi dari 14 grup WhatsApp. Isinya? Kombinasi antara stiker kucing joget, ucapan "Selamat Pagi" pakai gambar bunga mawar berembun yang dikirim jam tiga sore, sama promo diskon makanan yang syarat dan ketentuannya lebih rumit dari ujian kalkulus.
Di zaman sekarang, HP kita itu rame banget. Notifikasi masuk tiap detik tanpa henti. Ada grup alumni SD, grup alumni SMP, grup kantor utama, grup kantor tanpa bos, grup mabar, sampai grup arisan yang kamu sendiri lupa kapan pernah ikutannya. Belum lagi notifikasi dari Instagram, TikTok, sama X. Story baru diunggah lima menit, yang ngeliat udah ratusan. Pokoknya kalau dilihat dari luar, hidup kamu kelihatannya populer banget, sibuk luar biasa, dan jauh dari kata kesepian.
Tapi anehnya, begitu layar HP itu dimatiin dan kamar kembali gelap, rasa hampa tiba-tiba datang tanpa permisi.
Coba deh jujur, dari ratusan kontak yang tersimpan di HP kamu, berapa banyak yang bisa kamu chat jam dua malam waktu kamu lagi ngerasa hampa atau panik mikirin masa depan? Paling pas kamu buka aplikasi percakapan, kamu cuma bisa scroll ke atas dan ke bawah dengan bingung. Mau chat temen lama, takut dikira mau pinjam seratus. Mau chat temen kantor, takut dibalas "Eh sekalian revisi file yang kemarin ya". Mau bikin status galau, takut dikira caper atau malah di-screenshot terus masuk grup ghibah.
Akhirnya, kamu cuma bisa menghela napas, matiin HP, terus meluk guling sambil mikir, "Kok rame banget, tapi gue tetep kerasa sendiri ya?"
Fenomena ajaib ini terjadi karena kita sering ketuker antara 'terhubung' dan 'dekat'. Terhubung itu cuma butuh kuota internet dan sinyal full bar, sedangkan dekat itu butuh rasa aman dan kejujuran. Kita punya ribuan panggung buat tampil, tapi makin sedikit 'ruang belakang' buat lepas topeng dan jadi diri sendiri.
Saling kirim stiker di grup memang bikin ketawa sebentar, tapi nggak bikin hati hangat. Saling kasih like di medsos itu gampang banget, tapi nggak otomatis bikin orang paham gimana capeknya kita hari ini. Kita ini ibarat orang yang kehausan di tengah lautan: dikelilingi air di mana-mana, tapi nggak ada satu tetes pun yang bisa diminum.
Jadi kalau belakangan ini kamu merasa sepi di tengah riuhnya bunyi notifikasi, tenang, kamu nggak sendirian kok. Kamu cuma lagi rindu obrolan yang beneran. Obrolan yang nggak perlu pakai filter, nggak takut di-judge, dan nggak cuma basa-basi di permukaan.
Mungkin sudah saatnya kita sedikit ngurangin waktu buat scrolling, lalu mulai ngajak ngobrol satu orang temen secara langsung—entah itu sambil minum kopi saset di teras rumah, atau sekadar duduk santai tanpa ada layar HP yang nyala di antara kalian. Karena pada akhirnya, hati kita itu nggak butuh sinyal , melainkan relasi nyata yang bikin tenang.
Your email address will not be published. Required fields are marked *