
Pernah nggak sih kamu ngalamin situasi panik level dewa: Tiba-tiba dikabarin kalau camer (calon mertua) atau bos besar mau main ke rumah 30 menit lagi?
Apa yang terjadi? Terjadilah "The Great Panic Cleaning". Baju kotor yang numpuk di kursi (yang kalau malam sering dikira hantu) langsung dilempar ke lemari. Piring bekas mie instan dicuci kilat. Debu di meja diusap pakai tisu basah. Pokoknya, yang penting kelihatan rapi dulu.
Nah, sadar nggak sadar, Nisfu Sya'ban itu momennya mirip begitu.
Sebentar lagi Tamu Agung kita, bulan Ramadan, mau datang. Masalahnya, "rumah" kita—alias hati ini—kondisinya masih kayak gudang pecah belah. Berantakan, pengap, dan banyak "barang" nggak penting yang masih kita simpan.
Malam ini adalah malam Nisfu Sya'ban. Di malam tutup buku catatan amal tahunan ini, yuk kita cek isi gudang hati kita. Jangan-jangan isinya horor semua.
1. Kardus Bertuliskan "Dendam 2019"
Coba cek pojokan hati kamu. Masih ada nggak kotak berdebu isinya kekesalan sama teman yang minjam duit tapi pura-pura lupa? Atau sakit hati sama mantan yang nikah duluan?
Ini konsepnya sama kayak nyimpen kabel charger HP Nokia jadul. Disimpen menuh-menuhin laci, padahal HP-nya udah nggak ada. Buat apa? Dendam itu berat, Bestie. Bikin punggung pegel, bikin wajah cepat tua.
Malam ini, coba praktekkan metode Marie Kondo versi syariah: Does this dendam spark joy? Kalau enggak (ya pastinya enggak lah!), buang! Maafkan. Ikhlaskan. Anggap saja sedekah perasaan.
2. Debu-debu Halus Bernama "Ghibah Tipis-tipis"
Ini nih yang paling susah dibersihin. Kalau dosa besar itu ibarat sampah kulkas (kelihatan dan bau), ghibah itu ibarat debu di atas lemari. Nggak kelihatan, tapi kalau diusap... buset, tebal banget!
Awalnya cuma mau curhat, eh kebablasan ngomongin aib orang sampai tiga paragraf. Malam ini, ayo kita vacuum cleaner itu semua. Minta ampun sama Allah, dan kalau berani (dan nggak bikin perang dunia), minta maaf sama orangnya. Kalau nggak berani, doakan yang baik-baik buat dia.
3. Tumpukan "Janji Palsu"
Di gudang hati, sering ada tumpukan barang rongsokan bernama "Wacana".
"Insya Allah ya, nanti aku bantu," (padahal dalam hati males).
"Otw nih," (padahal masih handukan).
Malam Nisfu Sya'ban adalah momen di mana catatan amal kita disetor ke "Kantor Pusat". Malu dong kalau laporannya isinya janji-janji kosong melulu. Yuk, mulai malam ini, kalau iya bilang iya, kalau enggak bilang enggak. Kurangi beban utang janji.
Kenapa Harus Malam Ini?
Karena besok-besok mungkin kita lupa lagi. Karena Ramadan itu bulan lari maraton ibadah. Kalau kita masuk Ramadan sambil bawa "ransel" isinya dendam, iri, dengki, dan sombong, dijamin lari kita bakal ngos-ngosan. Berat!
Nisfu Sya'ban adalah Rest Area sebelum masuk jalan tol Ramadan.
Malam ini, mari kita "beres-beres gudang".
Bukan biar dipuji orang kalau kita orang suci. Bukan.
Tapi biar hati kita lega. Biar kita bisa tidur nyenyak tanpa mikirin kesalahan orang lain. Biar nanti pas Ramadan datang, ruang tamu hati kita sudah wangi, bersih, dan luas untuk menampung pahala.
Jadi, sebelum tidur malam ini, tarik napas panjang...
Sebut nama orang yang paling nyebelin dalam hidupmu, lalu bisikkan pelan-pelan:
"Yaudah lah, gue maafin. Gue mau happy."
Selamat Nisfu Sya'ban. Selamat bersih-bersih!
Your email address will not be published. Required fields are marked *