
Pernah tidak kamu merasa hidup ini seperti ikut undian berhadiah di toko kelontong? Sudah beli barang berdus-dus demi mengumpulkan kupon, pas diundi nomormu dipanggil dengan megah, tapi hadiahnya cuma payung lipat warna merah gambarnya logo sabun cuci. Kerja kerasnya sekelas kontraktor jalan tol, eh hasilnya cuma sekelas uang kembalian permen dua biji.
Coba lihat perjuangan Kang Sholeh dari desa sebelah. Dia nekat meminjam modal buat bisnis ternak lele bioflok yang katanya hyper-modern. Dari pagi, siang, sampai malam dia nongkrong di pinggir kolam, memutarkan musik klasik buat lelenya biar tidak stres, sampai menghafalkan nama panggilan 5.000 ekor lele satu per satu. Usahanya sudah sekelas profesor kelautan.
Pas hari panen tiba, bukannya lelenya gemuk-gemuk bak ikan paus, lele-lelenya malah bentuknya melengkung mirip sosis goreng dan mogok makan gara-gara kaget mendengar suara petasan hajatan tetangga. Hasil penjualan lele sebulan bahkan tidak cukup buat mengganti uang pakan. Kecewa? Jelas. Tapi kalau mau marah sama lele, ya mana paham lelenya diajak musyawarah mufakat.
Atau cerita Mas Mabrur yang ingin banting setir jadi programmer handal. Enam bulan dia mengurung diri di kamar, kursus online siang malam, minum kopi hitam berliter-liter sampai asam lambungnya naik level vivid. Dia latihan mengetik kuis coding sampai jarinya kaku mirip ceker ayam goreng.
Pas hari wawancara kerja di perusahaan rintisan papan atas, pewawancaranya malah tidak menanyakan bahasa pemrograman sama sekali. Mas Mabrur cuma ditanya: “Mas, bisa nyetir mobil manual dan benerin AC kantor yang bocor tidak?” Usaha sekelas insinyur Silicon Valley, posisi yang ditawarkan malah jadi tenaga serba bisa di kantor cabang.
Di sinilah gunanya kearifan lokal ala warga nahdliyin: Ilmu Ngenger pada Takdir.
Kita ini sering lupa kalau kita cuma figuran di panggung sandiwara bumi, tapi lagaknya sering melebihi sutradara. Begitu skenario hidup tidak sesuai corak yang kita inginkan, kita langsung baper berhari-hari, membuat tulisan galau di media sosial pakai latar belakang foto jalanan malam hari yang kabur.
Padahal, kalau usahamu yang sudah mati-matian itu berujung zonk, cara paling selamat adalah menerapkan tiga rumus guyon pesantren berikut:
Anggap Lagi Menabung Poin Barokah: Kalau usahamu tidak menghasilkan uang tunai hari ini, anggap saja gajimu ditransfer langsung ke rekening akhirat. Lumayan, tidak ada potongan biaya administrasi dan bebas biaya transfer antarbank!
Jurus Tawadhu Tingkat Tinggi: Kalau usahamu langsung berhasil 100%, bisa-bisa dadamu membusung tinggi dan jalannya meruncing ke atas mirip ayam jago. Kegagalan itu cara halus Gusti Allah mengingatkan: “Heh, santai! Kamu itu cuma hamba, bukan Dewa Thor!”
Prinsip Kopi Hitam dan Mendoan: Segagal-gagalnya usahamu hari ini, selama masih bisa menyeduh kopi hangat dan mengunyah mendoan yang minyaknya masih menetes, hidupmu itu sebenarnya masih jauh lebih mewah daripada raja zaman kuno yang tidak kenal es teh manis.
Jadi, kalau hari ini usahamu kalah telak sama nasib dan hasilnya banting harga, tidak usah buru-buru berniat pindah planet. Elus dada, senyum lebar-lebar di depan kaca, lalu bisikkan ke diri sendiri: “Hari ini takdirnya lagi humoris, besok kita coba melobi langit lagi!”
Toh, orang yang paling awet muda itu bukan orang yang perawatan wajah jutaan rupiah, tapi orang yang paling pintar mengetawakan kesialannya sendiri sambil terus melangkah!
Your email address will not be published. Required fields are marked *