
Pernah nggak sih, Bun? Malam sebelumnya kita sudah scroll Instagram pakar parenting sampai jam 12 malam. Kita sudah niat 100% dalam hati:
"Besok aku akan jadi Ibu Peri. Aku akan validasi perasaan anak. Aku akan berlutut sejajar mata anak. Aku akan bicara selembut kapas."
Eh, besok paginya... baru jam 7 pagi, anak sudah tumpahin sereal ke lantai yang baru banget dipel, sambil nendang mangkok kucing.
Dalam hitungan detik, Ibu Peri yang sudah di-training semalam mendadak resign. Yang keluar malah Mode Reog Ponorogo. Mata melotot, suara naik 5 oktaf, dan keluar deh jurus auman singa yang bikin tetangga sebelah ikut tiarap.
Selamat datang di klub "Reog Parenting". Anda tidak sendirian, Bestie.
Kenapa Sih Susah Banget Jadi "Gentle"?
Mari kita jujur-jujuran. Gentle parenting itu konsepnya indah banget. Tapi, konsep itu dibuat dengan asumsi orang tuanya sudah tidur 8 jam, sudah makan enak, rekening aman, dan waras.
Realitanya? Kita tidur cuma 4 jam (itu pun kebangun kena tendangan maut si Kecil), cucian numpuk kayak Gunung Himalaya, dan deadline kerjaan menanti.
Otak kita itu kayak HP yang baterainya tinggal 5% tapi dipaksa buka aplikasi berat. Ya nge-hang, lah! Akibatnya, alih-alih bilang:
"Adik sedih ya susunya tumpah? Sini Bunda peluk..."
Yang keluar dari mulut malah:
"YA AMPUUUN DEK! KAN UDAH DIBILANGIN DUDUK DIAM! INI LANTAI BARU DIPEL LHOOO!" (diiringi sound effect petir menyambar).
Panduan Bertahan Hidup (Biar Reog Nggak Keseringan Keluar)
Tenang, menjadi "Reog" sesekali itu manusiawi. Kita bukan robot. Tapi biar darah tinggi nggak kumat terus, coba deh trik receh tapi ampuh ini:
1. Teknik "Kabur ke Toilet"
Saat emosi sudah di ubun-ubun dan Mode Reog mau loading, JANGAN NGOMONG.
Langsung putar balik, masuk kamar mandi, kunci pintu.
Ngapain? Tarik napas. Teriak tanpa suara. Atau makan cokelat yang diam-diam disembunyikan di lemari sabun. Beri waktu otak Anda 2 menit buat reboot.
2. Turunkan Standar (Serendah Mungkin)
Rumah berantakan? Biarin. Mainan kesebar kayak ranjau darat? Lompatin aja. Anak belum mandi sore tapi udah ngantuk? Lap tisu basah, ganti baju, kelar.
Ingat: Ibu/Ayah yang waras lebih penting daripada rumah yang kinclong.
3. Mantra Ajaib: "Ini Cuma Fase, Bukan Selamanya"
Anak tantrum guling-guling di mall? Malu sih, pasti. Tapi ingat, nanti pas dia umur 20 tahun, dia nggak bakal guling-guling lagi kok minta dibeliin iPhone. (Semoga ya).
Tarik napas, senyum kecut ke orang-orang yang ngeliatin, angkut anak kayak karung beras, bawa pulang.
Kalau Terlanjur Jadi Reog, Gimana?
Nah, ini poin paling penting dan paling bermanfaat.
Kalau tadi pagi terlanjur ngebentak atau marah meledak-ledak, jangan habiskan malam dengan overthinking dan merasa jadi orang tua gagal. Itu racun!
Lakukan teknik "The Repair" (Perbaikan):
Tunggu suasana adem.
Dekati anak, peluk dia.
Bilang jujur: "Maafin Bunda/Ayah ya tadi teriak. Tadi Bunda capek banget dan kaget susunya tumpah. Bunda salah karena teriak. Bunda sayang banget sama Adek."
Percaya deh, anak-anak itu pemaaf ulung. Hati mereka luas banget. Momen minta maaf ini justru mengajarkan mereka bahwa orang dewasa juga bisa salah dan berani minta maaf. Itu gentle parenting yang sesungguhnya!
Jadi, wahai para alumni Reog Parenting, jangan keras-keras sama diri sendiri. Tarik napas. Minum kopi (atau teh manis anget).
Besok kita coba lagi jadi Ibu/Ayah Peri. Kalau gagal lagi? Ya coba lagi lusa. Namanya juga usaha! Semangat!
Your email address will not be published. Required fields are marked *