
Bayangkan skenario ini: Kamu lagi asyik rebahan sambil scroll linimasa medsos. Tiba-tiba, ada notifikasi WhatsApp dari teman lama atau rekan kerja. Tulisannya singkat:
"Halo, Budi." Kamu membalas, "Iya, halo. Ada apa nih?"
Lalu... hening. Di bawah namanya muncul tulisan "typing..." (sedang mengetik). Hilang. Muncul lagi "typing...". Hilang lagi. Lima belas menit berlalu dan pesan intinya belum juga mendarat. Di titik ini, otakmu sudah traveling ke mana-mana. Ini orang mau pinjam duit? Mau ngajak MLM? Atau mau ngabarin kalau aku menang undian panci? Selamat, kamu baru saja menjadi korban penyanderaan waktu digital!
Di era di mana notifikasi menyerang kita setiap 5 detik sekali, definisi "sopan santun" itu sudah bergeser drastis. Kalau dulu sopan santun diukur dari seberapa panjang basa-basi dan seberapa dalam kita membungkukkan badan, sekarang aturannya jauh lebih praktis: Menghargai waktu orang lain adalah bentuk kesopanan tertinggi.
Mari kita bedah aturan main Netiket (Etiket Internet) generasi baru yang diam-diam sudah disepakati bersama, tapi jarang tertulis ini. Kalau kamu membaca ini sambil senyum-senyum, fiks, kita satu frekuensi!
1. Dilarang Keras Mengirim "P" atau Cuma Nyapa Tanpa Konteks
Tolong catat ini baik-baik: Mengirim pesan yang cuma berisi "P", "Ping!", "Halo", atau "Lagi sibuk nggak?" tanpa langsung memberitahu maksudnya adalah sebuah kejahatan overthinking.
Orang yang menerima pesan itu jadi serba salah. Mau dijawab "Nggak sibuk", takutnya ujung-ujungnya disuruh ngerjain tugas. Mau dijawab "Sibuk", takutnya ternyata dia mau bagi-bagi tiket konser gratis.
Netiket yang benar: Langsung gabungkan sapaan dan tujuan dalam satu napas.
"Halo Bro, lagi sibuk nggak? Kalau agak senggang, aku mau minta tolong ajarin rumus Excel yang kemarin dong. Kalau lagi repot, kabarin aja ya nanti malam. Thanks!" Tuh, kan? Adem bacanya. Jelas, terukur, dan nggak bikin orang jantungan.
2. Telepon Dadakan = Teror Jantung Tingkat Dewa
Bagi generasi sekarang, dering telepon yang masuk tiba-tiba tanpa ada chat pendahuluan itu level horornya setara dengan film Pengabdi Setan. Saat layar HP menyala menampilkan panggilan masuk, otak kita langsung merespons dengan panik: "Siapa yang kecelakaan? Siapa yang masuk UGD? Apakah bumi mau meledak?!"
Ternyata pas diangkat, dia cuma nanya, "Eh, ingat nggak nama warung sate yang kita makan tahun 2018 kemarin?" Ya ampun, Bambang! Perkara sate doang sampai bikin jantung mau copot!
Netiket yang benar: Text before call! Selalu kirim pesan dulu sebelum menepon. "Halo, aku mau nanya soal warung sate nih, agak ribet kalau diketik. Boleh nelepon sekarang nggak?" Memberikan opsi kepada orang lain untuk menolak atau menunda panggilan adalah bentuk respect yang luar biasa.
3. Voice Note Berdurasi Podcast
Kita semua punya satu teman yang kalau nge-chat suka pakai Voice Note (VN), tapi durasinya udah kayak episode podcast Deddy Corbuzier.
Masalahnya, nggak semua orang lagi pakai earphone atau lagi sendirian di kamar. Bayangkan kamu lagi di kereta yang padat, kamu terpaksa mendekatkan HP ke telinga untuk mendengar VN temanmu selama 3 menit. Isinya? Dua menit pertama cuma suara embusan napas, "Eeeee," dan "Hmmm," lalu pesan intinya cuma di 10 detik terakhir: "Besok jadinya kumpul jam 10 ya."
Netiket yang benar: Gunakan VN hanya jika sedang tidak bisa mengetik (misal: menyetir) atau untuk menjelaskan hal yang sangat kompleks. Dan please, buatlah sesingkat mungkin. Kalau bisa diketik, ketiklah. Memaksa orang mendengarkan ocehan tanpa jeda adalah pemborosan waktu yang nyata.
4. Basa-Basi yang Dipotong Sesuai Kebutuhan
Generasi sekarang sering dicap "kurang ajar" karena terlalu to the point. Padahal, menjadi to the point adalah bentuk empati. Kita tahu bahwa semua orang sedang sibuk, lelah, dan punya banyak urusan.
Mengirim email atau pesan dengan format bullet points agar lebih mudah dibaca, membalas dengan padat dan jelas, atau langsung memberikan solusi tanpa harus berputar-putar menanyakan "Kucing di rumah sehat?" adalah cara kita bilang: "Aku tahu waktu kamu berharga, jadi aku nggak akan membuang-buangnya."
Kesimpulannya...
Kesopanan di era digital bukan tentang seberapa manis kata-kata yang kita rangkai, melainkan tentang seberapa efisien dan jelas pesan yang kita sampaikan. Menghargai waktu, ruang personal, dan kuota energi mental orang lain adalah bahasa cinta (love language) dan tata krama paling elegan di zaman now.
Jadi, mari kita sepakat: Mulai hari ini, setop jadi "Teroris Chat Tanpa Konteks". Setuju
Your email address will not be published. Required fields are marked *