
Pagi ini, saya berdiri di depan rice cooker dengan tatapan nanar. Isinya: nasi sisa kemarin yang sudah dingin, agak keras, dan menggumpal.
Jujur saja, impuls pertama saya adalah membuangnya. Rasanya "masa kejayaan" nasi ini sudah habis. Dia sudah tidak putih berkilau, tidak hangat, dan baunya pun standar saja. Tapi, istri saya (Sang Manajer Logistik Rumah Tangga) pernah bilang, "Jangan dibuang, itu justru harta karun kalau Mas mau sedikit repot."
Akhirnya, dengan sedikit rasa malas, saya ambil wajan. Saya tuang minyak, irisan bawang, dan nasi dingin itu.
Saat spatula mulai beradu dengan wajan (sreng, sreng, sreng!), tiba-tiba saya jadi merenung sendiri. Lucu juga ya, ternyata nasi yang paling enak buat digoreng itu justru nasi yang "menderita".
Kalau saya pakai nasi yang baru matang, yang masih hangat dan pulen, hasil nasi gorengnya malah hancur. Lembek. Lengket di wajan. Bumbunya nggak mau meresap karena si nasi terlalu "manja" dan penuh uap air.
Justru nasi yang sudah didiamkan semalaman, yang sudah merasakan dinginnya kesepian di dalam rice cooker, itulah yang teksturnya paling pas. Dia "pera"—tidak saling menempel, tapi siap membaur dengan bumbu.
Saya jadi mikir, jangan-jangan prinsip "Manajemen Cinta"—atau manajemen hidup secara umum—itu mirip banget sama bikin nasi goreng ini.
Pertama, soal "Sisa Masalah". Kadang saya merasa gagal kalau hari kemarin berjalan buruk. Ada rencana yang meleset, atau mood yang berantakan. Rasanya ingin cepat-cepat "membuang" hari itu dari ingatan. Padahal, mungkin "keburukan" kemarin itu adalah bahan baku terbaik untuk hari ini. Kegagalan (seperti nasi dingin) itu yang bikin mental saya lebih pera, lebih siap digoreng, lebih tangguh, nggak lembek kayak nasi baru matang.
Kedua, soal "Api Besar". Tukang nasi goreng keliling selalu pakai api besar. Panasnya minta ampun. Nasi itu diaduk kasar, dibolak-balik, dilempar-lempar. Kelihatannya kejam. Tapi ternyata, "siksaan" api besar itulah yang memunculkan aroma smokey yang sedap. Mungkin, masalah-masalah kecil di rumah atau pekerjaan yang bikin kepala panas, itu sebenarnya adalah api yang sedang mematangkan kedewasaan saya. Asal tangan saya (kesabaran saya) terus bergerak mengaduk, nggak akan gosong kok.
Ketiga, Keajaiban Kecap. Ini bagian favorit saya. Saat telur, sosis, dan nasi masih terlihat asing satu sama lain, saya tuang kecap manis. Ajaib. Si hitam manis ini merangkul semuanya. Nasi yang pucat jadi cokelat, telur yang kuning jadi menyatu. Di kehidupan nyata, "kecap" ini mungkin adalah rasa humor dan kasih sayang. Saat suasana rumah lagi kaku atau beda pendapat, kadang kita cuma butuh sedikit tawa atau pelukan (si kecap manis) buat bikin semuanya jadi enak lagi. Nggak perlu logika yang rumit, cukup sedikit rasa manis.
Sepiring nasi goreng pun jadi. Dari bahan sisa yang nyaris dibuang, berubah jadi sarapan mewah yang aromanya membangunkan seisi rumah.
Saya menyuap sendok pertama sambil tersenyum. Ternyata, mengelola rasa—baik di wajan maupun di hati—itu kuncinya bukan pada kesempurnaan bahannya, tapi pada kesabaran koki-nya untuk mengolah apa yang ada.
Yang tadinya "sisa", kalau disentuh dengan hati, ternyata bisa jadi istimewa.
Selamat sarapan, teman-teman. Jangan lupa kerupuknya.
Your email address will not be published. Required fields are marked *