
Pernah nggak sih kamu berada di situasi ini: Jam 11 malam, lampu kamar udah mati, cuma ada cahaya remang-remang dari layar laptop atau HP. Di sekeliling kamu ada gundukan tisu bekas yang bentuknya udah kayak fosil purba. Hidung mampet, mata bengkak kayak disengat tawon, dan kamu sesenggukan parah.
Apakah kamu baru saja mengalami musibah? Apakah kamu baru saja kehilangan harta benda?
Bukan, Bestie. Kamu cuma lagi nonton ulang (iya, rewatch!) episode terakhir Scarlet Heart: Ryeo, Hi Bye, Mama!, atau Queen of Tears untuk yang ke-lima kalinya.
Kamu sudah tahu siapa yang bakal mati. Kamu sudah hafal siapa yang bakal gagal nikah. Kamu bahkan bisa lip-sync dialog perpisahannya.
Tapi kenapa air mata ini tetap deras mengalir bagaikan Sungai Han di musim hujan? Mari kita bedah hobi menyiksa diri yang aneh tapi nagih ini.
Mari jujur, kita ini sebenarnya punya bakat terpendam jadi masokis emosional. Kita tahu adegan itu bakal bikin sakit hati, tapi justru rasa sakit itu yang kita cari.
Ini mirip kayak makan seblak level 5. Kita tahu besok pagi perut bakal mules, bibir bakal dower, tapi pas suapan pertama masuk? Ah, nikmat mana yang kau dustakan.
Nonton drakor sedih yang udah tahu ending-nya itu memberikan kepuasan aneh. Ada sensasi lega saat kita bisa nangis kejer tanpa harus punya masalah hidup beneran. Padahal tagihan aman, kerjaan aman, tapi rasanya pengen aja gitu merasa hancur lebur demi Oppa fiksi.
Analisis sok ilmiah saya mengatakan: 80% alasan kita nangis bukan karena aktingnya, tapi karena lagunya.
Lagi adegan diem-dieman doang nih, kita masih kuat. Tiba-tiba... jreng. Intro piano masuk. Penyanyinya mulai tarik napas. Liriknya "Saranghae..." dengan nada minor.
Runtuh sudah pertahanan. Pavlovian response, Bunda. Kuping denger lagu sedih, mata otomatis merespon dengan produksi air garam. Padahal adegannya cuma si tokoh utama lagi jalan kaki sendirian, tapi karena backsound-nya lagu galau, rasanya kayak dia lagi memikul beban seluruh dunia.
Ini adalah bagian paling receh sekaligus horor dari hobi ini.
Lagi asyik nangis sesenggukan, tiba-tiba scene berganti dan layar menjadi hitam sejenak (loading atau transisi gelap). Dan di sana, terpantul wajah kita sendiri.
Rambut acak-acakan, mata merah, hidung glowing karena ingus, mulut mangap dikit. Kita melihat pantulan diri sendiri dan membatin: "Ya ampun, jelek banget gue. Ngapain sih gue begini?"
Tapi begitu adegan lanjut, kita lupa dan lanjut nangis lagi. Konsistensi yang luar biasa.
Biar artikel ini kelihatan "berisi" dan bisa jadi pembenaran kalau ditanya orang tua kenapa matanya bengkak, bilang aja ini namanya Katarsis.
Menangis itu detoks jiwa, Sist. Itu cara tubuh kita membuang hormon stres. Jadi, ketika kita nangis nonton drakor, kita sebenernya lagi "cuci gudang" emosi. Kita meminjam kesedihan tokoh di drama untuk meluapkan capeknya kita seharian bekerja atau kuliah.
Jadi, air mata itu bukan tanda kelemahan. Itu tanda kalau kuota internet kita masih banyak buat streaming. Eh, maksudnya tanda kalau kita punya empati yang tinggi!
Jadi, kalau nanti malam kamu berniat nonton ulang Reply 1988 dan siap-siap nangis lagi pas adegan Bora nikah sama ayahnya tukeran sepatu, do it.
Siapkan tisu, siapkan eye cream biar besok gak kayak panda, dan nikmatilah rasa sakit yang indah itu. Karena cuma di drakor kita bisa patah hati hancur-hancuran, terus 5 menit kemudian ketawa lagi karena ada adegan bloopers atau iklan ayam goreng yang bikin laper.
Selamat menangis cantik! (Atau jelek, gapapa, kan di kamar sendiri)
Your email address will not be published. Required fields are marked *