
H-1 Lebaran itu suasananya magis banget, ya. Di dapur, emak-emak lagi sibuk adu mekanik sama wajan rendang. Di ruang tamu, toples Khong Guan udah diisi nastar (alhamdulillah bukan rengginang). Tapi, ada satu lagi fenomena gaib yang cuma terjadi setahun sekali: Grup WA Keluarga mendadak berubah jadi ajang puitis nasional!
Iya, Bestie. Bapak-bapak dan emak-emak yang biasanya tiap pagi cuma kirim gambar cangkir kopi pixelated bertuliskan "Semangat Pagi!", tiba-tiba skill sastranya level up menyaingi Kahlil Gibran.
Mari kita bahas fenomena "Pujangga Dadakan Jalur Copas" yang selalu sukses bikin senyum-senyum (dan cringe tipis-tipis) di penghujung Ramadhan ini.
1. "Jemari Tak Sempat Berjabat..." (Padahal Besok Ketemu)
Pernah perhatiin nggak sih template pembuka dari pesan broadcast (BC) Lebaran ini? Bahasanya super dramatis.
"Kala tetesan air mata jatuh membasahi bumi... Bila lisan merangkai dusta, bila langkah menoreh luka... Jemari ini tak sempat berjabat, raga ini tak dapat bersua..."
Padahal, yang ngirim itu Om kita sendiri, yang rumahnya cuma beda satu RT. Besok pagi habis shalat Ied juga kita bakal ketemu di rumah Nenek, makan opor bareng sambil ditanya "Kapan nikah?". Tapi ya sudahlah, namanya juga menyambut hari suci, biarkan Om dan Tante menyalurkan bakat seni peran mereka via teks WA.
2. Label Pengkhianat: Forwarded Many Times ↪️↪️
Niatnya sih pengen kelihatan ngetik sendiri dari lubuk hati yang paling dalam. Rangkaian katanya udah menyentuh kalbu. Tapi sayangnya, di bagian atas pesan ada tulisan abu-abu kecil berlogo panah ganda: Diteruskan berkali-kali (Atau Forwarded many times).
Yah, ketahuan deh kalau itu hasil daur ulang dari grup arisan RT sebelah! Label ini tuh ibarat ngasih kado ke orang lain, tapi price tag-nya lupa dicopot. Niatnya tulus, tapi esensinya jadi kayak bagi-bagi brosur sedot WC. Diterima sih, tapi rasanya hambar.
3. Tragedi "Misteri Keluarga Budi"
Nah, ini dia puncak komedi dari segala kemalasan literasi netizen +62. Saking semangatnya pengen buru-buru nge-blast ucapan maaf ke semua grup (mulai dari Grup Keluarga Besar, Grup Alumni SD, sampai Grup Komite Sekolah), mereka cuma nerapin jurus: Tekan Tahan -> Salin -> Tempel -> Kirim.
Tanpa dibaca dulu sampai bawah.
Tanpa di-edit ulang.
Alhasil, terjadilah kebingungan massal di Grup WA Keluarga:
Pakde Yanto: "Beningkan hati, sucikan jiwa. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Mohon maaf lahir dan batin. Dariku yang penuh khilaf: Budi & Keluarga."
Tante Sumi (kepo): "Lho, Mas Yanto... Budi iki sopo? Mas Yanto duwe anak simpenan jenenge Budi?!"
Langsung panik sekeluarga! Istri Pakde Yanto mendadak interogasi di rumah, "Pah, Budi siapa Pah?!". Niat awal mau minta maaf bersihin dosa, malah nambah masalah rumah tangga gara-gara template Copas.
Panduan Bertahan Hidup (dan Copas yang Aman) Menjelang Lebaran
Biar silaturahmi tetap aman, grup keluarga nggak garing, dan kamu nggak berakhir jadi "Budi" selanjutnya, catat tips receh ini:
Pangkas Bagian Bawah! Kalau dapet forward-an puisi bagus dari grup lain, edit dulu Bestie. Hapus nama "Hamba Allah", "Budi", atau nama PT/Instansi di baris paling bawah. Ganti pakai namamu sendiri.
Minimalisir Emoticon: Nggak usah semua emoji dikeluarin. Cukup emoji sungkem (🙏) sama masjid (🕌). Kalau kebanyakan ketupat sama kembang api, sakit mata bacanya.
Pakai Stiker Aja (Jalur Ninja): Buat kaum mager tingkat dewa, mending pakai stiker WA gambar kucing pakai peci bertuliskan "Mohon Maaf Lahir Batin". Udah paling aman, nggak bakal typo, dan jelas nggak mungkin disangka namanya Budi.
Intinya, mau copas panjang lebar puitis atau cuma ngirim stiker pendek, yang penting niat saling memaafkannya sampai. Asalkan jangan sampai salah kirim pesan ke grup bos di kantor aja ya!
Your email address will not be published. Required fields are marked *