
Kalau ada yang membayangkan Muktamar NU itu isinya cuma sidang pleno kaku dan pembacaan kitab berbobot berat yang bikin dahi mengkerut, fix dia mainnya kurang jauh. Begitu kaki melangkah di arena muktamar, yang langsung menyergap dada bukan ketegangan politik organisasi, melainkan pesta kebahagiaan dan silaturahmi paling hangat se-Indonesia.
Suasananya luar biasa riuh, tapi riuh yang menenangkan hati. Di mana-mana terlihat pemandangan lautan peci dan sarung yang saling melempar senyum. Rombongan dari Aceh sampai Papua yang tadinya tidak saling kenal, bisa mendadak akrab setengah mati cuma gara-gara tidak sengaja bertatap mata lalu bertegur sapa, "Saking pundi, Kang?" Dari sapaan sederhana itu, percakapan mengalir deras sampai-sampai mereka sudah seperti saudara kandung yang terpisah puluhan tahun.
Guyon khas Nahdliyin bertaburan di setiap sudut bagai wangi minyak atar. Di satu titik, ada sekelompok peserta yang sedang serius diskusi fiqih dengan referensi kitab bermeter-meter, tapi dua meter di sebelahnya ada sekelompok santri yang sedang melempar humor kocak soal teori misteri sandal Swallow di hajatan besar. "Muktamar ini memang luar biasa," celetuk seorang sahabat Banser yang sibuk mengatur jalan sambil menebar senyum paling ramah. "Di dalam gedung bahas hukum masa depan umat, di luar gedung bahas kenapa sandal jepit bisa berganti pasang tanpa akad nikah yang sah."
Tapi itulah indahnya Muktamar NU. Rasa saling menghormati terpancar alami tanpa perlu protokol kaku. Ketika kiai sepuh melintas, kerumunan otomatis memberi jalan dengan tawaduk luar biasa. Namun begitu duduk santai di pelataran, beliau-beliau ini tanpa canggung mau lesehan bareng santri muda, makan nasi kotak lauk ayam goreng yang sama, lalu tertawa lepas mendengar celetukan lepas para peserta. Tak ada sekat, tak ada gengsi.
Muktamar NU pada akhirnya adalah panggung besar persaudaraan. Tempat di mana rasa bahagia dirayakan secara berjemaah dan silaturahmi diseduh sehangat kopi hitam yang tak pernah berhenti mengalir dari posko-posko relawan. Keluar dari arena ini, bisa jadi kaki kita sedikit pegal dan sandal jepit tertukar dengan pasangan yang beda nomor, tapi jiwa dipastikan pulang membawa stok kehangatan ukhuwah yang melimpah ruah!
Your email address will not be published. Required fields are marked *