
Pernahkah Bunda dan Ayah menyadari sebuah fenomena "gaib" namun nyata yang selalu terjadi setiap tahun menjelang akhir Ramadhan?
Coba ingat-ingat lagi. Di malam pertama sampai malam ketujuh Ramadhan, shaf (barisan) shalat Tarawih di masjid perumahan penuh sesak. Saking penuhnya, jamaah sampai meluber ke teras, pinjam tikar RT, hingga parkiran motor beralih fungsi jadi tempat sujud.
Namun, memasuki malam ke-21 dan seterusnya… keajaiban terjadi. Shaf tiba-tiba maju pesat! Jarak antar jamaah jadi longgar, dan di barisan belakang saking kosongnya, anak-anak nyaris bisa main futsal atau salto bebas.
Pertanyaannya: Ke mana perginya separuh jamaah ini? Apakah mereka diculik alien? Atau mendadak itikaf di masjid antargalaksi?
Tentu tidak, Ibu-ibu dan Bapak-bapak sekalian. Mari kita jujur-jujuran saja. Sebagian besar dari mereka tidak menghilang. Mereka hanya berpindah tempat tawaf. Dari yang awalnya meramaikan rumah Allah, kini meramaikan Department Store dan pusat grosir!
Realita Isi Kepala Emak-Emak di 10 Malam Terakhir
Sebagai menteri koordinator urusan rumah tangga, beban di kepala emak-emak menjelang Lebaran itu beratnya mengalahkan beban hidup. Di 10 malam terakhir, saat para pemuka agama menyarankan kita mencari Lailatul Qadar (malam seribu bulan), emak-emak juga sibuk mencari Lailatul Diskon (malam seribu potongan harga).
Bukannya kita tidak mau khusyuk di masjid, tapi realita di lapangan menuntut hal lain:
Insiden Sepatu Anak: "Ya ampun, Kakak sepatunya udah sempit! Lebaran masa pakai sepatu sekolah yang jebol?"
Tragedi Baju Sarimbit: "Ayah, gamis Bunda warna sage green, kemeja Ayah kok malah ijo stabilo? Kita mau silaturahmi apa mau ngatur lalu lintas?!"
Misteri Toples Kosong: "Nastar belum dapet, sirup melon tinggal sebotol, ini besok tamu mau dikasih minum air kran?"
Alhasil, jam 8 malam yang seharusnya diisi dengan witir, terpaksa diisi dengan manuver lincah menyusuri lorong-lorong mall demi menyelamatkan muka keluarga di hari raya.
Laporan Pandangan Mata Kaum Bapak-Bapak (Eksekutor Lapangan)
Nah, kalau tulisan ini dibaca oleh kaum bapak-bapak, saya yakin 100% mereka sedang mengangguk setuju (sambil menghela napas panjang).
Bagi para suami, 10 malam terakhir adalah ujian kesabaran tingkat dewa. Transformasi tugas mereka sangat drastis:
Dari Bawa Sajadah ke Bawa Shopping Bag: Tangan yang biasanya menengadah berdoa, kini kram menenteng 5 kantong plastik berisi baju koko, kerudung, dan stoples kue kering.
Berubah Profesi Menjadi Tiang Jemuran Hidup: "Pak, tolong pegangin tas Mama bentar ya, Mama mau ke kamar pas." Dan berdirilah sang suami di depan fitting room selama 45 menit, memegang tas tangan kelap-kelip milik istrinya dengan tatapan kosong.
Zikir di Kursi Tunggu Mall: Sambil menunggu istri yang bilang "Bentar ya, nyari ciput doang kok", bapak-bapak biasanya berkumpul di sofa depan toko sepatu. Membentuk jamaah baru sesama bapak-bapak kurang tidur, saling bertatapan iba tanpa perlu berkata-kata. Dalem hati mereka cuma berzikir: "Semoga saldonya cukup... semoga saldonya cukup..."
Kenapa Hal Ini Selalu Terjadi?
Sebenarnya, ini bukan berarti kita mengabaikan ibadah. Ini murni karena dinamika keluarga. Mengurus kebutuhan Lebaran agar anak dan suami tampil layak, gembira, dan rumah siap menyambut tamu juga bagian dari ibadah seorang ibu, bukan? (Tolong aminkan yang kencang, Ibu-ibu!).
Dan bagi para bapak yang rela menjadi supir, kuli panggul dadakan, merangkap mesin ATM berjalan demi melihat istrinya tidak tantrum di hari H, ketahuilah... pahala kalian insyaallah setara dengan jihad fii sabilillah.
Kesimpulan H-Beberapa Lebaran Ini
Jadi, kalau malam ini Bunda dan Ayah melihat shaf Tarawih di masjid semakin maju, tidak perlu suudzon. Doakan saja tetangga kita yang sedang berdesakan di Tanah Abang atau mall terdekat agar diberi kekuatan betis, kewarasan mental, dan dompet yang tidak bolong.
Lebaran memang butuh persiapan, tapi jangan sampai saking sibuknya nge-mall, kita malah ketiduran pas shalat Ied ya, Pak, Bu!
Your email address will not be published. Required fields are marked *