
Pernah nggak sih kamu berdiri di depan lemari pakaian yang pintunya dibuka lebar-lebar, tangan di pinggang, lalu menghela napas panjang seolah-olah beban hidupmu seberat truk tronton?
Mata menyapu gantungan baju dari ujung kiri ke ujung kanan. Penuh. Sesak. Berwarna-warni.
Bahkan ada satu gantungan yang lehernya sudah miring alias meleyot saking keberatan beban.
Tapi, apa kalimat yang keluar dari mulutmu?
Dengan wajah polos tanpa dosa, kamu berteriak ke arah pasangan atau temanmu:
"Yaaaaang! Aku nggak punya bajuuuu!"
Hening sejenak.
Di pojok kamar, pasanganmu (si cowok yang logikanya lurus-lurus aja kayak jalan tol) menatapmu dengan tatapan horor. Dia menunjuk tumpukan kain yang menggunung itu.
"Itu... itu apa, Neng? Itu gantungan baju sampai mau patah lho. Itu baju semua kan? Bukan daun pisang?"
Logika Matematika vs Logika Perasaan
Nah, di sinilah letak kesalahpahaman terbesar sepanjang sejarah umat manusia.
Buat para cowok, definisi "Punya Baju" itu sederhana: Ada kain + Menutup tubuh + Tidak bolong = Punya Baju. Selesai.
Tapi buat perempuan? Oh, tentu tidak semudah itu, Ferguso.
Saat perempuan bilang "Aku nggak punya baju," itu bukan berarti lemarinya kosong melompong. Itu adalah kalimat metafora yang artinya:
"Aku tidak punya baju yang sesuai dengan MOOD aku hari ini, cuaca hari ini, tingkat kembung perutku hari ini, dan spesifik untuk acara yang mau kita datangi, di mana nanti bakal ada si A yang bajunya pasti bagus, jadi aku nggak boleh kalah cetar."
Panjang, kan? Makanya kita singkat jadi: "Aku nggak punya baju."
Bedah Anatomi Lemari Perempuan
Mari kita bongkar, sebenarnya apa sih isi lemari yang sesak itu sampai dibilang "nggak ada baju"?
Baju "Masa Kejayaan" (Size XS - S):
Ini adalah koleksi celana jeans waktu jaman kuliah atau sebelum pandemi. Disimpan dengan harapan: "Nanti kalau dietku berhasil, ini bakal muat lagi."
Spoiler: Dietnya selalu mulai "besok". Jadi baju ini cuma jadi museum sejarah.
Baju "Salah Beli Online":
Di foto modelnya sih bagus, kayak artis Korea. Pas sampai rumah dan dicoba, kok malah kayak lemper dibungkus daun?
Mau dibuang sayang (mahal), mau dipake malu. Akhirnya dia bertapa di pojokan lemari, menyerap aura kegelapan.
Baju "Sekali Pakai Instagram":
Baju ini bagus banget. Tapi masalahnya, udah pernah dipake di kondangan bulan lalu dan FOTONYA UDAH DI-POST DI FEED.
Haram hukumnya memakai baju yang sama di dua event besar berturut-turut. Netizen (yang padahal nggak peduli) nanti curiga kita nggak ganti baju sebulan.
Baju "Dinas Rumahan":
Kaos partai, kaos hadiah jalan sehat, daster bolong dikit di ketiak. Ini adalah baju paling nyaman sedunia, tapi haram hukumnya terlihat oleh manusia di luar pagar rumah.
Kursi Ajaib di Kamar
Selain lemari, ada satu fenomena lagi yang bikin cowok geleng-geleng kepala: Kursi Tumpukan Baju.
Itu lho, kursi di sudut kamar yang fungsinya bukan buat duduk, tapi buat naruh baju yang statusnya Complicated.
Dibilang kotor? Belum, baru dipake ke minimarket sebentar.
Dibilang bersih? Nggak juga, udah kena angin luar.
Masuk lemari takut nularin kuman, masuk keranjang cucian sayang deterjen.
Akhirnya? Ditumpuk di kursi sampai membentuk gunung Everest mini. Dan ajaibnya, kita selalu tahu urutan bajunya. Kalau ada yang mindahin, kita bakal ngamuk.
Solusinya Apa?
Wahai para lelaki, kalau wanitamu bilang "Aku nggak punya baju" di depan lemari yang mau meledak itu, jangan didebat pakai logika.
Jangan bilang, "Itu kaos hitam masih ada 5!"
Karena dia bakal jawab, "Itu beda! Yang satu hitam pekat, yang satu hitam pudar, yang satu kerah V, yang satu agak gatel bahannya!"
Solusinya cuma satu: Angguk saja.
Elus punggungnya, dan bilang, "Iya ya, kasihan banget kamu. Yaudah, pakai yang paling mendingan aja, kamu pake karung goni juga tetep cantik kok." (Kalimat terakhir opsional, berisiko tinggi).
Dan buat kita para perempuan...
Mungkin, mungkin lho ya, kita nggak butuh baju baru.
Kita cuma butuh amnesia, biar lupa kalau baju yang di lemari itu udah pernah dipake semua.
Tapi ya sudahlah.
Scroll Shopee lagi yuk, siapa tahu ada diskon.
Your email address will not be published. Required fields are marked *