
Assalamualaikum, Kaum Sarungan dan Pejuang Toga Jalur Langit!
Mari kita kirim Al-Fatihah sejenak untuk pesan WhatsApp kalian yang nasibnya seperti sandal bagus di hari Jumat: hilang tanpa jejak, atau ada tapi tak tersentuh.
Dunia perskripsian-pertesisan-perdisertasian itu mirip-mirip kehidupan di pondok. Ini adalah fase riyadoh (tirakat) di mana iman, imun, dan kiriman orang tua diuji secara brutal. Salah satu ujian terberatnya bukan pada mutolaah kitab referensi, melainkan menghadapi sosok yang karomah-nya sering bikin gemetar: Dosen Pembimbing (Dospem).
Banyak santri-mahasiswa menganggap Dospem itu kayak Wali Mastur (wali yang tersembunyi). Susah dicari, gerakannya misterius, dan kalau titahnya turun (baca: revisi), efeknya bisa bikin demam tiga hari.
Tapi, izinkan saya—sebagai perwakilan "Syuriyah Dosen"—memberikan klarifikasi. Ini bukan pembelaan, ini tabayyun (klarifikasi).
Misteri 1: "Pak/Bu, Saya Chat Kok Nggak Dibalas?" (Ujian Husnuzan)
Kalian pasti mikir, "Dosen tuh sombong amat, balas chat 'Inggih' atau stiker jempol aja susahnya minta ampun."
Kang, Mbakyu, ketahuilah. HP dosen itu asbabun nuzul stress-nya tinggi. Notifikasinya lebih horor daripada antrian kamar mandi pondok pas subuh.
Grup Rapat Prodi (yang wajib sami’na wa atho’na).
Grup Mahasiswa Bimbingan lintas angkatan (yang isinya pertanyaan berulang-ulang kayak kaset kusut).
Japri dari nomor tak dikenal: "P, Pak." (Ini salam model apa? Assalamualaikum kek!).
Chat pribadi dari mahasiswa yang nanya, "Pak, besok bapak di kampus jam berapa?" (Padahal besok libur).
Belum lagi chat dari istri/suami minta dibeliin martabak
Kadang, kami baca chat kalian pas lagi, nyetir, bahtsul masail (diskusi alot) soal akreditasi, atau pas lagi wiridan nungguin honor cair. Niatnya mau balas nanti, eh... "nanti"-nya itu keburu ketumpuk sama 50 chat lain. Jadi, kalau nggak dibalas, itu bukan karena kami benci kalian. Itu murni karena jempol kami sedang kram atau memori otak kami full. Sabar, ya. Sabar itu sebagian dari iman, dan sebagian dari skripsi/ tesis/ disertasi.
Misteri 2: Ditemui Tak Ada (The Invisible Kyai)
Kalian datang ke kampus pagi-pagi, niatnya mau sowan (menghadap). Pas diketuk ruangannya, kosong melompong kayak saku tanggal tua. Nanya TU, katanya di Rektorat. Disusul ke Rektorat, katanya lagi ngisi pengajian.
Rasanya pengen roan (kerja bakti) bersihin hati, kan?
Ketahuilah, dosen itu bukan jin yang bisa tayyul ardh (melipat bumi/teleportasi). Kami cuma makhluk yang dituntut multitasking level makrifat. Kami harus ngajar, neliti, ngabdi, dan kadang harus jadi hakim damai buat mahasiswa yang tawuran opini di kelas.
Jadi kalau kami susah ditemui, anggap saja kalian sedang diuji kesungguhannya. Cari dosen itu kayak nyari sandal Swallow yang tertukar: butuh mata batin yang tajam dan kesabaran ekstra.
Misteri 3: Sekalinya Ketemu, Antum yang 'Error'
Nah, ini nih puncak komedinya.
Setelah drama mujahadah (perjuangan sungguh-sungguh) seminggu, akhirnya kalian berhasil memojokkan Dospem.
"Pak, saya mau setoran hafalan... eh, setoran bab 4!" seru kalian.
Dosennya senyum, "Monggo, Mas. Mana draf revisinya?"
Tiba-tiba hening. Senyap.
Kalian merogoh tas. Wajah mulai pucat kayak santri ketahuan ghosob (pakai barang orang tanpa izin).
"Ngapunten, Pak Kyai Dosen... Flashdisk-nya ketinggalan di kosan."
Atau yang lebih parah: "Laptopnya kebawa temen yang lagi pulang kampung."
Astaghfirullahaladzim...
Di situlah kami para dosen cuma bisa elus dada sambil nyebut. Ya Rabb, ini cobaan apa lagi? Kalian yang ngejar-ngejar kayak lagi nunggu antrian sembako, pas ketemu malah tangan kosong.
Ini namanya Suul Adab (kurang ajar) yang tidak disengaja. Masa mau perang nggak bawa pedang? Masa mau ngaji nggak bawa kitab? Terus kita mau bimbingan apa? Bimbingan rumah tangga?
Pesan Cinta (Mauidhoh Hasanah) dari Dospem
Mahasiswaku yang dirahmati Allah,
Sikap kami yang kadang "gaib" itu bukan untuk mempersulit. Kami ingin kalian belajar satu hal penting: Mental Baja, Ketangguhan (Resiliensi)
Di masyarakat nanti, ujiannya lebih berat daripada sekadar dospem killer. Kalau ngadepin dosen yang slow response saja kalian sudah sambatan (mengeluh terus), gimana nanti menghadapi mertua yang perfectionist?
Anggaplah skripsi ini ladang pahala. Tiap revisi itu menggugurkan dosa (dan menggugurkan rambut rontok).
Kami sayang kalian. Serius. Kalau kalian lulus, kamilah orang yang paling lega—seperti lega-nya santri pas boyong (pulang) dari pondok.
Jadi, jangan putus asa. Teruslah mengejar kami dengan adab yang baik.
Dan tolong... demi kemaslahatan umat, kalau ketemu BAWA DRAF-NYA! Jangan cuma bawa tangan kosong dan senyum pepsodent.
Semangat pejuang skripsi/ tesis/ disertasi! Luruskan niat, kencangkan ikat pinggang (dan sarung). Man jadda wajada (siapa yang bersungguh-sungguh, pasti wisuda).
Wassalam, Dosenmu yang Sebenarnya Juga Pengen "Me Time" Sambil Sarungan.
Your email address will not be published. Required fields are marked *