
Selamat Hari Lahir Pancasila, Komunitas Netizen yang Budiman!
Setiap tanggal 1 Juni, kita biasanya melihat upacara bendera, pejabat berpidato, dan linimasa media sosial penuh dengan twibbon garuda berlatar belakang merah membara. Semua orang mendadak sangat nasionalis. Tapi coba deh, besoknya—atau bahkan beberapa jam setelah posting twibbon—kita intip kolom komentar di akun-akun gosip, akun berita, atau base menfess di X (Twitter).
Aduh, langsung kontras banget. Isinya kalau nggak adu mekanik argumen, saling sindir, ya minimal keluar kata-kata mutiara dari kebun binatang. Cuma karena beda selera sekte bubur ayam (diaduk vs tidak diaduk), netizen bisa berantem sampai bawa-bawa garis keturunan dan ideologi negara.
Rasanya pembatas antara "Kemanusiaan yang adil dan beradab" dengan "Kegoblokan yang hakiki dan menetap" itu setipis kuota internet pas-pasan. Nah, mumpung hari ini momennya pas, mari kita refleksi tipis-tipis: Gimana sih caranya merawat Pancasila, tapi nggak usah muluk-muluk sampai tingkat kenegaraan, cukup di area jempol kita saja?
Sila Ke-2 di Era Digital: Kemanusiaan yang Adil dan Ber-HP
Zaman dulu, tantangan menjaga persatuan itu harus angkat senjata melawan penjajah. Zaman sekarang di tahun 2026? Tantangannya adalah menahan diri untuk tidak ngetik "P" atau "Lo aja yang kurang literasi" saat baca opini orang lain yang agak ajaib di FYP TikTok.
Sila kedua itu kan bunyinya "Kemanusiaan yang adil dan beradab". Kuncinya ada di kata beradab.
Masalahnya, begitu di depan layar HP, kita sering lupa kalau akun yang kita ajak debat itu adalah manusia beneran, bukan bot jualan crypto. Dia punya perasaan, bisa sedih, dan kalau dikatain bisa nangis sambil gulung-gulung di kasur.
Nge-tweet atau berkomentar dengan "beradab" itu sesederhana tidak menggunakan caps lock semua (karena itu kesannya kamu lagi teriak-teriak pakai toa masjid di depan mukanya), dan tidak menyerang fisik atau personal (ad hominem).
Ingat rumus ini: Kritik opininya, jangan bentuk idungnya. Debat argumennya, jangan status jomblo-nya yang dibongkar.
Sila Ke-4: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan (Alias: Jangan Dikit-Dikit Blokir)
Sila keempat ini sebenarnya adalah blue print atau cetak biru asli cara orang Indonesia menyelesaikan masalah: Musyawarah.
Tapi di medsos, fitur Block dan Mute sering kali jadi jalan pintas ketika kita udah kalah argumen atau sekadar malas dengerin sudut pandang orang lain. Ada orang kritik film favorit kita? Blokir. Ada orang nggak suka sama idola kita? Laporkan akunnya. Akhirnya, kita cuma hidup di dalam "echo chamber" alias goa digital yang isinya cuma orang-orang yang setuju sama kita doang.
Lama-lama otak kita bisa kaku, lho. Berbeda pendapat itu seru kalau kita bawa santai. Anggap saja lagi nonton bapak-bapak ronda malam berdebat soal taktik timnas Indonesia. Nggak ada yang perlu masuk hati, besok pagi juga tetap beli gorengan di tempat yang sama.
Gimana cara dapet hikmat kebijaksanaan di kolom komentar?
Sebelum jarimu ngetik balasan yang penuh emosi, coba kasih jeda 5 detik. Tarik napas, buang lewat telinga (kalau bisa). Tanya ke diri sendiri: "Kalau gue bales ini, masalah dunia selesai nggak? Gue dapet transferan 500 ribu nggak?" Kalau jawabannya nggak, ya sudah, skip aja. Kasih emoji jempol atau badut, lalu lanjut scrolling.
Sila Ke-3: Persatuan Indonesia (Beda Pilihan, Tetap Satu Circle)
Indonesia itu luas banget, dari Sabang sampai Merauke. Jadi wajar banget kalau isi kepala manusianya beda-beda. Ada yang tim kerja work from cafe, ada yang tim rebahan. Ada yang kalau makan bakso kuahnya harus merah penuh sambal, ada yang tim kuah bening original.
Perbedaan itu yang bikin Indonesia seru. Bayangkan kalau seluruh netizen Indonesia isi kepalanya sama semua, seragam semua, wah... akun-akun drama gak bakal laku, dan hidup kita bakal sepi kayak kuburan tengah malam.
Menjaga persatuan di kolom komentar itu artinya kita paham kapan harus sepakat untuk tidak sepakat (agree to disagree). Kamu boleh punya opini A, dia boleh punya opini B. Selama tidak melanggar hukum dan tidak menyebarkan kebencian yang berbahaya, ya biarkan saja dia hidup dengan opininya yang unik itu.
Kesimpulan: Pancasila Itu Ada di Ujung Jempolmu
Merawat Pancasila di tahun 2026 ini nggak perlu nunggu kamu jadi anggota DPR dulu. Cukup mulai dari hal-hal receh di media sosial:
Nggak gampang kemakan hoaks yang judulnya pakai clickbait bombastis.
Nggak ikut-ikutan cyberbullying ke orang yang lagi blunder.
Menghargai ruang privasi orang lain (ingat falsafah mendem jero kemarin!).
Yuk, jadikan kolom komentar tempat yang asyik buat diskusi, tukar pikiran, atau sekadar bercandaan sehat. Jangan biarkan gara-gara urusan ketikan di layar sekecil lima inci, tali persaudaraan kita yang seluas nusantara ini jadi putus.
Selamat Hari Lahir Pancasila! Mari kita ketik yang baik-baik, atau tidak mengetik sama sekali. Tabik!
Your email address will not be published. Required fields are marked *