
Jujur saja, ketika pertama kali membaca tema "Merangkul yang Luput, Menjemput yang Hanyut", saya kira ini judul FTV azab di Indosiar atau judul lagu indie senja-senja kopi. Ternyata, ini adalah manifesto (sikap) Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU).
Dalem banget, Bestie.
Tapi kalau dipikir pakai logika orang awam kayak kita, tema ini sebenarnya menggambarkan hobi NU yang paling unik: "Memulung". Eits, jangan marah dulu. Maksudnya, NU itu hobi memungut apa saja yang dibuang atau dilupakan orang lain, lalu dipoles jadi kinclong lagi.
Nggak percaya? Mari kita bedah kelakuan organisasi kakek-nenek kita ini.
Di luar sana, banyak ormas yang seleksinya ketat kayak masuk CPNS. Syaratnya harus suci, harus hafal dalil, celana harus di atas mata kaki, jenggot harus estetik. Kalau nggak lolos kriteria? Auto-kick!
Nah, NU itu kebalikannya. NU itu kayak Truk Sampah Peradaban (dalam arti positif ya!). Siapa yang "luput" dari pergaulan orang-orang suci, malah dirangkul sama NU.
Ada preman pasar bertato naga yang pengen tobat tapi malu ke masjid? Sama Kyai NU malah diajak ngopi, nggak langsung disuruh setoran hafalan Juz Amma.
Ada mbak-mbak yang belum berhijab tapi pengen ikut pengajian? Di NU, nggak bakal diteriakin "Ahli Neraka!", paling cuma ditawarin lemper.
Prinsip NU itu: "Daripada dia di jalanan bikin rusuh, mending di sini bantuin ngaduk dodol buat haul."
Inilah humanisnya NU. Orang yang "luput" atau dianggap "gagal sholeh" sama kelompok lain, di NU malah dijadikan bestie. Karena bagi NU, surga itu terlalu luas kalau cuma diisi sama orang yang nggak pernah salah.
Kata "Hanyut" di sini maknanya ganda.
Pertama, Hanyut beneran. Kalau ada banjir, longsor, atau kucing kejepit di pohon, siapa yang biasanya muncul duluan pakai seragam loreng-loreng tapi bukan Tentara? Yak, betul! Banser. Mereka ini Tim SAR paling militan. "Menjemput yang hanyut" bagi Banser itu harfiah. Nggak peduli korbannya Islam, Kristen, atau Atheis, kalau hanyut ya ditarik. Kadang saking semangatnya, sandal temannya sendiri hanyut pun mereka nggak sadar.
Kedua, Hanyut Perasaan & Ideologi. Banyak anak muda sekarang yang hanyut. Hanyut di pinjol, hanyut di kegalauan, atau hanyut ikut-ikutan ustaz YouTube yang hobinya marah-marah.
Di sini NU hadir dengan gaya santuy. NU nggak ngejar mereka pakai pentungan, tapi pakai... Sholawatan dan Dangdutan. Serius! Berapa banyak orang yang tadinya stres atau radikal, jadi adem lagi gara-gara diajak sholawatan bareng Habib Syech atau diajak joget tipis-tipis di acara nikahan warga NU?
NU sadar, obat bagi jiwa yang hanyut itu bukan dimarahi, tapi "diajak pulang" ke rumah yang ramah.
Kalau bicara kemanusiaan di NU, kita nggak bisa lepas dari benda keramat bernama Besek/Berkat.
Ini adalah alat diplomasi paling canggih. Di acara tahlilan NU, semua manusia itu setara. Mau kamu pejabat, mau kamu pengangguran, mau kamu utangnya banyak, kalau duduk di tahlilan, pulangnya sama-sama dapat satu kotak nasi plus ayam goreng.
Inilah wujud nyata "Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab". Adil baginya, beradab cara makannya (tangan kanan).
Bahkan, tetangga non-muslim pun sering kebagian berkat. Tetangga: "Pak, saya kan Kristen, kok dikasih berkat Maulid?" Pak RT NU: "Lho, ini ayamnya ayam kampung, Pak. Ayamnya nggak punya agama. Dimakan aja, enak kok!" Tuh, damai kan?
Terakhir, bukti bahwa NU sangat manusiawi adalah kita menerima ketidaksempurnaan.
Di masjid NU, fenomena Sandal Tertukar adalah hal lumrah. Ini mengajarkan kita untuk tidak terlalu mencintai harta duniawi. Bayangkan, kamu berangkat pakai sandal Crocs ori, pulang pakai Swallow warna hijau sebelah, kuning sebelah.
Apakah marah? Awalnya iya. Tapi lama-lama kita sadar, "Ah, mungkin yang nuker lebih butuh. Itung-itung sedekah jalur misterius." Di situlah level kemanusiaan kita diuji.
Jadi, "Merangkul yang Luput, Menjemput yang Hanyut" itu bukan sekadar slogan. Itu adalah cara NU bilang ke dunia: "Hei Manusia, kalau kamu merasa kotor, merasa tersesat, merasa nggak punya teman, sini mampir ke NU. Kita punya kopi, punya rokok, dan punya Tuhan yang Maha Pemaaf."
Selamat Satu Abad NU! Terima kasih sudah menjadi ormas yang paling ger-geran (penuh tawa), paling santai, tapi paling serius kalau soal mencintai manusia.
Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Tharieq. (Yang sandalnya tertukar mohon diikhlaskan, yang hatinya tertukar mohon segera dipastikan statusnya).
Merdeka!
Your email address will not be published. Required fields are marked *