
Pernah ngelihat kerupuk yang lupa ditutup rapat di dalam kaleng? Awalnya garing dan renyah, tapi begitu kena angin sepoi-sepoi lima menit saja, teksturnya langsung berubah jadi lembek, digigit alot, dan hilang daya tariknya. Nah, mental kita kalau kebanyakan dimanja dan selalu menghindari tantangan itu persis seperti kerupuk mlempem itu: kelihatan utuh dari luar, tapi kena cipratan kuah kehidupan dikit langsung hancur tak berbentuk.
Drama "mental kerupuk" akibat alergi kesulitan ini makin sering muncul di sekitar kita dengan berbagai skenario kocak:
Kaum Emak-Emak (Panglima Dapur yang Tumbang Gara-Gara Galon): Di grup WhatsApp arisan, pembahasannya selalu soal tips jadi wanita tangguh penyangga keluarga. Tapi begitu galon air minum habis di tengah hari dan suami belum pulang kantor, runtuhlah keteguhan jiwa itu. Bukannya mengangkat galon pakai trik diputar perlahan, beliau memilih duduk meratapi nasib di samping dispenser sambil kipas-kipas pakai tutup panci. Saat suami pulang, penyambutannya bukan senyuman hangat, melainkan tatapan tajam berkonsep "Kamu tidak pernah ada saat aku membutuhkanmu." Padahal urusannya cuma air galon belum terpasang.
Kaum Bapak-Bapak (Tragedi Baut Pintu dan Koyo Linu): Bapak-bapak zaman dulu sanggup merakit lemari tiga pintu cuma bermodalkan paku payung dan palu patah. Bapak-bapak modern pas kena senggol kenyamanan? Begitu disuruh mengencangkan baut pintu kamar mandi yang longgar sedikit saja, persiapannya mengalahkan operasi militer. Harus tempel koyo di leher kanan-kiri, minum jamu pegal linu, dan minta dipijat dulu. Kalau bautnya ternyata aus, beliau langsung geleng-geleng kepala sambil bilang, "Ini konstruksi rumahnya udah nggak kondusif buat kesehatan mental Ayah," lalu ngacir ke warung kopi sampai sore.
Kaum Anak Muda (Krisis Eksistensial Baterai 15%): Anak muda yang mengaku siap menaklukkan dunia ini sering kali roboh oleh hal paling tak terduga. Lagi asyik nongkrong di kafe estetik sambil diskusi rencana masa depan, tiba-tiba indikator baterai HP berubah warna jadi merah dan muncul notifikasi tersisa 15%. Seketika itu juga seluruh keceriaan menguap. Keringat dingin keluar, napas memburu, dan mata liar celingukan mencari colokan listrik terdekat. Kalau kafe tersebut tidak punya stopkontak di dekat meja, mereka merasa kafe itu telah melanggar hak asasi manusia dan langsung pulang dengan muka ditekuk.
Melatih mental itu sebenarnya mirip seperti membiasakan diri makan makanan pedas: kalau dari awal cuma berani makan yang manis-manis, kena ulekan cabai rawit satu biji saja sudah bikin menangis bombay. Kerepotan kecil, rasa lelah, dan kegagalan sepele di rumah itu bukan tanda dunia membencimu, tapi cuma sinyal dari alam semesta biar jiwa kerupukmu berubah jadi jiwa besi tempa.
Lagipula, hidup yang terlalu lempeng tanpa ada drama kerikil tajam itu bakal membosankan banget. Semakin berani kamu menghadapi kerepotan hari ini, semakin tebal rasa percaya dirimu saat badai yang lebih besar datang.
Your email address will not be published. Required fields are marked *