
Pernah nggak memperhatikan betapa gampangnya kita merasa dunia mau runtuh cuma gara-gara hal sepele? Hidup zaman sekarang memang makin praktis dan serba instan, tapi entah kenapa mental kita malah makin mirip kertas HVS basah: kena cipratan air sedikit saja langsung sobek, terkulai, dan tidak berbentuk. Kita jadi makin gampang kaget dan gampang "remuk" saat menghadapi kerikil kecil di jalanan kehidupan sehari-hari.
Sikap gampang drama dan reaksi berlebihan saat menghadapi kerepotan kecil ini makin sering bergentayangan di sekitar kita:
Kaum Emak-Emak: Niat awal mau masak tongseng sapi dengan semangat membara. Tapi begitu sadar ada satu bumbu dapur yang lupa dibeli—misalnya daun salam—dapur langsung berubah jadi zona darurat bencana nasional. Wajan ditaruh dengan helaan napas berat, dan suami yang lagi duduk santai baca berita mendadak kena semprot atas dosa-dosa masa lalu dari zaman masih pendekatan. Padahal masalah utamanya cuma daun salam yang absen, tapi efek kehebohannya serasa satu rumah dihantam badai topan.
Kaum Bapak-Bapak: Otot dada boleh kelihatan kekar di foto profil, tapi begitu disuruh menggeser lemari pakaian sedikit saja, dramanya bisa mengalahkan episode sinetron. Baru memegang sudut lemari sambil mengedan dua detik, beliau langsung memegang pinggang belakang sambil meringis seolah habis mengangkat truk tronton. Setelah itu, beliau bakal selonjoran tiga jam di kursi goyang sambil dipijati minyak kayu putih, merasa sudah menuntaskan kerja paksa zaman purba.
Anak Remaja & Gen Z: Lagi asyik rebahan sambil menonton video streaming, tiba-tiba koneksi internet lemot dan keluar muter-muter di layar. Bukannya mencoba menyalakan ulang modem atau membeli kuota darurat, mereka malah tengkurap di kasur sambil menatap langit-langit kamar dengan pandangan hampa. Berasa mendadak terisolasi dari peradaban modern, lalu bikin pemikiran puitis di media sosial tentang betapa kejamnya dunia pada kesehatan mental mereka.
Pekerja Kantoran: Baru saja duduk di meja kerja dengan niat menjadi karyawan teladan, eh mendadak AC ruangan kurang dingin karena lagi ada perawatan rutin. Bukannya lanjut mengetik dokumen, mereka malah menghabiskan separuh hari untuk kipas-kipas pakai map plastik sambil menggerutu ke seluruh penjuru ruangan. Motivasi kerja hancur berkeping-keping dan produktivitas meluncur bebas cuma gara-gara suhu ruangan naik dua derajat.
Memimpikan hidup yang mulus tanpa hambatan itu memang wajar. Tapi kalau setiap kali ada kerikil kecil kita langsung merasa jadi manusia paling sengsara di muka bumi, otot mental kita tidak akan pernah terlatih untuk naik kelas. Kerepotan-kerepotan kecil sehari-hari—seperti sandal jepit putus pas lagi jalan, kuah soto tumpah di celana, atau antrean kasir swalayan yang mengular—itu sebenarnya adalah sesi latihan gratis agar jiwa kita makin kebal.
Hidup ini pada dasarnya memang panggung komedi yang penuh dengan ketidakpastian. Semakin kita terbiasa mentertawakan dan melewati kerepotan kecil itu tanpa drama berlebihan, semakin tebal dan tangguh mental yang kita punya.
Dari sekian banyak skenario di atas, masalah sepele apa yang paling sering bikin mentalmu mendadak berasa mau kiamat minggu ini?
Your email address will not be published. Required fields are marked *