
Menjadi "Cukup" di Tengah Dunia yang Menuntut Kita Sempurna
Pernah nggak sih, lagi enak-enak rebahan sambil ngemil kerupuk kulit, iseng buka Instagram, terus lima menit kemudian langsung merasa jadi manusia paling gagal se-Tata Surya?
Di layar HP, kita melihat teman SD yang dulu sering ngupil di kelas sekarang sudah jadi CEO start-up dengan omzet miliaran. Geser dikit, ada selebgram yang pamer kulit wajah glowing licin bak perosotan TK, padahal katanya cuma pakai air wudhu (plus perawatan klinik seharga motor NMAX). Geser lagi, ada pasangan yang couple goals banget, liburan ke Swiss sambil gandengan tangan, sementara kita gandengan sama... guling.
Dunia—atau setidaknya algoritma internet—seolah berteriak di kuping kita pakai toa masjid: "AYO DONG! KAMU KURANG KAYA! KURANG CANTIK! KURANG SUKSES! KURANG PRODUCTIVE!"
Capek, ya?
Mari kita luruskan kaki sejenak dan tarik napas.
Mitos "Manusia Super" 24 Jam
Kita hidup di zaman di mana "biasa saja" itu dianggap dosa besar.
Katanya, kalau mau sukses, kita harus bangun jam 4 pagi, meditasi, lari 10 kilo, minum jus kale (yang rasanya kayak rumput tetangga), baca 50 halaman buku, dan punya passive income sebelum jam 8 pagi.
Padahal realitanya? Bangun jam 7, itu pun karena alarm bunyi lima kali (setelah shubuhan sebentar, molor lagi). Sarapan nasi uduk. Olahraganya cuma lari mengejar tukang sayur atau lari dari kenyataan. Apakah itu salah? Nggak juga.
Kita sering lupa bahwa mereka yang terlihat sempurna di media sosial itu juga manusia. Mereka juga pernah sakit perut, pernah kejepit pintu, dan pasti pernah punya cucian numpuk. Bedanya, momen kejepit pintu nggak mereka post di story dengan filter estetik.
Seni Menjadi "B Aja"
Menjadi "cukup" itu bukan berarti pasrah, malas, atau nggak punya ambisi. Bukan.
Menjadi cukup itu adalah sebuah kesadaran tingkat tinggi (semacam makrifat kehidupan) untuk bilang: "Oke, kapasitas baterai gue cuma segini. Kalau dipaksa jadi genset stadion, gue meledak."
Coba bayangkan kalau semua orang jadi "sempurna". Semua jadi CEO, semua jadi supermodel, semua jadi miliarder. Terus siapa yang jadi penikmat meme? Siapa yang meramaikan kolom komentar? Siapa yang jajan cilok?
Dunia butuh keseimbangan. Dan kadang, peran kita adalah menjaga kewarasan dengan menjadi manusia yang "cukup".
Cukup sehat (nggak harus sixpack, yang penting nggak ngos-ngosan naik tangga).
Cukup uang (nggak harus punya jet pribadi, yang penting token listrik nggak bunyi tit-tit-tit tengah malam).
Cukup bahagia (nggak harus liburan ke Paris, nonton drakor sambil makan mie instan juga udah surga).
Berhenti Jadi Juri untuk Diri Sendiri
Kita ini sering jadi hakim paling kejam buat diri sendiri.
Kalau teman salah, kita bilang, "Nggak apa-apa, namanya juga belajar."
Tapi kalau kita yang salah, kita bilang, "Dasar bodoh! Gitu aja nggak becus!"
Mulai sekarang, coba deh turunkan standar itu sedikit. Jangan kejam-kejam amat. Kalau hari ini target kerjaan nggak selesai semua, ya sudah, besok masih ada matahari terbit (insyaallah). Kalau diet gagal karena ada yang traktir martabak, ya sudah, dinikmati saja. Martabak itu anugerah, menolaknya adalah kufur nikmat (bercanda, tapi serius).
Kamu Bukan Robot AI
Teman-teman seperjuangan, menjadi sempurna itu beban yang berat. Punggung kita nggak didesain buat mikul ekspektasi orang sekampung.
Jadi, mari rayakan ketidaksempurnaan kita. Rayakan perut yang agak buncit tanda bahagia. Rayakan gaji yang "cukup" buat hidup (walau kadang engap-engapan di tanggal tua). Rayakan diri kita yang kadang malas, kadang rajin, kadang pintar, kadang... loading lama.
Menjadi "cukup" adalah bentuk perlawanan paling elegan di dunia yang gila ini.
Karena pada akhirnya, yang dicari manusia bukan kesempurnaan, tapi ketenangan. Dan tenang itu ada saat kita berhenti lari mengejar bayangan orang lain.
Cheers untuk kita yang hari ini sudah bertahan hidup dan tetap bisa tertawa!
Your email address will not be published. Required fields are marked *