
Pernah nggak sih kalian ngerasa udah di atas angin, udah siap-siap selebrasi, eh tiba-tiba semesta melakukan plot twist yang bikin pengen kayang di atas genteng?
Kalau pernah, mari kita kirim pelukan virtual untuk timnas Mesir dan para pendukungnya.
Bayangkan, sampai menit ke-78, jalannya pertandingan Mesir vs Argentina itu udah kayak naskah drama yang sempurna. Mesir unggul 2-0! Pendukung Mesir mungkin udah ada yang sibuk ngetik caption sombong di media sosial, official tim udah senyum-senyum simpul, dan para pemain udah ngerasa piala kemenangan ada di kantong celana.
Tapi masuk menit ke-79, jeng jeng... takdir berbelok tajam tanpa lampu sein! Skor akhir malah berbalik jadi 2-3 untuk kemenangan Argentina. Belum lagi drama wasit yang hobi banget bagi-bagi kartu kuning kayak bagi-bagi brosur perumahan. Hasilnya? Pemain Mesir pulang dengan hati dongkol, emosi jiwa, dan perasaan dikhianati oleh keadaan.
Kenapa momen tragis tapi kocak ini bisa terjadi? Karena lapangan hijau sedang pamer realitas kehidupan kepada kita semua!
Sadar atau tidak, tragedi menit ke-79 ini adalah cerminan dari hidup kita sehari-hari yang penuh dengan tikungan gaib. Kita sering banget mengalami momen "Udah ngerasa menang, eh taunya apes".
Coba cek, seberapa relate kalian dengan momen-momen "Mesir vs Argentina" versi kehidupan nyata ini:
Skenario Dompet Makmur: Tanggal 1 baru gajian, saldo ATM gemuk, rasanya kayak udah unggul 2-0 atas kemiskinan. Pas menit ke-79 (baca: tanggal 5), mendadak token listrik bunyi, ban motor bocor, dan ada undangan kondangan beruntun tiga kali seminggu. Skor akhir: Dompet boncos 2-3, sisa saldo cuma bisa buat beli promag.
Skenario Diet Sukses: Dari Senin sampai Jumat udah berhasil nahan godaan karbo, timbangan turun 2 kilo (Unggul 2-0!). Pas malam minggu, mertua datang bawa martabak manis keju susu tebal. Iman goyah, martabak habis setengah kotak. Skor akhir: Berat badan naik 3 kilo.
Skenario PDKT Lancar: Chat dibales cepat, diajak jalan mau, lampu hijau sudah menyala terang (Ngerasa udah 2-0 pasti jadian). Pas mau nembak di menit-menit akhir, dia bilang: "Kamu baik banget deh, udah kayak abang aku sendiri." Zonk! Auto kena kartu merah dari asmara.
Bagian paling bikin nyesek dari kekalahan Mesir adalah perasaan bahwa mereka diperlakukan tidak adil oleh wasit. Hujan kartu kuning bertebaran, protes nggak didengar, pokoknya rasanya dunia lagi musuhin mereka.
Di dunia nyata, kita juga sering ketemu "wasit" yang rasanya nggak adil:
Udah kerja lembur bagai kuda, yang naik jabatan malah temen yang pinter cari muka.
Udah berkendara pelan-pelan dan patuh rambu, tetep aja diserempet motor yang lawan arah (eh kita pula yang dimarahin).
"Ketika hidup memperlakukan kita tidak adil, rasanya emang pengen ngamuk kayak official Mesir di pinggir lapangan. Tapi bedanya, di dunia nyata kita nggak bisa minta Video Assistant Referee (VAR) ke malaikat."
Di sinilah iman dan tawakkal kita ambil bagian untuk menyelamatkan kewarasan.
Drama menit ke-79 ini mengajarkan kita satu hal: Manusia itu cuma punya hak untuk berencana dan berusaha (sampai menit ke-78), tapi hasil akhir (menit ke-90) tetap mutlak milik Allah Swt.
Kalau hidup kita selalu menang 2-0 tanpa hambatan, kita bakal jadi makhluk paling sombong se-alam semesta. Kita bakal mikir, "Ah, ini kan karena kehebatan gue!" Makanya, sesekali Allah kasih kita "tikungan menit ke-79" supaya kita sadar kalau kita ini cuma butiran debu yang nggak punya daya apa-apa tanpa pertolongan-Nya.
Tawakkal itu bukan berarti kita pasrah nggak mau usaha dari menit pertama ya. Tawakkal yang bener adalah: kita main sekuat tenaga, lari sampai napas mau habis, tendang bola seakurat mungkin, tapi begitu peluit akhir berbunyi dan skornya berubah jadi 2-3, kita bisa lapang dada sambil bilang, "Innalillahi, rencana Allah pasti lebih baik dari rencana saya."
Buat kalian yang hari ini ngerasa lagi "kalah 2-3" oleh keadaan, atau lagi ngerasa dapet "kartu kuning" bertubi-tubi dari kehidupan: santai, tarik napas dalam-dalam.
Ingat, ini baru babak penyisihan, belum akhir dari segalanya. Selama kita masih punya iman di dada dan sifat tawakkal di hati, kekalahan se-menyesakkan apa pun nggak akan bikin kita bangkrut secara mental.
Yuk, kita main lagi di pertandingan berikutnya! Jangan lupa pakai doa di awal laga, biar kalaupun ada tikungan takdir di menit akhir, hati kita udah siap pakai sabuk pengaman iman. Tetap semangat, gaes!
Your email address will not be published. Required fields are marked *