
Pernah nggak kamu lagi asyik scrolling Instagram atau TikTok, niatnya cuma nyari hiburan karena stres kerjaan, tapi pas buka kolom komentar malah nemu El Clasico antar netizen?
Isinya baku hantam kata-kata. Debatnya fana banget lagi: bahas sekte bubur diaduk vs tidak diaduk, tapi tensinya udah kayak rebutan warisan tanah sengketa. Emosi, caci maki, sampai bawa-bawa garis keturunan.
Di momen kayak gitu, kadang kita mikir: "Iki wong-wong lapo se? (Ini orang-orang kenapa sih?)"
Media sosial kita hari ini emang udah mirip lapangan sepak bola yang nggak ada wasitnya. Chaos, liar, dan semua orang merasa benar sendiri. Makanya, mari kita sejenak berandai-andai dan belajar dari ketegasan bapak-bapak berbaju hitam di lapangan hijau.
Andai Komentar Netizen Dijaga Wasit Galak
Coba bayangin kalau di setiap kolom komentar ada sosok wasit legendaris kayak Pierluigi Collina—yang matanya melotot tajam sampai bisa mengintimidasi jiwa dan ragamu.
Begitu ada netizen dengan jempol racing ngetik: "Halah, modal tampang doang, skill gak ada!" Tiba-tiba muncul bunyi: PRRRREEEEEEEETTTTT!!!
Wasit lari dari pojokan kamar kamu, melotot semeter di depan muka kamu, sambil ngangkat Kartu Kuning tepat di depan hidungmu karena dianggap melakukan verbal tackle dari belakang. Kalau kamu protes dan ngomong, "Yee, kan cuma beropini, Pak!", wasitnya langsung rogoh kantong belakang: KARTU MERAH! HP kamu langsung shutdown otomatis selama 24 jam.
Bisa dipastikan, dunia digital bakal langsung damai dan tentram. Sayangnya, Mark Zuckerberg atau Elon Musk belum kepikiran buat bikin fitur "Wasit AI" segalak itu.
Lapangan Hijau vs. Lapangan Jempol: Kenapa Sosmed Begitu Chaos?
Secara analisis (tsah, agak serius dikit nih), kenapa sepak bola yang melibatkan 22 orang berbadan kekar, emosional, dan saling tabrak fisik itu jarang berakhir jadi tawuran massal?
Karena di sepak bola, otoritas wasit itu mutlak. Nggak ada ceritanya pemain disemprit terus bales ngetwit: "Wasitnya caper, fyp jalur skandal nih pasti." Enggak ada!
Sementara di media sosial? Semua orang adalah pemain, semua orang bawa bola sendiri, dan semua orang ngerasa dirinya adalah wasit. Ketika ada yang berbuat salah, bukan ditegur baik-baik, tapi satu stadion (netizen se-Indonesia) langsung ikutan turun ke lapangan buat ngeroyok. Itu bukan pertandingan olahraga namanya, itu tawuran antar-gang!
Menjadi "Wasit" Bagi Akunmu Sendiri
Karena Mark Zuckerberg nggak bakal ngirimin wasit ke rumah kita, satu-satunya cara biar kita nggak gila di media sosial adalah dengan menjadi wasit buat diri kita sendiri. Gimana caranya? Yuk, pelajari peluit-peluit kehidupan ini:
1. Gunakan "Kartu Merah" (Fitur Blokir & Mute) Tanpa Ragu
Banyak orang merasa bersalah kalau nge-blokir atau unfollow orang yang toxic. Hei, dengerin! Akun medsosmu itu adalah lapangan pertandinganmu. Kalau ada "pemain" yang kerjanya cuma provokasi, nendang kaki orang, dan bikin rusuh di timeline-mu, jangan ragu-ragu. Tarik kartu merah dari kantongmu: BLOKIR! Nggak usah pakai drama pamitan. Biarkan mereka out dari stadion kehidupanmu.
2. Cek "VAR" Sebelum Ngetik Komentar
Di sepak bola modern, ada yang namanya Video Assistant Referee (VAR). Kalau ada kejadian meragukan, wasit bakal nonton layar dulu buat mastiin.
Nah, jempol kita juga butuh VAR mental. Sebelum kamu ketik komentar pedas ke akun artis atau orang asing, coba tonton ulang video diri kamu sendiri:
"Ini gue kalau ngetik gini, faedahnya apa ya?"
"Gue udah tahu fakta seutuhnya belum, atau cuma baca judul clickbait doang?"
"Apakah kamar kosan gue udah bersih sampai gue punya waktu buat ngurusin hidup orang lain?"
Kalau hasil cek VAR menunjukkan kamu cuma lagi gabut atau pengen meluapkan emosi karena habis dimarahin bos, berarti kamu lagi Offside. Tarik napas, hapus ketikanmu, lalu kunci HP.
3. Jangan Ikut "Mengerumuni Wasit"
Kamu tahu kan momen kalau ada pelanggaran, terus semua pemain lari ngerumunin wasit sambil teriak-teriak? Itu adalah visualisasi nyata dari kolom komentar akun gosip. Jangan ikut-ikutan jadi gerombolan itu. Kalau ada masalah yang lagi viral, kamu nggak harus selalu punya opini tentang hal itu. Kadang, jadi penonton di tribun sambil makan kuaci itu jauh lebih sehat buat kesehatan mental.
Peluit Panjang
Media sosial itu tempat bermain, bukan tempat perang dunia ketiga. Kalau setiap orang bisa narik rem sedikit aja sebelum jarinya bertindak—alias tahu kapan harus "nyemprit" diri sendiri—kolom komentar kita nggak bakal se-chaos sekarang.
Your email address will not be published. Required fields are marked *