
Pernahkah Anda membuka Instagram, melihat teman SMA Anda baru saja dilamar di atas helikopter, lalu menengok ke sebelah, melihat pasangan Anda sedang tiduran dengan mulut terbuka sambil pakai kaos partai?
Kalau reaksi pertama Anda adalah ingin melempar HP dan berteriak, "Kenapa cintaku tak seindah drama Korea?!", selamat! Anda sedang terjangkit FOMO (Fear of Missing Out). Anda takut ketinggalan tren kemesraan ugal-ugalan ala media sosial.
Tapi tenang, artikel ini tidak akan menyuruh Anda putus atau menyuruh Anda menyewa helikopter (mahal, Bos). Kita akan belajar ilmu kuno bernama JOMO (Joy of Missing Out), atau seni merasa bodo amat yang hakiki, demi manajemen cinta yang lebih waras.
Apa Itu JOMO dalam Percintaan?
Jika FOMO adalah penyakit "kok orang lain lebih bahagia?", maka JOMO adalah obatnya: "Biarin orang lain bahagia, gue mau tidur siang."
Dalam manajemen cinta, JOMO adalah kemampuan untuk tidak mengikuti setiap tren pacaran yang viral di TikTok. JOMO adalah keberanian untuk berkata, "Sayang, kita nggak usah ikut challenge 'couple questions' ya, nanti ujung-ujungnya malah berantem dan ungkit masa lalu."
Kenapa Ketinggalan Tren Itu Sehat Buat Hubungan?
Mari kita bedah secara ilmiah (baca: cocoklogi) kenapa menjadi kudet (kurang update) itu justru bikin hubungan awet:
1. Dompet Anda Bernapas Lega Tren pacaran itu mahal. Kemarin tren fine dining di restoran yang porsinya cuma seuprit tapi harganya setara cicilan motor. Besoknya tren konser tiket jutaan. Dengan menerapkan JOMO, kencan Anda kembali ke setelan pabrik: Nasi goreng tek-tek di pinggir jalan atau nonton film bajakan di laptop (eh, maksudnya streaming legal dong). Romantis dapat, tabungan nikah aman.
2. Bebas dari Drama "Hari Peringatan" Fiktif Zaman sekarang, setiap hari rasanya ada perayaan. National Girlfriend Day, National Boyfriend Day, Hari Pasangan Sedunia, sampai Hari Kucing Pasangan Sedunia. Kaum FOMO akan panik cari kado setiap bulan. Kaum JOMO? Lupa tanggal jadian saja dimaafkan, karena kita sibuk menikmati momen, bukan sibuk bikin konten.
3. Mengurangi Risiko "Polisi Moral" Netizen Semakin Anda pamer kemesraan demi tren couple goals, semakin banyak juri online yang menilai hubungan Anda. "Kak, kok cowoknya nggak pernah posting foto Kakak? Red flag lho!" Padahal cowoknya nggak posting karena lupa password Instagram-nya sejak 2018. Dengan JOMO, privasi terjaga, hati tenang.
Cara Praktis Menjadi Pasangan JOMO
Bagaimana cara memulai hidup JOMO tanpa dianggap antisosial atau dikira sudah putus? Simak tips manajemen cinta berikut:
Matikan Notifikasi Saat Kencan: Saat sedang makan berdua, taruh HP di tas. Tatap mata pasangan Anda. Kalau bosan, tataplah pori-pori hidungnya. Cari komedo. Itu lebih intim daripada sibuk scroll timeline mantan.
Stop Bandingkan "Behind The Scenes" Kamu dengan "Trailer" Orang Lain: Ingat, foto mesra teman Anda di Paris itu mungkin diambil setelah mereka berantem hebat soal siapa yang bawa peta. Hubungan Anda yang cuma leyeh-leyeh sambil makan martabak itu juga valid dan indah.
Rayakan Hal Biasa: Nggak perlu nunggu Valentine buat romantis. Rayakanlah hal kecil. Pasangan berhasil benerin kran air? Rayakan! Pasangan nggak ngorok semalam? Syukuran!
Kesimpulan: Bahagia Itu Sederhana (dan Murah)
JOMO mengajarkan kita bahwa cinta itu bukan kompetisi. Pemenangnya bukan yang paling banyak like-nya, tapi yang paling nyenyak tidurnya di malam hari karena tidak pusing memikirkan validasi orang lain.
Jadi, mari kita nikmati ketinggalan tren. Biarkan orang lain sibuk dengan flexing kemesraan. Kita cukup di sini, pakai daster/kolor, makan mie instan berdua, sambil menertawakan dunia.
Salam JOMO.
Your email address will not be published. Required fields are marked *