
Pernah nggak sih kamu datang ke acara wisuda, lalu motivator di atas panggung berteriak dengan penuh semangat, "Ikuti passion-mu! Jangan bekerja sehari pun dalam hidupmu!"
Semua orang tepuk tangan. Orang tua menangis haru. Topi toga dilempar ke udara.
Lalu, tiga tahun kemudian, kamu sadar kalau passion kamu adalah rebahan sambil scrolling TikTok, dan sayangnya, belum ada perusahaan yang membuka lowongan "Senior Manager of Rebahan" dengan gaji UMR.
Mari kita jujur sebentar. Kalimat "Ikuti passion-mu" itu terdengar indah banget di caption Instagram, tapi di dunia nyata? Itu bisa jadi jebakan batman paling mematikan buat dompet dan kewarasan kamu.
Kenapa? Ini alasannya.
Coba ingat-ingat cita-cita kamu waktu umur 5 tahun.
Kalau saya mengikuti passion saya waktu umur 5 tahun, sekarang saya bukan penulis, tapi saya sudah menjadi Power Ranger Merah yang bertugas di Kecamatan Tebet. Atau mungkin saya sudah menjadi T-Rex.
Manusia itu berubah. Apa yang kamu gilai di umur 18 (misalnya: nge-band punk rock) mungkin akan bikin punggung kamu encok di umur 30. Kalau karirmu dibangun cuma berdasarkan apa yang kamu "suka" saat ini, siap-siap saja bingung tujuh keliling saat seleramu berubah nanti.
Ini skenario klasiknya: Kamu suka bikin kue. Kamu sangat passionate soal tepung dan gula. Teman-teman bilang, "Wah, kue lo enak! Buka toko dong!"
Kamu pun resign dari kantor akuntan yang membosankan demi mengejar passion.
Bulan pertama: Seru banget! Bulan ketiga: Kamu harus bangun jam 3 pagi, mengulen 50 kg adonan, berantem sama supplier telur yang telat kirim, dan dimarahin pelanggan karena topping kejunya kurang banyak 0,5 gram.
Tiba-tiba, bikin kue bukan lagi "terapi", tapi teror. Ketika hobi jadi kewajiban demi bayar listrik, seringkali rasa cintanya malah hilang. Kamu nggak lagi menikmati prosesnya, kamu cuma mengejar target omzet. Sayang banget, kan? Mending hobi tetep jadi hobi biar ada pelarian saat hidup lagi capek-capeknya.
Ini agak pedih, tapi perlu didengar. Saya punya passion menyanyi. Saya cinta menyanyi. Masalahnya cuma satu: suara saya mirip kucing kejepit pintu.
Kalau saya nekat jadi penyanyi profesional cuma bermodal passion, saya bakal mati kelaparan (dan mungkin ditimpukin sendal sama penonton).
Dunia kerja nggak peduli apa yang kamu suka; dunia peduli masalah apa yang bisa kamu selesaikan. Orang membayar kamu karena kamu kompeten, bukan karena kamu happy ngerjainnya.
Kadang, hal yang kita jago (misalnya: ngisi spreadsheet Excel atau nego sama tukang bangunan) itu emang nggak seksi dan nggak bikin deg-degan. Tapi, itulah yang bikin rekening terisi.
Daripada sibuk mencari pekerjaan yang passionate, coba cari pekerjaan yang:
Kamu bisa lakukan dengan baik (bahkan dengan mata tertutup).
Orang lain butuh dan mau bayar.
Lingkungannya nggak toxic (rekan kerja yang nggak hobi drama).
Gajinya cukup buat membiayai passion kamu di akhir pekan.
Pekerjaan itu nggak harus jadi "jiwa" kamu. Pekerjaan bisa sekadar jadi "sponsor" hidup kamu.
Jadilah akuntan yang handal di hari Senin sampai Jumat, supaya kamu bisa jadi traveler, kolektor gundam, atau penicip kopi paling snob di hari Sabtu dan Minggu dengan uang hasil kerjamu sendiri.
Percayalah, makan mie instan di akhir bulan itu rasanya tetap nggak enak, walau dimakan dengan penuh passion.
Your email address will not be published. Required fields are marked *