
Pernah nggak sih, jam 2 pagi pas mata udah 5 watt dan siap meluncur ke alam mimpi, eh tiba-tiba otakmu bertingkah kayak sutradara usil? Bukannya nyuruh tidur, dia malah muterin kompilasi film dokumenter bertajuk: "Tragedi Paling Memalukan dalam Hidupmu (Edisi 2012-2019)".
Tiba-tiba kamu keinget momen pas nulis status Facebook pakai huruf G3dE k3CiL, atau momen pas kamu salah manggil orang di jalan (udah ditepuk pundaknya, eh ternyata bukan temenmu). Rasanya pengen reshuffle kabinet sel otak malam itu juga!
Kita ini sering banget terjebak jadi time traveler amatir. Raga kita ada di kamar sambil meluk guling, tapi pikiran kita sibuk traveling ke masa lalu buat nyeselin hal yang udah kejadian, atau sprint ke masa depan buat ngemasin kecemasan yang belum tentu kejadian. Hasilnya? Ketenangan pikiran ambyar, lambung kaget, asam lambung naik.
Padahal kisanak, kalau kita mau sedikit aja berdamai sama "mesin waktu" di kepala kita ini, hidup bakal jauh lebih adem. Ini dia kajian kocak kenapa menghargai masa lalu dan masa kini itu adalah kunci ultimate buat ketenangan batin!
1. Masa Lalu Itu Kayak Album Foto Aib: Kunci Character Development
Banyak dari kita yang benci banget sama masa lalunya. Entah karena pernah bucin ke orang yang salah sampai rela kehujanan nganterin seblak, atau pernah pake gaya rambut emo yang poninya nutupin masa depan.
Tapi coba pikir dari angle ini: Kalau hari ini kamu bisa ngerasa "cringe" atau jijik ngelihat kelakuanmu di masa lalu, SELAMAT! Itu artinya kamu udah berkembang jadi manusia yang lebih pintar. Rasa cringe itu adalah bukti character development. Bayangin kalau sampai detik ini kamu masih ngerasa gaya rambut poni lempar itu keren? Ngeri, kan? Jadi, berhentilah musuhan sama masa lalumu. Kasih tepuk tangan buat dirimu di masa lalu yang polos dan (maaf) agak bodoh itu, karena dari kebodohan itulah dirimu yang sekarang jadi punya jam terbang. Ucapkan: "Terima kasih masa laluku, tanpamu aku nggak tahu kalau nyampur es krim sama nasi padang itu ide buruk."
2. Masa Kini Itu Kayak Indomie Kuah: Kalau Didiemin Malah Bonyok
Nah, setelah berdamai sama masa lalu, PR selanjutnya adalah berhenti mikirin masa depan yang kejauhan. Saking takutnya nggak sukses di umur 30, kita lupa bersyukur karena di umur sekarang kita masih bisa makan enak tanpa harus ngutang pinjol.
Masa kini atau present time itu ibarat Indomie kuah soto yang baru diangkat dari panci. Aromanya wangi, rasanya pas, angetnya mantap. Tapi kalau kamu sibuk ngelamunin masa lalu atau nge-zoom masa depan, itu mi bakal melar, kuahnya dingin, dan rasanya jadi mirip bubur kertas. Nggak enak blass!
Menghargai masa kini artinya: Sadar kalau satu-satunya waktu di mana kamu punya kendali penuh ya CUMA DETIK INI. Kamu nggak bisa ngerubah chat salah kirim tahun lalu, kamu juga nggak bisa nebak besok harga bensin naik atau nggak. Tapi detik ini, kamu bisa mutusin buat minum es teh manis, stretching punggung yang udah bunyi krek, dan nonton video kucing. Itu kekuatan yang luar biasa, lho!
3. Rumus Sakti "Ya Udahlah" & "Gas Sekarang!"
Orang yang tenang pikirannya bukan berarti nggak punya masalah cicilan atau nggak pernah disindir mertua. Mereka tenang karena udah menguasai dua mantra ajaib ini:
Untuk Masa Lalu: "Ya udahlah..." (Mantra ini berfungsi memutus rantai overthinking. Udah kejadian, mau dikasih rating bintang 1 juga nggak bisa di-refund).
Untuk Masa Kini: "Gas sekarang!" (Mantra ini berfungsi memaksimalkan apa yang ada di depan mata. Ada sisa martabak? Gas makan! Ada kasur nganggur? Gas rebahan!).
4. Mengubah Pikiran dari "Gudang Penyesalan" Jadi "Taman Bermain"
Ketika kamu mulai menerima masa lalumu yang konyol sebagai komedi situasi, dan mulai menikmati masa kinimu yang (mungkin) receh sebagai bentuk kebebasan, pikiranmu nggak lagi jadi gudang berdebu yang isinya penyesalan. Pikiranmu bakal berubah jadi taman bermain.
Kamu jadi orang yang gampang ketawa. Di- ghosting gebetan? Ya udah, masukin ke daftar komedi masa lalu. Gajian masih lama? Ya udah, rayakan masa kini dengan patungan beli gorengan sama temen kantor. Stress-free!
Kesimpulannya?
Kita ini bukan superhero Marvel yang bisa bolak-balik ke masa lalu buat ngambil Infinity Stones. Kita ini cuma manusia biasa yang kadang nyari ujung selotip aja butuh waktu 15 menit.
Jadi, stop menyiksa diri sendiri. Peluk masa lalumu yang agak memalukan itu, karena dia yang bikin mentalmu setebal sekarang. Dan peluk masa kinimu erat-erat, karena cuma di masa kini kamu bisa ngerasain nikmatnya ngelepas sepatu sempit setelah seharian beraktivitas.
Tarik napas panjang, senyum dikit, dan mari kita kembali ke realita. Life is good, and you are doing just fine!
Your email address will not be published. Required fields are marked *