
Pernah nggak sih, pagi-pagi buta, mata masih 5 watt, nyawa belum terkumpul semua, tapi jari-jemari udah auto-pilot menuju dapur? Bukan buat baca Quran, bukan buat salat tahajud (kalau itu sih bonus pahala), tapi buat ritual sakral umat manusia modern: menyeduh kopi.
Aromanya itu lho. Begitu bubuk kopi kesiram air panas, langsung semerbak. Rasanya kayak ada malaikat lewat sambil bisik-bisik, "Nak, dunia ini memang kejam, tapi ini kopi kamu. Selamat pagi."
Nah, di momen-momen sakral inilah, saya sering "menemukan Tuhan." Eits, jangan salah sangka. Bukan berarti Tuhan wujudnya kayak barista pakai celemek, terus nongkrong di coffee shop sebelah. Bukan!
Tuhan Nggak Datang Pas Kita Tidur (Sayangnya)
Coba deh jujur. Momen paling hening dalam hidup kita itu kapan? Pas tidur, kan? Nah, kenapa kita nggak pernah "menemukan Tuhan" di alam mimpi? Karena di situ kita lagi off. Kita lagi sibuk berfantasi dikejar dinosaurus pakai rok tutu, atau lagi makan indomie gratis sepuasnya.
Tuhan, menurut saya, itu paling asyik ditemuin pas kita lagi sadar, fokus, dan sedikit menderita. Contoh penderitaan kecil: nunggu air mendidih buat kopi. Atau, nunggu lampu merah pagi-pagi. Atau, nunggu gaji cair.
Momen-momen itu, lho, yang bikin kita punya waktu sejenak buat ngeblank tapi mikir.
Antara Bubuk Kopi, Air Panas, dan Hikmah Ilahi
Coba deh resapi proses bikin kopi:
Bubuk Kopi yang Diam dan Pasrah: Dia nggak protes pas digiling kasar atau halus. Dia cuma menunggu takdirnya diseduh. Mirip kita pas lagi diuji, pasrah aja sama ketentuan-Nya.
Air Panas yang Mendidih: Ini nih, ujian terberat. Kalau nggak cukup panas, kopi jadi hambar. Kalau kepanasan, pahitnya keterlaluan. Pas banget kayak hidup. Harus ada "panasnya" dikit biar kita keluar rasa terbaiknya. Dan kalau sudah mendidih, uapnya itu loh, kayak doa yang naik ke langit.
Aroma yang Menguar: Ini yang paling bikin candu. Aroma itu kan nggak kelihatan, tapi keberadaannya nyata dan bikin kita nyaman. Sama kayak kasih sayang Tuhan. Nggak kelihatan, tapi ada banget, bikin kita ngerasa tenang.
Rasanya yang Pahit tapi Nagih: Kopi pahit itu kayak cobaan hidup. Awalnya bikin meringis, tapi kok ya nagih? Karena di balik pahitnya, ada energi buat kita "melek" dan menjalani hari. Ada kenikmatan yang hakiki di situ.
Nah, pas saya lagi aduk kopi, sambil ngerasain pahitnya, saya sering mikir:
"Ya Allah, terima kasih ya udah kasih saya indra perasa biar bisa nikmatin kopi ini."
"Ya Allah, terima kasih ya udah kasih saya rezeki buat beli kopi ini (meskipun cuma sachet-an)."
"Ya Allah, terima kasih ya udah kasih saya waktu buat ngerasain momen tenang kayak gini, sebelum nanti ketemu macet dan drama kantor."
Kayak ada komunikasi nggak langsung gitu sama Yang Punya Alam Semesta. Nggak perlu pakai bahasa Arab yang lancar, cukup pakai hati yang ngomong, "Makasih, Bos!"
Jadi, Gimana Cara "Menemukan Tuhan" (Bukan Cuma di Kopi)?
Kuncinya sederhana: Hadir.
Hadir pas kamu lagi:
Ngeliat awan bergerak pelan di langit.
Dengerin tetesan air hujan.
Ngerasain angin semilir pas lagi sumpek.
Ketawa sampai sakit perut gara-gara meme receh.
Atau, ya itu, nyeduh kopi pagi-pagi buta.
Di momen-momen kecil yang sering kita skip karena sibuk scroll timeline, di situlah Tuhan sedang "hadir" lewat tanda-tanda kecil-Nya. Dia nggak butuh panggung gede, kok. Cukup di secangkir kopi, Dia bisa bikin kita merasa dicintai.
Dia kayak silent guardian kita. Nggak banyak omong, tapi support terus dari jauh (dan dekat banget).
Jadi, lain kali kalau kamu lagi nyeruput kopi pagimu, coba deh sejenak jeda. Rasakan. Hirup aromanya. Dan bisikkan dalam hati, "Terima kasih, Ya Allah. Kopi ini nikmat, Engkau lebih nikmat lagi kasih sayang-Mu."
Siapa tahu, setelah itu, harimu jadi lebih enteng. Kayak beban hidup ikut larut dalam ampas kopi.
Your email address will not be published. Required fields are marked *