
Pernah gak sih kamu ngerasa hari itu kayak lagi dikeroyok sama semesta? Bangun kesiangan, pas mau mandi air tiba-tiba mati, pas berangkat kerja ban motor bocor, dan pas sampai tempat kerjaan bos langsung nagih laporan sambil pasang muka kayak minion kurang sajen.
Badai hidup itu gak usah nunggu meteor jatuh dari langit atau dinosaurus bangkit lagi. Kadang, wujud badai hidup sesederhana tumpukan cucian yang udah seminggu gak kering, atau saldo ATM yang tinggal gambar Kapitan Pattimura lagi megang golok.
Pas hal-hal menyebalkan ini terjadi sekaligus, otak kita langsung kayak korsleting. Jantung dangdutan, asam lambung naik ke tenggorokan, dan bawaannya pengen resign aja jadi penduduk bumi. Kita sibuk nyari "pawang hujan" buat badai di kepala kita. Entah itu dengan cara doomscrolling media sosial sampai jam 3 pagi, atau check-out barang gak penting di e-commerce pakai sistem PayLater—yang malah bikin badai baru di akhir bulan.
Di tengah huru-hara kehidupan yang abstrak ini, sebenarnya kita punya satu tombol pause darurat yang namanya Al-Shamad.
Kalau diingat-ingat lagi pelajaran agama waktu sekolah, Al-Shamad artinya tempat bergantung seluruh makhluk. Tapi mari kita bedah dengan bahasa tongkrongan biar lebih masuk ke jiwa yang lelah ini.
Bayangkan kamu lagi naik kapal kecil di tengah laut, terus tiba-tiba datang badai petir menggelegar. Kapal kamu oleng parah. Kamu pasti panik setengah mati, kan? Nah, Al-Shamad itu ibarat jangkar raksasa yang super kokoh. Begitu jangkar itu kamu lempar ke dasar laut, kapalnya gak bakal hanyut terbawa arus.
Hebatnya lagi, jangkar bernama Al-Shamad ini gak bakal goyang sedikit pun, sekuat apa pun angin bertiup.
Allah itu Al-Shamad. Artinya, di saat dunia kamu lagi acak-acakan kayak kamar kosan cowok pas akhir bulan, Allah itu tetap tenang, kokoh, Mahasempurna, dan gak keganggu sama sekali. Allah gak punya istilah "Server Down" gara-gara kebanyakan makhluk yang curhat di waktu bersamaan. Allah juga gak bakal ngomong, "Bentar ya, lagi pusing nih banyak urusan," kayak manusia kalau lagi stres.
Jadi, kenapa kita yang cuma remah-remah rempeyek ini musti panik berlebihan sampai susah tidur? Pas badai hidup datang bertubi-tubi, rahasia buat tetap waras sebenarnya simpel banget: Transfer kepanikanmu ke Yang Maha Tenang.
Nggak usah pakai ritual yang aneh-aneh. Prakteknya bisa se-receh ini dalam kehidupan sehari-hari:
Pas Diteriakin Bos/Dosen: Tarik napas dalam-dalam. Di dalam hati, bilang: "Ya Allah, Al-Shamad. Luapan emosi orang di depan saya ini cuma badai kecil. Engkau yang memegang kendali hatinya, tolong tenangkan hati saya dulu ya Allah." Gak usah didebatin, pasrahin aja jangkarnya ke Allah. Minimal, kamu gak ikutan gila.
Pas Dompet Kritis tapi Kebutuhan Nuntut: Daripada merenung di pojokan kamar mandi sambil dengerin lagu sedih, mending gelar sajadah. Ngomong blak-blakan: "Ya Allah, ini tagihan kosan udah nagih, sementara saya cuma remah-remah tak berdaya. Saya gantungin urusan ini ke Engkau ya, Al-Shamad. Tolong bukain jalan yang gak disangka-sangka."
Bersandar dan bergantung kepada Al-Shamad itu gratis, gak perlu bayar biaya langganan premium bulanan, dan yang paling penting: gak bakal pernah di-read doang.
Intinya, badai di dunia ini sifatnya cuma sementara. Dia datang buat lewat, bukan buat menetap.
Jadi, mulai sekarang, kalau badai hidup datang lagi, gak usah lari nyari sandaran yang belum pasti (kayak nungguin balesan chat dari mantan, misalnya). Cukup duduk tenang, tarik napas, dan ingat kalau kita punya Al-Shamad. Badai pasti berlalu, dan kalaupun hujannya awet, ya tinggal kita nikmati aja sambil ngopi, karena pawang sejatinya sudah mengambil alih kendali. Tetap waras, ya!
Your email address will not be published. Required fields are marked *