
Pernahkah kamu merasa rumahmu lebih mirip stasiun kereta api saat musim mudik daripada tempat istirahat yang tenang?
Pagi hari dimulai dengan suara "alarm alami" (baca: teriakan Ibu) yang volumenya bisa menembus tembok tetangga. Lalu ada Ayah yang sibuk mencari kunci motor sambil pakai sarung, dan adik yang nangis karena kaos kakinya sebelah hilang dimakan mesin cuci.
Di tengah kekacauan itu, kadang kita berpikir: "Ya Allah, kapan sih rumah ini bisa tenang kayak di sinetron-sinetron religi?"
Tapi, tunggu dulu. Pernahkah terpikir bahwa justru di tengah "chaos" itulah, sifat Ar-Rahman (Dzat Yang Maha Pengasih) sedang bekerja dengan cara yang paling unik?
Mari kita bongkar "Kode Cinta Illahi" yang tersembunyi di balik drama receh keluarga kita.
1. Omelan Ibu: Frekuensi Kasih Sayang Level Tinggi
Jujur saja, suara Ibu itu ajaib. Beliau punya kemampuan supranatural untuk tahu kalau kita belum mandi meski kita sudah ganti baju dan basahin rambut sedikit.
"Itu handuk kenapa ditaruh di kasur lagi?! Kamu mau ternak jamur?!"
"Makan sayurnya! Jangan cuma ayamnya doang yang dipilihin, emang kamu musang?"
Seringkali kita merasa risih. "Duh, Ibu bawel banget sih."
Tapi coba lihat dari kacamata Ar-Rahman. Allah itu Maha Pengasih, dan Dia menitipkan rasa kasih itu ke dalam insting seorang Ibu. Kalau Allah tidak sayang padamu, Dia akan membiarkan Ibumu cuek.
Bayangkan kalau Ibumu tiba-tiba "puasa bicara". Kamu pulang malam, diam. Kamu sakit, diam. Kamu lupa makan, diam. Seram, kan?
Jadi, omelan Ibu sebenarnya adalah kultum (kuliah tujuh menit) harian yang disponsori oleh kasih sayang Tuhan. Itu cara Allah menjaga agar hidupmu tetap lurus, sehat, dan handukmu tidak jadi ekosistem bakteri baru.
2. Dengkur Ayah dan Kaos Partai Kesayangan
Sekarang mari kita bicara soal Ayah/Bapak. Sosok yang di rumah seringkali terlihat "low battery".
Pulang kerja, duduk di sofa, nyalakan TV berita, dan 5 menit kemudian... beliau tidur. Tapi anehnya, kalau channel TV-nya diganti, beliau bangun dan bilang, "Jangan diganti, Bapak lagi nonton!" (Padahal matanya merem).
Kita sering tertawa melihat Bapak yang cuek, pakai kaos partai yang sudah bolong dikit, atau lelucon bapak-bapaknya (dad jokes) yang garingnya ngalahin kerupuk kaleng.
Tapi di balik lelah dan dengkur keras itu, ada jejak Ar-Rahman yang nyata.
Setiap tetes keringat Ayah, setiap rasa pegal di punggungnya karena macet-macetan atau kerja keras, adalah manifestasi dari rezeki yang Allah alirkan untuk keluarga. Allah yang Maha Pengasih "meminjam" bahu Ayah untuk menjadi tiang penyangga atap rumahmu, memastikan kamu bisa makan nasi hangat dan beli kuota internet buat scroll TikTok.
Dengkurnya Ayah adalah musik latar perjuangan. Itu tanda bahwa hari ini, dia sudah habis-habisan demi orang-orang yang dicintainya karena Allah.
3. Drama "Siapa yang Habisin Makanan di Kulkas?"
Pernahkah terjadi perang dingin hanya karena satu potong terakhir martabak di kulkas hilang tanpa jejak? Atau rebutan remote TV?
Konflik kecil dengan saudara itu menyebalkan. Tapi sadarkah kamu, bahwa keberadaan mereka adalah cara Allah mengajarkan kita tentang Rahmat dalam bentuk berbagi?
Allah ingin kita belajar sabar (saat adik pinjam baju tanpa izin) dan belajar memaafkan (saat kakak ngabisin jatah kuota WiFi). Rumah adalah "bengkel akhlak" pertama yang Allah sediakan. Kalau di rumah saja kita tidak bisa menebar kasih sayang (Rahman), bagaimana mau berharap disayang penduduk langit?
Kesimpulan: Tuhan Ada di Ruang Tamu Kita
Kita sering mencari Tuhan di tempat-tempat sunyi, di puncak gunung, atau di pojokan masjid yang hening. Itu tidak salah.
Tapi jangan lupa, sifat Ar-Rahman juga hadir di ruang tamu yang berisik, di dapur yang penuh asap gorengan, dan di tumpukan cucian kotor.
Allah menyayangimu lewat tangan Ibu yang masakannya kadang keasinan tapi selalu bikin rindu.
Allah melindungimu lewat lelahnya Ayah yang jarang bicara tapi selalu ada.
Allah menghiburmu lewat tingkah konyol saudara-saudaramu.
Jadi, nanti kalau Ibu mulai mengomel lagi soal Tupperware yang hilang, atau Ayah mulai menceritakan lelucon garing yang sama untuk ke-100 kalinya, jangan cemberut.
Senyum saja. Dalam hati ucapkan: "Ah, ini dia. Ar-Rahman sedang menyapaku lewat mereka."
Lalu, peluk mereka (kalau gengsi, peluk dari samping aja atau pijitin pundaknya). Karena keluarga yang "berisik" dan penuh drama ini adalah salah satu bukti terbesar bahwa Allah sangat, sangat menyayangimu.
Your email address will not be published. Required fields are marked *