
Mari kita jujur-jujuran. Jadi tenaga pendidik (entah itu guru, dosen, atau mentor) di zaman sekarang itu gampang. Iya, gampang banget... gampang bikin asam lambung naik.
Setiap hari ada aja kelakuan student yang bikin kita pengen nanya ke langit, "Ya Tuhan, dosa apa hamba di masa lalu?" Mulai dari tugas yang isinya murni hasil copy-paste Wikipedia sampai daftar pustaka, alasan telat kelas karena ban motor bocor (padahal dia naik KRL), sampai ujian yang jawabannya lebih mirip fanfiction saking ngarangnya.
Kalau ngikutin ego, rasanya jempol ini gatel pengen nge-spill kelakuan absurd mereka di Twitter (X) biar viral dan masuk FYP. Tapi tunggu dulu, Ki Hajar Dewantara menangis melihat ini!
Di sinilah kita butuh cheat code perpaduan antara filosofi Jawa kuno dan psikologi modern: "Mikul Duwur Mendem Jero" berpadu dengan Compassionate Management (Manajemen Penuh Cinta). Gimana cara kerjanya di dunia nyata? Sini kita bedah pelan-pelan tanpa perlu buka buku teori pedagogik.
Mikul Duwur: Nge-Hype Siswa Walau Prestasinya (Sangat) Minimalis
Dalam pendidikan, Mikul Duwur (memikul tinggi-tinggi) itu bukan berarti kamu harus ngasih nilai A ke semua murid biar kamu jadi guru ter-hits se-kabupaten. Bukan gitu konsepnya.
Compassionate management mengajarkan kita untuk melihat potensi, sekecil debu apa pun itu.
Puji usahanya, bukan cuma hasil: Ada murid langganan telat yang akhirnya datang 5 menit sebelum bel? Jangan disambut dengan sindiran maut, "Tumben matahari terbit dari barat." Coba puji dengan, "Wah, Budi, apresiasi banget hari ini kamu datang gasik. Keren!" (Walau dalam hati kamu tahu dia pasti belum mandi).
Validasi ide absurdnya: Kalau ada mahasiswa presentasi dengan ide yang di luar nalar, jangan langsung di-cut. "Idemu menarik banget, out of the box. Tapi mari kita tarik sedikit kembali ke bumi biar bisa dieksekusi ya." Elegan, kan? Murid merasa dihargai (diangkat tinggi), tapi tetap diarahkan.
Mendem Jero: Menjadi Kuburan Rahasia bagi Kebodohan Masa Muda
Ini dia esensi terdalam dari manajemen cinta. Mendem Jero (memendam dalam-dalam) artinya kita menutup rapat-rapat aib atau kesalahan akademis/non-akademis anak didik kita dari publik.
Ingat, sekolah itu tempat orang salah. Kalau mereka udah benar semua, mereka yang jadi kepala sekolah, bukan kamu.
Kritik di ruang tertutup, puji di ruang publik: Kalau ada murid yang ngejawab pertanyaan dengan ngawur di kelas, jangan di-roasting di depan teman-temannya sampai mentalnya ciut seukuran kacang atom. Cukup bilang, "Menarik, tapi kurang tepat. Ada yang mau melengkapi?" Panggil dia ke ruangan nanti untuk koreksi empat mata.
Puasa jempol: Sekocak apa pun lembar jawaban ujian mahasiswa (misalnya typo nulis "Bapak/Ibu Dekan" jadi "Bapak/Ibu Setan"), JANGAN di-foto dan di-upload ke Instastory walau fiturnya cuma Close Friends. Compassionate management berarti melindungi martabat murid. Kita kubur "aib" kelucuan mereka rapat-rapat. Cukup kita ketawain sendiri di ruang guru sampai nangis.
Cinta Itu Mengarahkan, Bukan Mempermalukan
Sistem pendidikan yang terlalu kaku dan menghukum bikin murid jadi jago bohong, bukan jago belajar. Mereka belajar buat gak ketahuan salah, bukan belajar dari kesalahan.
Lewat Mikul Duwur Mendem Jero, kita sebenernya lagi mempraktikkan Compassionate Management di level hardcore. Kita pakai cinta dan empati untuk mengangkat kepercayaan diri mereka (Mikul Duwur), sambil menutupi kekurangan mereka dari tatapan menghakimi dunia luar agar mereka punya ruang aman untuk bertumbuh (Mendem Jero).
Jadi, buat Bapak/Ibu Guru, Dosen, atau Kakak Mentor yang lagi pusing baca chat murid nanya "Tugasnya dikumpul kapan?" padahal deadline-nya udah tertera segede gaban di grup WA... tarik napas. Hembuskan.
Ingat, mendidik itu act of service, bukan act of war. Mari kita kubur emosi dalam-dalam, dan angkat tinggi-tinggi sisa kesabaran kita! Semangat!
Your email address will not be published. Required fields are marked *