
Pernah nggak sih kamu lagi enak-enak scrolling media sosial, terus lewat sebuah postingan yang isinya keluhan super detail tentang seseorang? Misalnya, curhatan panjang lebar tentang sepupu yang utang belum bayar tapi malah beli tiket konser, atau sindiran halus tapi menohok buat rekan kerja yang kalau habis makan siang suka lupa bayar gorengan. Lengkap dengan backsound lagu sedih instrumental piano dan caption: “Cukup tahu saja, manusia zaman sekarang topengnya tebal.” Zaman sekarang, pembatas antara ruang tamu dan halaman rumah itu udah jebol gara-gara tombol bernama “Share”. Apa-apa dikontenin, apa-apa dijadiin status. Lingkaran pertemanan atau keluarga lagi agak renggang? Bikin Story. Ada gesekan dikit sama temen tongkrongan? Bikin thread. Kita ini mau bersosialisasi atau lagi magang jadi wartawan akun gosip, sih?
Daripada hubungan sosialmu berakhir jadi konsumsi publik—yang dikomentari sama akun bot jualan peninggi badan—mending kita belajar ilmu intelijen kuno yang super sakti dari tanah Jawa bernama: Mendem Jero, Mikul Duwur.
Ketika "Mendem Jero" Tertukar dengan "Mendem Drama"
Secara harfiah, falsafah ini artinya mengubur dalam-dalam, memikul tinggi-tinggi.
Di era serba digital ini, Mendem Jero itu adalah rem darurat ketika jempolmu udah gatal banget pengen bikin status sindiran. Artinya, kalau orang terdekatmu—entah itu sahabat, saudara, atau rekan kerja—lagi kumat menyebalkannya, kubur masalah itu rapat-rapat di dalam tanah! Jangan malah ditanam di algoritma media sosial.
Kenapa? Karena netizen itu sifatnya kayak penonton bioskop. Mereka cuma butuh hiburan. Ketika kamu nge-spill kejelekan orang terdekatmu, netizen nggak bakal bantu beliin solusi. Mereka cuma bakal nyemil popcorn sambil nungguin kelanjutan dramanya.
Ingat rumus ini: Netizen itu bukan mediator konflik. Mereka itu penonton sirkus. Jangan kasih mereka atraksi gratisan.
Nge-mendem jero atau mengubur konflik bukan berarti kita pasrah atau pura-pura semuanya baik-baik saja, ya. Ini soal kedewasaan. Kalau ada masalah dengan seseorang, datangi orangnya, ajak ngopi, terus obrolin langsung. Itu jauh lebih jantan daripada perang status pake fitur Close Friends tapi isinya 200 orang.
Nah, Kalau "Mikul Duwur" Itu Gimana?
Kebalikan dari mengubur, Mikul Duwur artinya menjunjung tinggi-tinggi. Kalau teman, rekan kerja, atau keluargamu lagi berbuat baik atau lagi berprestasi, nah itu baru boleh kamu pamerin ke dunia luar!
Tapi ingat, pamer-lah dengan elegan, bukan yang bikin orang lain malah eneg atau curiga kamu lagi ada maunya.
Cara yang salah: "Gila, emang cuma temen gue yang satu ini yang paling kaya dan baik sedunia. Kemarin gue dipinjemi duit tanpa bunga. Yang lain mana nih? Katanya temen tapi pelit! 🤪💅" (Ini bukan memuji temen, ini namanya lagi mancing kecemburuan sosial sekaligus mancing debt collector).
Cara yang bener: Foto saat temanmu lagi wisuda, naik jabatan, atau berhasil buka usaha kecil-kecilan, terus kasih caption: "Bangga banget sama perjuangan anak ini, layak dapat yang terbaik." Udah, gitu doang. Singkat, padat, berwibawa. Temenmu ngerasa dihargai, yang baca juga ikut adem.
Kenapa Sih Harus Repot-Repot Pake Filosofi Ini?
Logikanya gini: kalau kamu mengumbar semua kekesalanmu tentang seseorang ke media sosial, suatu hari nanti saat kalian udah baikan dan ngopi bareng lagi, orang-orang di media sosial terlanjur nge-cap jelek orang tersebut.
Kaliannya udah ketawa-tawa lagi sambil main game bareng, eh orang lain yang baca status lama kamu masih menyimpan dendam dan pandangan negatif ke dia. Repot, kan? Kamu yang buka keran aibnya, kamu sendiri yang pusing gimana cara ngebersihin namanya lagi.
Kesimpulan: Log Out Bentar, Ngobrol di Dunia Nyata
Hubungan antarmanusia yang sehat itu sebenarnya yang paling miskin konten. Kenapa? Karena saking serunya ngobrol, bertukar pikiran, dan ketawa berdua di dunia nyata, mereka sampai lupa kalau mereka punya HP.
Jadi, mulai hari ini, mari kita sepakati: kalau lingkaran sosialmu lagi ada gesekan, HP-nya ditaruh dulu. Ambil napas, ingat prinsip mendem jero. Selesaikan langsung dengan orang yang bersangkutan. Lagipula, kalau semua drama kehidupanmu di-upload ke medsos, nanti kalau masalahnya udah selesai, jari kamu bakal keriting karena capek menghapus ratusan jejak digital.
Stay private, stay sane, and stay happy!
Your email address will not be published. Required fields are marked *