
Semua orang zaman now teriak butuh healing. Dikit-dikit healing, dikit-dikit mindfulness. Beli lilin aromaterapi harga tiga ratus ribu, download aplikasi meditasi premium, sampai beli karpet yoga padahal dipakai cuma buat alas rebahan sambil doomscrolling TikTok.
Kita semua berlomba-lomba mencari damai di antara riuhnya manusia. Tapi pertanyaannya: Emang masih bisa nemu damai di era di mana privasi itu mitos dan diam itu dianggap red flag?
Mari kita bedah secara tajam (tapi tetap sambil ngunyah seblak) kenapa mencari "ketenangan" di zaman sekarang itu susahnya ngalahin nyari ujung selotip.
1. Paradoks Work From Cafe (WFC): Niat Hati Mencari Sepi, Malah Ikut Rapat Direksi
Skenario klasik: Kamu mumet di rumah/kosan. Kamu butuh suasana baru biar ide nulis laporan ngalir. Berangkatlah kamu ke coffee shop aesthetic berkonsep industrial (baca: temboknya belum diplester). Pesan matcha latte oat milk harga setara kuota sebulan, lalu duduk manis pakai earphone.
Ekspektasi: Menjelma jadi seniman indie yang damai merajut kata.
Realita: Di meja kanan, ada Mas-mas startup lagi meeting Zoom teriak-teriak soal "Synergize the paradigm" dan "OKR Q3". Di meja kiri, ada Mbak-mbak influencer lagi bikin konten review croissant dengan ring light menyilaukan mata, ngomongnya pakai voice over ala presenter bedah rumah.
Analisis Tajam: Kafe zaman sekarang bukan lagi tempat pelarian dari penatnya dunia, melainkan pasar malam berkedok tempat ngopi. Riuhnya manusia sudah pindah dari pasar tradisional ke ruang-ruang aesthetic. Kita mengutuk keramaian, tapi kita sendiri yang mendatangi pusat keramaian itu dengan dalih "mencari vibes".
2. Berisiknya Bukan Cuma di Telinga, Tapi di Layar HP
Anggaplah kamu menyerah dan milih bertapa di kamar. Pintu dikunci, lampu dimatikan. Hening secara fisik. Tapi begitu kamu buka lockscreen HP, BAM!
Grup WhatsApp keluarga ribut bahas hoaks daun singkong bisa menyembuhkan rematik.
Grup tongkrongan berantem gara-gara beda pilihan caleg atau debat spoiler film.
Algoritma media sosial menjejalkan video orang ngamuk-ngamuk di jalan, artis cerai, sampai tutorial bikin seblak pakai panci pink yang nggak kamu butuhkan.
Analisis Tajam: Musuh terbesar ketenangan kita bukanlah knalpot brong abang-abang jamet di perempatan, melainkan ketakutan kita sendiri akan keheningan (FOSE - Fear Of Simply Existing). Kita benci berisik, tapi pas beneran sepi, otak kita panik. Kita butuh asupan keributan (drama netizen, podcast orang ngobrol 3 jam) untuk menutupi fakta bahwa kita takut sendirian dengan pikiran kita sendiri. Kita ini alergi sepi, Bestie!
3. "Damai" Itu Bukan Berarti Nggak Ada Suara, Tapi Mode Do Not Disturb di Otak
Banyak yang salah kaprah mikir kalau mau damai itu harus pindah ke desa di lereng gunung Himalaya, ternak lele, dan puasa ngomong 40 hari. Padahal, kalau utang paylater belum lunas, mau kamu sembunyi di goa Avatar juga batinmu bakal tetap riuh.
Ketenangan di era modern ini bukan soal mematikan suara dari luar, tapi soal seni bodo amat tingkat dewa.
Berikut adalah taktik ninja mencari damai di tengah riuhnya warga +62:
Aktifkan Fitur Mute Kehidupan: Nggak semua Insta Story teman harus dilihat. Nggak semua drama Twitter/X harus kamu tanggapi. Kamu bukan satpam internet. Biarin aja mereka ribut nyari tahu khodam artis, kamu fokus aja nyari diskonan skincare.
Terima Kenyataan Bahwa Manusia Itu Berisik: Pas lagi di KRL empot-empotan dan ada bapak-bapak nonton video Facebook tanpa headset, daripada kamu batinnya mendidih, anggap aja itu backsound film dokumenter kehidupan pinggiran. Tarik napas, pasang headphone kamu sendiri (atau pakai mode Noise Cancelling kalau gajimu UMR Jakarta), dan putar lagu Kangen Band kencang-kencang.
Damai Itu Praktis: Damai adalah ketika kamu bisa makan mi instan di pojokan dapur kosan jam 2 pagi, tanpa peduli dunia luar lagi sibuk pamer pencapaian atau pamer ayang.
Kesimpulan: Berdamai dengan Keributan
Pada akhirnya, kita nggak bisa menyuruh miliaran manusia di bumi untuk cosplay jadi orang sariawan massal biar kita bisa tenang. Dunia ini emang udah di- setting berisik dari sananya.
Mencari damai di antara riuhnya manusia itu seni mengelola ruang di kepala kita sendiri. Selama kamu bisa menyediakan "ruang VIP" di otakmu—di mana omongan tetangga, julid-an netizen, dan tuntutan hustle culture nggak dikasih izin masuk—kamu bakal tetap bisa ngorok pules biarpun tetangga sebelah lagi dangdutan pakai speaker segede kulkas dua pintu.
Your email address will not be published. Required fields are marked *