
Kalau kamu membaca judul di atas sambil membayangkan sebuah artikel religius yang bikin air mata menetes di pojokan sajadah, maaf banget... kamu agak meleset.
Ini bukan soal lirik lagu kasidah, melainkan sebuah panduan bertahan hidup (survival guide) berbalut spiritualitas tingkat tinggi. Ini adalah kisah tentang para Ibu di luar sana yang jadwal hidupnya, agenda harian, hingga menu makan malamnya sangat tergantung pada satu poros semesta: Langkah Bapak.
Mari kita bedah bareng-bareng, bagaimana "Tawakkal" berubah dari konsep teologi menjadi senjata harian Ibu menghadapi plot twist kehidupan dari Bapak.
Mari kita mulai dengan ujian tawakkal level pertama: Menunggu Bapak Pulang/Jemput.
Bagi Ibu, kata "OTW" (On The Way) itu artinya sudah di atas motor, pakai helm, dan gaspol. Tapi bagi Bapak, OTW punya arti yang sangat fleksibel dan abstrak:
OTW = Baru mau pakai kaos kaki.
OTW = Masih ngobrol di parkiran sama satpam.
OTW = Lagi ngudud sebatang lagi biar gak ngantuk di jalan.
Seni Tawakkalnya Ibu:
Begitu Bapak WA "OTW", Ibu sudah pakai jilbab rapi, tas sudah dicangking, anak sudah dimandikan sampai wangi minyak telon. Satu jam kemudian... Bapak belum sampai.
Di sinilah zikir Ibu dimulai. Alih-alih ngedumel yang bisa merusak pahala, Ibu memilih bertawakkal sambil scrolling TikTok, mencabut colokan rice cooker yang tadi sudah telanjur dimatikan, lalu pasrah. "Ya Allah, saya pasrahkan lipatan jilbab yang mulai lecek ini pada-Mu."
Ibu sudah merancang grand design menu mingguan. Hari ini jadwalnya masak sayur lodeh dan goreng tahu tempe karena menghemat anggaran demi beli skincare bulan depan.
Eh, jam 5 sore, tepat ketika santan lodehnya baru mendidih, masuklah sebuah pesan singkat dari Bapak:
"Ma, jangan masak. Ini diajak makan sate kambing sama bos."
Bagi orang awam, ini berita bahagia. Tapi bagi Ibu? Ini adalah krisis logistik! Lodeh yang sudah matang itu mau dikemanakan? Di sinilah iman Ibu diuji.
a. Ikhtiar: Mencoba merayu Bapak agar satenya dibungkus saja bawa pulang.
b. Tawakkal: Menerima kenyataan bahwa malam ini Ibu akan makan lodeh sendirian sambil memandang sisa tahu mentah di kulkas, seraya bergumam, "Sabar... daging kambing tinggi kolesterol, ini ujian menyelamatkan kesehatan suamiku."
Kebiasaan Ibu yang paling terikat dengan kegiatan Bapak biasanya muncul di hari Sabtu atau Minggu. Ibu sudah punya rencana deep talk berdua, atau minimal jalan-jalan ke supermarket mumpung ada diskon minyak goreng.
Tapi apa daya, Bapak tiba-tiba teringat punya janji:
Mancing mania mantap bersama bapak-bapak RT.
Bongkar karburator motor kuno yang kalau dibongkar gak bisa dipasang lagi.
Gowes subuh yang pulangnya jam 2 siang dengan bonus betis konde dan wajah gosong.
Ketika Bapak sudah menenteng joran pancing atau kunci pas, Ibu tahu bahwa memprotes adalah hal yang sia-sia.
Rumus Tawakkal Ibu:
"Jika Bapak sudah memilih jalannya, maka tugas Ibu adalah menjaga warasnya."
Ibu langsung mengubah mode baper menjadi mode me-time. Bapak berangkat mancing, Ibu langsung dasteran, nonton drama Korea kesukaan tanpa interupsi, dan pesan seblak level 5 lewat ojek online. Sebuah bentuk kepasrahan yang sangat produktif!
Pada akhirnya, keterikatan kebiasaan Ibu dengan kegiatan Bapak itu bukan tanda ketidakberdayaan. Justru itu adalah bukti kalau Ibu adalah manajer krisis terbaik di dunia.
Ibu bisa merencanakan segala hal, tapi ketika langkah Bapak mengubah semua rencana itu dalam hitungan detik, Ibu punya tombol otomatis bernama Tawakkal Pro Max. Tombol yang mengubah rasa kesal menjadi doa, mengubah waktu tunggu menjadi waktu santai, dan mengubah ketidakpastian menjadi tawa receh di ruang tamu.
Jadi, untuk para Bapak di luar sana: jika istrimu masih tersenyum manis menyambutmu pulang telat, ketahuilah... dia baru saja menyelesaikan kelas meditasi spiritual tingkat tinggi yang bernama Menanti dalam Doa. Modalnya cuma satu: Sabar seluas samudra!
Your email address will not be published. Required fields are marked *