
Pernah tidak kamu berantem sama pasangan atau sahabat cuma gara-gara masalah sepele? Misal, dia lupa beliin martabak manis telur dua—yang padahal jelas-jelas namanya martabak telur—atau dia salah belok pas jadi navigator di Google Maps. Mulut bilangnya, “Iya, tidak apa-apa kok, aku udah maafin.” Tapi di dalam hati, kamu langsung membuat tabel Excel berisi deretan dosa dia dari tahun 2018!
Nah, itu namanya memaafkan tapi bohong. Memaafkan di bibir, tapi dendamnya disimpan rapi di dalam laci pikiran. Padahal, jurus legowo yang hakiki itu adalah memaafkan tanpa perlu menyimpan struk pembayaran dendam.
Sebelum belajar legowo beneran, coba uji kejujuran diri dulu. Apakah kamu termasuk ke dalam salah satu tipe di bawah ini?
Tipe Kolektor Dosa: Mulutnya bilang izinkan aku memaafkanmu, tapi otaknya punya album kenangan berisi semua kesalahan pasangan. Pas berantem bulan depan, semua isi album diputar ulang versi remastered HD.
Tipe Pasif-Agresif: Katanya sudah maafin, tapi pas ditanya mau makan apa, jawabnya: “Terserah, kan aku selalu salah di mata kamu.” Nah kan, sinetron sore pindah ke meja makan.
Tipe Bom Waktu: Kelihatannya adem ayem dan senyum manis. Tapi sekali ada pemicu sepele—misalnya dia lupa mematikan lampu kamar mandi—langsung meledak dahsyat sampai tetangga sebelah ikut minta maaf.
Menggenggam dendam ke orang terdekat itu ibarat kamu meminum racun serangga, tapi berharap orang lain yang kejang-kejang. Yang rugi ya kamu sendiri!
Lagian, menyimpan dendam dalam hubungan itu bikin capek luar biasa:
Energi habis buat susun skenario: Bukannya dipakai buat quality time, pikiran kamu malah sibuk menyusun kalimat sindiran beracun buat dilontarkan nanti malam.
Muka cepat keriput: Orang yang sukanya menyimpan dendam itu dahinya sering berkerut. Nanti pas usia 25 tahun, muka kamu sudah disangka seumuran sama kepala sekolah!
Biar hubungan tidak mirip medan perang dunia kedua, ini cara melatih hati agar bisa memaafkan secara tulus dan legowo:
Kalau kamu sudah sepakat buat memaafkan dia hari ini, ya sudah. Tutup buku, kunci rapat-rapat, lalu buang kuncinya ke sumur tua. Jangan dijadikan bahan flashback tiap kali kalian ada selisih paham baru. Ingat, hubungan itu dibangun pakai kasih sayang, bukan sistem poin pelanggaran lalu lintas!
Kadang kita terlalu berekspektasi tinggi. Kita pengin pasangan yang sempurna: serba peka, tidak pernah salah, dan paham isi pikiran kita tanpa perlu diomongin. Hallo... dia itu manusia biasa yang makan nasi juga, bukan peramal keliling! Pasti ada momen dia teledor atau salah paham.
Kalau ada yang bikin ganjel di hati, omongin langsung secara dewasa. Jangan cuma main diam-diaman sambil pasang status galau di WhatsApp. Pasanganmu bukan anggota tim detektif yang bisa membaca kode rahasia dari raut mukamu yang mendadak cemberut itu.
Dalam hubungan apa pun—mau itu pacar, suami istri, dan sahabat kental—konflik itu hal yang sangat lumrah. Yang bikin hubungan rusak itu bukan konflik keributannya, melainkan rasa dendam yang dipelihara sampai beranak cucu.
Mulai sekarang, yuk belajar legowo. Kalau dia salah dan sudah minta maaf, peluk, maafkan, dan lupakan. Lagian, daripada energi dipakai buat menyimpan dendam, mending dipakai buat memikirkan nanti malam mau makan kuliner apa. Betul tidak?
Your email address will not be published. Required fields are marked *