
Pernah tidak, sih, melihat berita Gunung Anak Krakatau erupsi? Gunungnya anteng-anteng saja, eh, mendadak menyemburkan abu vulkanik setinggi langit. Nah, sadar atau tidak, manusia itu sebenarnya mirip sekali dengan gunung berapi. Bedanya, kalau Krakatau isinya cairan magma panas, kalau kita isinya tumpukan revisi kerjaan, tagihan dompet digital, obrolan tetangga yang kurang ramah, dan balasan WhatsApp pasangan yang cuma “Y”.
Semua itu sering kita pendam rapi di dalam dada. Dari luar kelihatan kalem seperti tempat wisata, padahal di dalam sudah bergolak siap meledak.
Sebelum gunung berapi meledak, biasanya ada gempa-gempa kecil terlebih dahulu. Diri kita pun sama. Masalahnya, sinyal-sinyal peringatan ini sering sekali kita abaikan dan dianggap cuma “butuh kopi segelas lagi”. Padahal, dapur magma di dalam pikiranmu sudah hampir penuh!
Coba cek, apakah kamu pernah mengalami tanda-tanda ini:
Sumbu pendek melebihi petasan korek: Ada teman yang menepuk pundakmu niatnya menyapa, tapi di dalam hatimu rasanya ingin membanting meja kantor.
Menangisi hal absurd: Ayam goreng yang baru dibeli mendadak jatuh ke lantai, dan kamu langsung menangis sesenggukan tiga hari tiga malam seolah-olah kehilangan masa depan.
Jari-jemari penuh hasrat keyboard warrior: Mengirim email balasan ke rekan kerja pakai kalimat “Berdasarkan email saya sebelumnya” dengan tekanan tombol enter yang kuatnya bisa menembus kayu meja.
Pikiran mendadak mati rasa: Buka laptop jam delapan pagi, sampai jam dua belas siang cuma menatap kursor kedap-kedip sambil mikir, “Aku ini siapa, ada di mana, dan kenapa harus bayar cicilan?”
Kalau semua sinyal di atas ditahan terus demi terlihat tegar dan profesional, tinggal tunggu waktu sampai statusmu naik dari Waspada jadi Awas. Begitu pemicu kecil datang—misalnya sinyal Wi-Fi mendadak lemot dua detik—BOOM! Kamu pun “erupsi”.
Erupsi emosi ini efeknya tidak main-main. Kamu mungkin bakal menyemburkan “abu vulkanik” berupa sindiran pedas ke teman seangkatan, menangis histeris di pojokan dapur, atau bikin kiriman Instagram Story dengan tulisan berukuran mikro berlatar hitam polos yang bikin satu lingkaran pertemanan panik.
Setelah erupsinya selesai, kamu baru sadar kalau lingkungan sekitarmu sudah tertutup abu. Rekan kerja jadi canggung, pasangan bingung, dan kamu sendiri malah makin kelelahan karena merasa bersalah.
Gunung berapi butuh celah kecil untuk mengeluarkan asap agar tekanan di dalamnya berkurang. Kamu juga butuh cara pelampiasan yang rutin agar tidak mendadak meledak di waktu yang salah.
Berikut beberapa cara melepas tekanan tanpa perlu merusak fasilitas publik:
Karaoke jalur kamar mandi: Putar lagu dengan nada tinggi atau musik cadas, lalu bernyanyilah sekuat tenaga sambil memegang gagang shower. Biarkan tetangga berpikir kamu sedang kerasukan, yang penting tekanan magmamu berkurang 50 persen.
Terapi jerit bantal: Ambil bantal paling empuk, benamkan mukamu di sana, lalu berteriaklah sepuasnya. Efektif melegakan dada tanpa perlu dipanggil pengurus RT setempat.
Jalan kaki tanpa arah di minimarket: Kalau kepala sudah mendidih, pamitlah keluar sebentar. Jalan berputar-putar di lorong minimarket cuma untuk memegang pendingin minuman atau sekadar membaca label nutrisi makanan ringan. Kegiatan tidak berfaedah ini ampuh mengalihkan pikiran dari kepungan stres.
Jajan micin dan curhat colongan: Cari teman nongkrong yang aman. Ceritakan semua unek-unekmu sambil makan seblak level pedas mampus. Biarkan lidahmu terbakar seblak daripada hatimu terbakar emosi.
Menjadi kuat bukan berarti harus menahan semua beban sampai hancur dari dalam. Bahkan gunung paling megah di dunia pun butuh mengepulkan asap dan mengeluarkan isinya agar tetap aman. Jadi, kalau kamu merasa sudah mulai capai, stres, dan jenuh, jangan ragu untuk istirahat dan meluapkan emosimu dengan cara yang sehat.
Ingat, jangan menunggu sampai jadi erupsi dahsyat baru mau jalan-jalan atau tidur siang!
Your email address will not be published. Required fields are marked *