
Pernah nggak sih Anda masuk ke kantor atau ruang kelas, suasananya tegang banget kayak lagi nunggu pengumuman tersangka di KPK? Bos atau gurunya mukanya ditekuk kayak cucian basah yang lupa dijemur tiga hari. Akibatnya? Semua orang jadi mode "patung": diam, kaku, dan berharap bisa menghilang.
Kalau pernah, selamat! Anda adalah korban dari manajemen gaya lama alias "Manajemen Pokoknya Nurut atau Kelar Hidup Lo".
Tapi tenang, Bestie. Dunia belum berakhir. Ternyata ada lho cara memimpin, mengelola, atau mengajar yang nggak bikin uban cepat tumbuh. Namanya: Manajemen Cinta.
Tenang, ini bukan berarti Anda harus memeluk erat rekan kerja tiap pagi atau nembak dosen pembimbing Anda. Bukan.
Manajemen Cinta, atau bahasa gaul internasionalnya Compassionate Management, adalah seni mengelola manusia dengan... ya, menjadi manusia. Bukan jadi robot penagih target.
Intinya simpel: sadar kalau orang yang kita pimpin (murid, staf, atau tim) itu punya hati, punya cicilan, punya masalah asmara, dan kadang punya hari yang buruk. Jadi, pendekatannya pakai empati, bukan pakai emosi meledak-ledak.
Nah, mungkin Anda bertanya-tanya, "Ide brilian ini datang dari mana sih? Kok kepikiran aja bikin manajemen pakai bumbu cinta?"
Jadi gini ceritanya. Konsep kece ini—yang kalau mau terdengar lebih intelek dan agamis disebut Al-Idarah Ar-Rahmaniyyah (keren kan namanya?)—itu digagas dan dipopulerkan oleh Bapak Akhmad Shunhaji.
Beliau ini tampaknya bukan tipe orang yang duduk di menara gading sambil bikin teori njelimet. Sepertinya Pak Akhmad Shunhaji ini cuma seorang pengamat kehidupan yang sadar satu hal penting: Kalau kita memimpin pakai urat leher (marah-marah melulu), lama-lama bisa putus tuh urat. Plus, nggak efektif!
Alih-alih menciptakan robot pekerja yang stres, Pak Shunhaji menawarkan pendekatan yang lebih "adem". Beliau meracik sebuah panduan di mana ketegasan bisa bergandengan tangan mesra dengan kasih sayang. So sweet, kan?
Karena beliau mengingatkan kita pada hal yang sering dilupakan di dunia yang serba cepat ini: Memanusiakan Manusia.
Bayangkan kalau konsep Pak Shunhaji ini nggak ada. Kita mungkin masih terjebak di era di mana pemimpin yang "sukses" diukur dari seberapa banyak bawahannya yang nangis di pojokan toilet. Seram, kan?
Berkat gagasan Al-Idarah Ar-Rahmaniyyah ini, kita jadi punya alternatif. Kita jadi tahu bahwa:
Negur orang salah itu nggak harus di depan umum pakai toa masjid. Empat mata lebih asyik dan ngena.
Nanya "Kamu baik-baik saja?" sebelum nanya "Mana laporannya?" itu bisa menaikkan produktivitas 100% (ini angka ngarang, tapi Anda paham maksudnya, kan?).
Jadi, mari kita apresiasi Pak Akhmad Shunhaji yang sudah "membocorkan" resep rahasia ini ke publik. Beliau nggak menyimpannya sendiri, tapi membagikannya biar kita semua nggak cepet tua karena stres di lingkungan kerja atau pendidikan.
Gimana kalau mulai besok, kita coba praktekkan Manajemen Cinta ini? Nggak usah langsung drastis. Mulai dari senyum tulus (bukan senyum SOP) ke rekan kerja atau murid.
Siapa tahu, dengan sedikit sentuhan "Rahmaniyyah", suasana tempat kita berkarya jadi lebih adem kayak ubin masjid.
Selamat mencoba Manajemen Cinta, dan jangan lupa bahagia!
Your email address will not be published. Required fields are marked *