
Zaman sekarang itu aneh. Orang yang bajunya biasa saja, pendidikannya standar, kadang hidupnya malah kelihatan adem ayem. Sebaliknya, yang gelarnya berjejer kayak gerbong kereta, atau yang tiap hari nonton kajian ilmiah jam-jaman, malah sering mukanya ditekuk kayak dompet tanggal tua. Kok bisa makin pintar malah makin cemas?
Jawabannya simpel: ilmunya baru sampai di kening, belum sempat transit ke hati, apalagi meresap ke batin.
Di pesantren, para kiai sering mengingatkan kalau ilmu tanpa khasy-yah—rasa takut yang berpadu dengan pengagungan kepada Allah—itu ibarat orang membawa obor di tengah hutan kering. Bukannya bikin terang jalan, malah rawan membakar alis sendiri.
Orang yang cuma menumpuk teori tapi hatinya kosong biasanya gampang kena penyakit overthinking. Baru baca satu artikel tentang krisis global, langsung kepikiran sampai tidak bisa tidur tiga hari. Baru tahu teori psikologi sedikit, langsung self-diagnose kalau dirinya kena trauma masa lalu gara-gara dulu pernah dijahili temannya waktu main gundu.
Kenapa bisa begitu? Karena otak kita dipaksa mengunyah data raksasa, tapi batinnya tidak dikasih "asupan" kepasrahan. Ibarat laptop spek jaman jadul dipaksa install gim berat, ya jelas langsung hang dan kipasnya bunyi kayak helikopter mau lepas landas!
Penyebab utama orang pintar gampang cemas itu satu: mereka sering merasa bisa mengontrol segala hal memakai kepintarannya.
Orang pintar itu biasanya suka membayangkan 1.000 skenario buruk sebelum kejadian:
“Gimana kalau besok ekonomi anjlok?”
“Gimana kalau karirku stagnan?”
“Gimana kalau aku salah pilih jalan hidup?”
Padahal kata para ulama hikmah, rasa cemas yang berlebihan itu tanda kalau kita lagi sok-sokan mau menggantikan peran Allah dalam mengatur takdir. Kita merasa akal kita yang paling canggih, sampai-sampai lupa kalau di atas akal yang encer itu ada Allah Yang Maha Mengatur.
Di sinilah bedanya ilmu akal sama ilmu batin. Kalau ilmu cuma berhenti di otak, kamu bakal capek menghitung segala kemungkinan. Tapi kalau ilmu sudah menyentuh batin dan melahirkan khasy-yah, yang lahir adalah rasa takjub dan pasrah: “Halah, pemikiranku cuma secuil, biar Allah yang membereskan sisanya.”
Tanda paling gampang kalau ilmu seseorang sudah "ngeresep" itu batinnya matang. Dia tidak gampang panik waktu ada masalah, dan tidak gampang jumawa waktu dapat pujian.
Orang yang punya khasy-yah itu paham betul kalau dirinya cuma hamba. Ibarat santri yang lagi diajak sowan ke kediaman kiai sepuh yang karismatik—ada rasa takut tapi penuh hormat, ada rasa segan tapi rasanya hangat dan tenang. Rasa takut kepada Allah (khasy-yah) itu tidak bikin kita lari menjauh, tapi justru bikin kita makin mendekat dan merasa aman.
Kalau kamu merasa makin banyak belajar kok malah makin gampang gelisah, gampang baper, dan takut kehilangan hal-hal duniawi, coba periksa lagi: jangan-jangan ilmu yang kamu pelajari cuma buat bahan debat di grup WhatsApp, bukan buat menundukkan kesombongan diri.
Obat cemas buat orang pintar itu sebetulnya tidak rumit-rumit amat:
Sadar batas akal: Akal itu cuma alat, bukan Tuhan. Kalau sudah berpikir maksimal tapi tetap buntu, ya sudah, serahkan sama Yang Punya Jalur.
Kurangi sok tahu, perbanyak sujud: Kadang kita terlalu sibuk menganalisis dunia sampai lupa kalau penawarnya cuma dahi yang menempel lama di sajadah.
Nikmati proses: Jangan semua hal diukur memakai target yang kaku. Seduh kopi hitam, duduk santai, dan belajar menertawakan kebodohan diri sendiri.
Ingat, sebaik-baik ilmu itu bukan yang bikin kita jago mendebat orang lain, tapi yang bikin hati kita makin tunduk, tenang, dan paham kalau kita ini tidak ada apa-apanya dibanding Keagungan-Nya. Kalau hati sudah tenang, mau ada angin puyuh ujian hidup kayak apa juga, kita cuma bakal bilang: "Tenang, ada Allah."
Your email address will not be published. Required fields are marked *