
Pernah enggak kamu ketemu orang di grup WhatsApp keluarga yang tiap hari mengasuh anggota grup pakai artikel yang enggak jelas sumbernya? Mulai dari ramuan herbal penyembuh semua penyakit, analisis krisis energi global, sampai prediksi harga cabai di tahun 2030. Semua dibahas dengan penuh percaya diri bagaikan ketua asosiasi ilmuwan dunia.
Lucunya, begitu sepupumu yang dokter spesialis cuma balas, “Enggak gitu konsepnya, Tante…”, si tante langsung kirim stiker foto bunga lavender bertuliskan “Dunia Sudah Terbalik”.
Sering kali, orang yang ilmunya baru seujung kuku justru suaranya paling kencang se-Kecamatan. Sementara orang yang beneran pakar malah milih diam, nyeruput teh hangat, dan senyum santai.
Peribahasa tong kosong nyaring bunyinya itu bukan sekadar teori dari buku Bahasa Indonesia SD. Itu adalah fenomena alamiah yang bisa kita temukan di mana-mana:
Di Tempat Gym:
Member baru yang baru seminggu gabung biasanya pakai perlengkapan paling heboh—dari sabuk otot, sarung tangan khusus, sampai outfit serba menempel di badan. Tiap ada orang angkat beban, dia sibuk mengoreksi gerakan orang lain sambil teriak-teriak.
Sementara bapak-bapak yang pakai kaos partai kelunturan dan celana pendek lusuh? Dia santai angkat beban 100 kg tanpa suara, habis itu pulang naik sepeda ontel sambil bawa kerupuk.
Di Dunia Kerja:
Anak magang hari pertama biasanya sibuk pakai istilah bahasa Inggris tingkat tinggi tiap dua detik: “In terms of synergy, we need to leverage our core competencies, ya!”
Pas ditanya manajer senior yang gajinya puluhan juta, si manajer cuma jawab pelan, “Maksudnya gimana tuh? Tolong jelasin pakai bahasa Indonesia biasa aja.”
Secara logika warung kopi, pamer ilmu itu butuh energi yang sangat besar.
Orang yang berpura-pura tahu segalanya harus selalu dalam posisi standby untuk bertahan. Tiap kali ada orang lain yang beda pendapat, jantungnya mendadak deg-degan, dadanya sesak, dan otaknya langsung menyusun argumen balasan. Hidupnya penuh dengan rasa takut kalau-kalau "kebodohannya" bakal terbongkar!
Batinnya jadi sempit banget karena:
Harus Selalu Memenangi Debat: Bahkan untuk hal sepele kayak debat "bubur diaduk vs enggak diaduk", dia bisa berargumen dua jam sampai membawa-bawa hukum fisika kuantum.
Susah Minta Maaf: Buat orang sok tahu, kata “oh iya, gue salah” itu rasanya lebih berat daripada mengangkat beban lima puluh kilogram.
Sebaliknya, orang yang makin banyak belajar itu ibarat tanaman padi. Makin berisi, makin menunduk. Bukan karena dia minder, tapi karena dia makin sadar kalau ilmu di dunia ini luasnya luar biasa, dan apa yang dia ketahui itu cuma secangkir air di tengah lautan!
Nah, kesadaran inilah yang bikin batin mereka super lapang. Keuntungan punya batin lapang ala orang rendah hati itu adem banget:
Gak Beban Saat Mengaku "Belum Tahu":
Orang berilmu yang rendah hati itu santai banget kalau ditanya hal yang dia enggak paham. Dia bakal jawab dengan senyum manis, “Wah, kalau itu aku belum tahu nih, nanti aku pelajari dulu ya.” Enggak ada gengsi, enggak ada emosi naik turun.
Dada Rasanya Plong:
Karena enggak merasa perlu membuktikan apa-apa ke siapa pun, hidupnya bebas dari stres. Orang mau mengkritik atau memuji, reaksinya tetap sama: senyum ramah dan bilang terima kasih.
Gampang Menerima Masukan:
Meskipun ilmunya udah setinggi langit, dia tetap mau mendengarkan nasihat dari siapa pun—bahkan dari bocah SD sekalipun.
Biar kita bisa ikutan punya batin yang lapang dan adem, coba terapkan latihan-latihan kocak nan efektif ini dalam kehidupan sehari-hari:
Praktekkan Jurus "Iya-in Aja":
Kalau lagi nongkrong terus ada teman yang membual dengan teori ajaibnya, enggak usah diajak debat kusir. Cukup tatap matanya, mengangguk pelan, lalu katakan, “Oh gitu ya... keren juga.” Habis itu makan gorenganmu dengan tenang.
Nurut Sama Nasihat Tukang Parkir:
Kadang tukang parkir cuma bilang, “Mundur terus... yak, stop!” Padahal di spion kamu melihat masih ada jarak dua meter. Daripada ngajak debat soal jarak pandang, mumpung latihan rendah hati, nurut aja.
Niatkan Belajar, Bukan Menilai:
Tiap kali ketemu orang baru, bayangkan kalau orang itu punya satu pengetahuan unik yang belum pernah kamu ketahui—meskipun itu cuma trik cara mengupas bawang merah tanpa menangis.
Ingat ya, orang yang beneran kaya itu enggak perlu mengibaskan uang kertas di depan muka orang lain. Sama halnya, orang yang beneran berilmu enggak perlu berteriak-teriak ngebuktiin kalau dirinya pintar.
Semoga mulai hari ini, kepala kita bisa makin terisi dengan hal-hal baik, dan dada kita makin lapang menerima warna-warni kehidupan. Kalau ada orang yang ngajak debat di media sosial? Cukup kasih jempol, terus tutup aplikasinya. Batin damai, hidup pun nikmat!
Your email address will not be published. Required fields are marked *