
Pernah nggak sih, Bapak/Ibu baru bangun tidur, ambil HP, lalu lihat notifikasi WhatsApp Group sudah berderet kayak antrean sembako?
Isinya macam-macam: undangan rapat jam 8 pagi (padahal baru baca jam 7.55), tagihan laporan dari atasan, sampai stiker "Semangat Pagi" gambar bunga mawar dari grup keluarga yang entah kenapa font-nya selalu warna-warni menyala.
Rasanya pengen tarik selimut lagi, pura-pura hibernasi sampai tahun depan. Tapi apa daya, ingat cicilan panci istri belum lunas, atau ingat anak yang kuota internetnya lebih boros daripada bensin mobil.
Akhirnya kita berangkat kerja. Badan di kantor/kampus, tapi jiwa melayang entah ke mana. Pulang ke rumah, sisa tenaga tinggal 5%, itu pun habis buat marah-marah karena remote TV hilang.
Pertanyaannya: Sampai kapan mau begini?
Kerja keras bagai kuda (maaf, kuda nggak punya KPI dan borang akreditasi) itu bagus. Tapi kalau cuma dapat capeknya doang, rugi bandar, Bos! Fisik remuk, hati suntuk, pahala nggak masuk. Double kill penderitaan.
Nah, sebagai praktisi Manajemen Cinta (ceileh), saya mau bagi tips receh biar kerjaan yang menumpuk itu nggak bikin kita gila, tapi malah jadi ladang pahala. Yuk, ubah Lelah jadi Lillah.
Biasanya kita bilang: "Aduh, males banget ketemu Si Bos itu," atau "Ya Allah, borang ini kok nggak beranak-pinak biar selesai sendiri ya?"
Coba ganti frekuensinya. Pas kaki melangkah keluar rumah, set niat: "Bismillah, saya kerja cari nafkah buat keluarga. Masalah nanti di kantor ada drama, itu urusan nanti."
Ketika niatnya Lillah (karena Allah), mendadak urusan kita bukan lagi sama atasan yang moody atau mahasiswa yang ngeyel, tapi transaksinya langsung sama Tuhan. Kalau dimarahin bos? Senyumin aja. Dalam hati bilang, "Lumayan, penggugur dosa."
Seringkali kita stres karena merasa harus menyelamatkan dunia sendirian. Semua dikerjain. Delegasi nggak percaya, minta tolong gengsi.
Halo? Kita ini manusia biasa, bukan Iron Man, apalagi Gatot Kaca. Punggung kita bisa encok, lambung bisa maag.
Kalau kerjaan numpuk, kerjakan satu-satu. Ingat rumus manajemen: Yang penting itu PROGRES, bukan KESURUPAN. Kalau hari ini nggak selesai, besok matahari masih terbit kok (Insyaallah). Jangan memaksakan diri sampai lupa makan siang. Lambung yang perih akan melahirkan mood yang senggol-bacok. Itu bahaya.
Di tengah hiruk pikuk "Pak, tanda tangan!", "Pak, revisi!", "Pak, kapan cair?", kita butuh tempat kabur yang aman.
Lari ke mana? Ke sajadah. Jadikan waktu sholat itu bukan "beban tambahan", tapi "waktu istirahat VIP". Saat wudhu, bayangkan air itu melunturkan stres di kepala (sekalian dinginin otak yang mulai ngebul). Saat sujud, tumpahkan semua uneg-uneg. "Ya Allah, hamba pusing liat Excel ini..." Curhat sama manusia seringnya malah di-screenshoot, curhat sama Tuhan pasti aman rahasia terjamin.
Kesimpulannya: Pekerjaan tidak akan pernah habis selama kita masih hidup. Jadi, jangan biarkan tumpukan kertas (atau file PDF) merenggut senyum dan kewarasan kita.
Kerjakan dengan cinta, niatkan karena-Nya. Kalau capek? Istirahat. Kalau pusing? Ngopi dulu. Semoga lelahmu menjadi Lillah, dan gajimu... yah, semoga cukup buat healing tipis-tipis!
Your email address will not be published. Required fields are marked *