
Pernah tidak kamu ngaca di pagi hari, lalu mikir: “Ini muka kok kayaknya kurang render, ya?” Atau pas lagi duduk santai, mendadak melihat lipatan perut yang jumlahnya sudah menyerupai kue lapis legit?
Keinginan buat punya tubuh ideal ala model internasional, kecerdasan setara Einstein, dan aura karismatik ala artis drakor itu memang wajar. Tapi kalau realitanya kamu lebih mirip figuran film komedi yang gampang engap kalau naik tangga lantai dua, di sinilah jurus legowo penerimaan diri harus dikeluarkan.
Ingat, legowo sama diri sendiri itu bukan berarti kamu mengibarkan bendera putih lalu memutuskan jadi beban keluarga selamanya!
Banyak orang salah paham. Begitu dibilang “terimalah dirimu apa adanya”, mereka langsung rebahan seharian sambil nyemil keripik dan bilang, “Ya mau gimana lagi, dari lahir gue emang bakatnya jadi tanaman hias.” Itu bukan legowo, Bambang! Itu namanya kemalasan yang dikemas pakai bahasa filsafat.
Biar tidak makin tersesat, ini bedanya:
Versi Pasrah: Kamu tahu suaramu mirip knalpot bobokan, tapi tetap nekat daftar juri ajang pencarian bakat sambil ngomel kalau tidak lolos. Ujung-ujungnya kamu menyalahkan takdir dan berhenti berusaha di semua lini kehidupan.
Versi Legowo: Kamu paham betul suaramu bisa bikin kucing tetangga trauma. Jadi, kamu terima kenyataan itu, tidak usah memaksa meluncurkan album solo, tapi tetap melatih bakatmu yang lain—misalnya bakat bikin sambal yang enaknya sampai bikin orang lupa utang.
Legowo itu artinya kamu paham batas kemampuan diri, menerima segala 'cacat produksi' yang bawaan lahir, tapi tetap berusaha jadi versi terbaik dari diri kamu yang sekarang.
Penerimaan diri secara utuh itu mencakup dua hal utama: bentuk fisik dan jejak digital masa lalu.
Kalau kamu lahir dengan jidat seluas lapangan sepak bola atau tinggi badan yang bikin kamu sering disangka murid SMP padahal sudah kepala tiga, ya sudah. Tidak perlu tiap malam memohon ke bintang jatuh biar jidatmu menyusut dua senti. Bintang jatuh juga punya kesibukan lain!
Fisikmu yang sekarang itu sudah paket limited edition. Daripada capek meratapi hal yang tidak bisa diubah, mending fokus ke apa yang bisa kamu poles. Jidat lebar? Kasih poni, atau sekalian pakai peci biar kelihatan makin alim.
Pernah tiba-tiba terbangun tengah malam cuma gara-gara teringat status Facebook kamu tahun 2012 yang tulisannya campur angka sama huruf kapital? Atau teringat momen kamu nembak gebetan pakai puisi tapi malah ditertawakan satu sekolah?
Rasa ingin menghilang dari muka bumi itu wajar. Tapi legowo berarti kamu bisa tertawa melihat kelakuan masa lalumu sambil batin: “Dulu gue emang agak kurang gizi mental, tapi untung sekarang sudah lumayan beradab.”
Terus, bagaimana caranya agar bisa benar-benar sayang dan legowo sama diri sendiri?
Stop Bandingkan Diri sama Selebgram: Mereka foto di pantai kelihatan estetik karena ada pencahayaan maksimal, kamera mahal, dan diedit 14 kali. Kalau kamu foto di pantai kelihatan kayak korban gempa, itu cuma masalah sudut pengambilan gambar dan nasib saja. Tidak usah diambil hati.
Kenali Musuh Terbesarmu (Suara di Dalam Kepala): Kadang yang paling jahat sama kamu itu bukan tetangga yang suka bertanya “kapan nikah?”, tapi pikiran kamu sendiri. Kalau pikiranmu mulai ngomong, “Kamu kok bodoh banget sih?”, langsung potong pakai omongan, “Sotoy amat, orang tadi cuma salah tekan tombol enter!”
Fokus pada Kekuatan, Toleransi Kekurangan: Kalau kamu tidak jago matematika, jangan memaksa jadi akuntan negara. Carilah bidang di mana kamu bisa bersinar, meskipun cuma bersinar di lomba makan kerupuk tingkat RT.
Menerima diri secara utuh itu bukan berarti kamu berhenti belajar dan berkembang. Itu cuma proses berhenti memukuli diri sendiri gara-gara kamu tidak sesuai dengan ekspektasi orang lain.
Mulai hari ini, tatap cermin, tersenyum lebar, dan katakan pada dirimu sendiri: “Oke, muka kamu memang agak lelah, bakatmu belum kelihatan, tapi kamu sudah bertahan sejauh ini dan kamu keren!” Kalau cerminnya mendadak retak, ya sudahlah... legowo saja, paling besok tinggal beli cermin baru!
Your email address will not be published. Required fields are marked *