
Pernah tidak kamu merasa sudah persiapan sekelas atlet level olimpiade, tapi pas tampil malah berakhir mirip pemeran utama sinetron komedi? Keringat sudah mengucur berliter-liter, tirakat sudah tamat dari bab awal sampai bab akhir, eh realitanya malah membanting mental sampai berkeping-keping.
Tengok saja nasib Kang Tajudin dari Kudus. Begitu ditunjuk mewakili daerahnya untuk ajang MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur'an) Nasional di Jawa Tengah, semangatnya langsung membara setinggi gunung Muria. Demi menampilkan melodi tilawah terbaik, tirakatnya tidak main-main. Tiap subuh dia latihan pernapasan di pinggir empang, mengunyah kencur mentah berkg-kg sampai napasnya bau bumbu seblak, plus tidak makan gorengan selama enam bulan penuh. Semua lagu tilawah—dari maqam Bayati, Rast, sampai Hijaz—sudah dihafal luar kepala lengkap dengan cengkok naik-turunnya yang mendayu-dayu. Usahanya sudah sekelas qari internasional!
Pas hari pertandingan di panggung utama MTQ Nasional di Jawa Tengah, Kang Tajudin naik panggung dengan jubah putih berseri-seri dan peci hitam yang disemir mengkilap. Penonton bersiap menahan napas, dewan hakim sudah siap pegang pulpen emas.
Begitu Kang Tajudin memegang mikrofon dan mengumandangkan "A'udzubillah...", musibah langit terjadi. Ada dahak nyangkut di tenggorokan gara-gara dia tidak sengaja menyantap mendoan panas di wisma atlet sejam sebelumnya. Suara melengking indah yang dijanjikan malah berubah jadi jeritan sember mirip bunyi klakson bus Pantura yang kehabisan angin. Nada tinggi Hijaz-nya gagal total, malah berbelok jadi nada kaget. Dewan hakim langsung beristighfar serentak, dan Kang Tajudin cuma bisa tersenyum pasrah di atas panggung sambil memegang lehernya. Usaha sekelas ma'had aly, hasilnya sekelas peserta karaoke di pos ronda.
Atau cerita Kang Badrun yang jadi panitia seksi konsumsi di ajang MTQ Nasional Jateng tersebut. Demi menyambut kafilah tamu dari seluruh pelosok negeri, dia memesan ribuan porsi Nasi Liwet khas Jawa Tengah dari katering ternama. Niatnya ingin pamer kelezatan kuliner lokal.
Realitanya? Karena tukang kateringnya ketiduran, porsi yang datang jam 12 siang malah menu oseng mercon pedas stadium empat. Walhasil, para peserta yang mau lomba cabang hifdzil (hafalan) Al-Qur'an bukannya fokus muroja'ah di balik panggung, malah antre panjang di depan toilet sambil memegang perut dengan muka pucat. Niat hati panen pujian, apa daya malah panen rintihan mules dari para hafidz.
Di sinilah indahnya ilmu pasrah ala santri nahdliyin: Niatnya Lillahi Ta'ala, tapi kalau Hasilnya Innalillahi, Ya Tetap Diterima sambil Ketawa.
Kita ini sering lupa kalau hasil akhir itu ranah eksklusif milik Gusti Allah, sementara ranah kita cuma di bagian "ikhtiar dan bayar uang pendaftaran". Begitu hasil yang didapat banting harga dari ekspektasi, pakai tiga jurus meloloskan diri dari stres berikut:
Malaikat Tidak Menilai Piala Kuningan: Malaikat yang mencatat amalan itu melihat tiap kencur mentah yang kamu kunyah dan tiap jam tidur yang kamu korbankan buat latihan. Poin pahala tetap masuk rekening gaib 100%, tidak ada potongan pajak kemenangan!
Kembali ke Khittah Tawadhu: Bayangkan kalau Kang Tajudin langsung juara satu nasional. Bisa-bisa kalau jalan di kampung dadanya membusung sampai menutupi pemandangan warga. Suara sember itu tanda cinta dari langit biar Kang Tajudin tetap rajin sowan dan tidak lupa daratan.
Prinsip Bubar Lomba, Terbitlah Mendoan: Seberantakan apa pun hasil usahamu, dunia belum kiamat. Selesai acara, cari warung kopi terdekat, pesan es teh manis hangat plus gorengan renyah, lalu ceritakan kesialanmu ke teman-teman sampai perutmu mulas karena kebanyakan tertawa.
Jadi, kalau hari ini usahamu yang sudah berdarah-darah berakhir dengan plot twist yang bikin elus dada, tidak usah berniat bertapa di dalam goa. Tarik napas dalam-dalam, senyum paling manis, lalu katakan dalam hati: “Gusti, skenario-Mu hari ini lucu banget. Suara saya memang sember, tapi semangat saya tetap super!”
Toh, selama kopi masih ada manisnya dan mendoan masih gurihnya, takdir yang suka prank ini cuma bahan komedi yang bakal bikin hidupmu makin berwarna!
Your email address will not be published. Required fields are marked *