
Selasa, 17 Februari 2026 (Edisi Merah Merona)
Pagi ini, coba deh ngintip keluar jendela atau jalan-jalan sebentar ke pasar. Apa yang beda?
Iya, bener. MERAH SEMUA.
Di mana-mana ada lampion gelantungan kayak bakso raksasa yang menyala. Ada nuansa emas, ada gambar ular (shio tahun depan mungkin udah ganti Naga Indosiar?), dan yang paling penting: ada aroma libur nasional yang menyengat!
Hari ini saudara-saudara kita yang merayakan Imlek lagi sibuk-sibuknya. Sibuk sembahyang, sibuk kumpul keluarga, dan sibuk ngitung isi amplop merah (yang ini bikin iri, jujur).
Sementara kita? Kita sibuk scrolling TikTok sambil rebahan, menikmati jatah libur di hari Selasa yang biasanya bikin burnout.
Tapi pernah nggak sih kepikiran sambil mandangin lampion merah itu: "Kok Tuhan nyiptain kita beda-beda banget, ya?"
Kenapa Tuhan nggak bikin semua manusia itu template-nya sama aja? Semuanya muka Jawa, atau semuanya muka Oriental? Semuanya suka opor, atau semuanya suka dimsum?
Di sinilah letak asyiknya kalau kita bedah pakai "kacamata" Ar-Rahman.
Tuhan Itu "Chef" Paling Jago, Bukan Tukang Fotokopi
Bayangkan kalau Tuhan itu kayak tukang fotokopi di kantor kelurahan.
Hasil ciptaan-Nya pasti hitam putih, buram, kadang ada garis-garisnya, dan boring banget. Semua manusia seragam. Nggak ada Imlek, nggak ada Lebaran, nggak ada Natal.
Dunia bakal jadi tempat paling membosankan se-galaksi. Kayak makan nasi putih tawar seumur hidup. Kenyang sih, tapi hambar, Bestie!
Tapi karena Allah itu Ar-Rahman (Maha Pengasih) dan Maha Kreatif, Dia ciptakan dunia ini kayak Menu Prasmanan Kondangan Mewah.
Ada Sate Padang yang pedas (orang Sumatera), ada Gudeg yang manis (orang Jogja), ada Capcay yang gurih (orang Tionghoa).
Lampion merah yang hari ini menghiasi langit, itu ibarat "garnish" atau hiasan indah di menu kehidupan kita. Perbedaan budaya, bahasa, dan cara merayakan hari besar itu adalah bumbu racikan Tuhan supaya kita nggak bosen hidup di Bumi.
Coba bayangin kalau nggak ada Imlek? Kita nggak bakal kenal yang namanya Dodol Cina (Kue Keranjang) yang manis-lengket kayak janji mantan itu, kan?
Langit Ar-Rahman Itu Luas, Nggak Sempit Kayak Pikiran Netizen
Coba lihat ke atas. Lampion-lampion itu menggantung di bawah langit siapa?
Ya langitnya Allah.
Langit Ar-Rahman itu memayungi semuanya. Dia nggak bilang: "Eh, awas ya, lampion jangan digantung di sini, ini langit khusus buat yang peci-an doang!"
Nggak gitu konsepnya. Sifat Rahman Allah itu inklusif. Matahari pagi ini bersinar terang nyorot ke Klenteng Sam Poo Kong, sama terangnya pas nyorot ke Masjid Istiqlal. Oksigen yang dihirup Koh Acong sama dengan oksigen yang dihirup Mas Bejo.
Tuhan lagi ngajarin kita lewat langit-Nya: "Aku aja mengasihi mereka semua, ngasih mereka rezeki, ngasih mereka kebahagiaan di hari raya ini. Masa kamu yang cuma hamba, malah sewot?"
Menghargai perbedaan itu bukan berarti kita login atau ganti keyakinan, lho ya. Tapi cukup dengan ikut tersenyum melihat tetangga bahagia. Cukup dengan nggak nyinyir kalau lihat ada ornamen merah di mall.
Toleransi Itu Sederhana: "Gong Xi Fa Cai" dan Diskonan
Satu hal yang paling menyatukan kita di bawah langit Ar-Rahman ini adalah: Cinta Diskon.
Hari ini, Ar-Rahman menurunkan rahmat-Nya lewat promo Buy 1 Get 1 di berbagai coffee shop dan mall.
Saat kita antre diskonan bareng saudara-saudara kita yang merayakan Imlek, di situlah toleransi yang hakiki terjadi. Kita sama-sama hamba Tuhan yang nggak mau rugi. Kita sama-sama manusia yang butuh hiburan.
Jadi, ketika kamu melihat lampion merah hari ini, jangan anggap itu sebagai "ancaman" budaya. Anggap aja itu lampu hias di ruang tamunya Tuhan.
Tuhan sengaja bikin "menu" manusia yang warna-warni, supaya kita saling kenal (lita'arafu), saling belajar, dan saling melengkapi. Kalau semuanya sama, kita nggak bakal belajar arti sabar, arti menghargai, dan arti berbagi.
Penutup: Nikmati Menunya!
Selamat menikmati libur hari Selasa ini!
Buat yang merayakan, selamat berkumpul dengan keluarga. Semoga angpaonya tebal.
Buat yang nggak merayakan, selamat menikmati ketenangan, selamat menikmati kue keranjang (kalau dikasih tetangga), dan selamat menikmati pemandangan lampion yang cantik itu.
Ingat, di bawah langit Ar-Rahman, semua punya tempat. Perbedaan itu bukan untuk diperdebatkan di kolom komentar, tapi untuk dinikmati layaknya menu makanan yang lezat.
Yuk, cari makan! Siapa tau ada mie ayam promo Imlek.
Your email address will not be published. Required fields are marked *