
Pernah gak sih lo ngerasa kalau temen, pacar, atau gebetan lo itu harusnya punya sertifikat keahlian sebagai cenayang?
Misalnya nih, lo lagi ngambek. Terus pas ditanya, "Kamu kenapa?", lo jawabnya, "Gak apa-apa." Tapi di dalam hati lo yang paling dalam, lo berekspektasi dia bakal langsung sujud syukur, minta maaf, lalu peka kalau lo lagi pengen dibelikan boba gila-gilaan plus seblak ceker level 5.
Pas dia beneran percaya kalau lo "gak apa-apa" dan malah asyik mabar Mobile Legends, lo langsung nangis di pojokan kamar sambil dengerin lagu galau, merasa dunia ini kejam dan dia gak peduli lagi sama lo.
Pengumuman penting: Manusia purba aja butuh waktu ribuan tahun buat nemuin api, jadi jangan harap pacar atau temen lo bisa nemuin arti di balik kata "Gak apa-apa" dalam waktu 5 detik!
Ekspektasi Kita: Setinggi Burj Khalifa. Realita: Selevel Rumput Teki.
Masalah terbesar dalam hubungan antarmanusia zaman sekarang itu cuma satu: Ekspektasi kita seringkali udah kayak skrip film Hollywood, tapi budget kemampuan orang lain itu cuma sekelas sinetron azab.
Kita sering bikin standar yang gak masuk akal buat orang lain:
Sahabat kita HARUS tahu kalau kita lagi sedih cuma dari cara kita ngetik huruf "wkwk" yang biasanya tiga baris, sekarang cuma dua huruf.
Pasangan kita HARUS peka kalau kita lagi males masak dan kode-kodean pake batuk kecil.
Temen kerja HARUS paham kalau kita lagi capek dan otomatis mau ngerjain bagian kita.
Sumpah, gaes. Kalau semua orang di dunia ini bisa baca pikiran, profesi dukun se-Indonesia bakal gulung tikar. Menuntut orang lain selalu memenuhi ekspektasi kita itu resep paling mujarab buat bikin diri sendiri cepet tua dan masuk angin karena keseringan dongkol.
Masuk ke Mode Empati: Menyadari Mereka Juga Cuma Siluman Manusia Biasa
Nah, biar hubungan lo sama manusia-manusia di sekitar lo tetep berada di jalur yang "waras" (dan lo gak bolak-balik beli obat sakit kepala), obatnya cuma satu: Tuker ekspektasi lo sama empati.
Empati itu sebenernya simpel banget. Gak perlu lo bertapa di gunung dulu. Empati itu cuma proses mikir, "Ah, mungkin dia lagi gak konek aja," atau "Oh, mungkin dia lagi pusing." Coba deh bayangin posisi mereka pake kacamata yang agak kocak ini:
Si Pacar yang Gak Peka: Dia bukannya gak sayang sama lo pas gak peka lo lagi laper. Bisa jadi otaknya lagi buffering mikirin cicilan motor yang jatuh tempo besok, atau dia lagi nahan mules tapi gengsi mau ngomong.
Si Temen yang Slow Respon: Pas lo chat panjang lebar tapi cuma dibales "Oh iya", jangan langsung mikir dia mau mutus tali silaturahmi. Siapa tahu dia lagi megang stang motor, dikejar anjing tetangga, atau jempolnya lagi kram abis ngupas bawang putih satu kilo.
Si Bestie yang Lupa Hari Ultah Lo: Jangan langsung bikin petisi boikot dia dari lingkaran pertemanan. Bisa jadi dia lagi berantem sama emaknya gara-gara lupa matiin jetpump air sampai rumahnya banjir.
Cara Praktis Menuju Hubungan yang Sehat (dan Bebas Darah Tinggi)
Biar kita semua selamat dari drama-drama gak bermutu yang menguras kuota mental, yuk kita praktekin tiga jurus ini:
1. Pensiun Jadi "Misterius"
Kalau butuh sesuatu, ngomong! Jangan pake kode-kodean kayak lagi kirim sandi Morse di pramuka. Mau dibantuin? Bilang, "Bro, bantuin gue dong, otak gue mau meledak nih." Mau dimengerti? Ngomong, "Gue lagi sensitif hari ini, jangan diledekin dulu ya." Selesai perkara. Hidup tenang, kuota aman.
2. Anggap Orang Lain Lagi "Mode Hemat Daya"
Kalau respons orang di sekitar lo gak sesuai harapan, bayangin aja mereka lagi lowbat. Kalau HP lowbat kan fiturnya dikurangin tuh (gak bisa buka aplikasi berat, layar agak redup). Nah, manusia juga gitu. Kalau mereka lagi capek, kemampuan peka mereka otomatis off. Maklumin aja.
3. Sadari Kalau Kita Juga Sering "Zonk"
Pernah gak lo lupa bales chat orang? Pernah. Pernah gak lo gak sengaja bikin temen lo tersinggung? Pernah juga, kan? Nah, kalau kita sendiri aja kadang bertingkah gak sempurna kayak remahan rengginang di dasar kaleng Khong Guan, kenapa kita nuntut orang lain harus sesempurna malaikat?
Kesimpulannya, hubungan yang sehat dan waras itu bukan hubungan yang isinya orang-orang peka 24 jam tanpa cela. Hubungan yang waras itu adalah ketika lo bisa nurunin ekspektasi lo sampai ke tingkat bumi, dan naikin empati lo setinggi langit.
Jadi, kalau hari ini ada temen lo yang nyebelin atau lemot banget... tarik napas dalam-dalam, hembuskan, lalu bisikkan dalam hati: "Gak apa-apa, mungkin dia lagi lupa caranya jadi manusia cerdas hari ini." Damai, kan?
Your email address will not be published. Required fields are marked *