
Halo, Mahasiswa budiman yang (semoga) selalu dirahmati Tuhan dan kuota internet.
Mari bicara empat mata. Kita sering dengar keluhan kalian di tongkrongan atau di status WA yang di-hide dari dosen: "Dosennya killer banget, sih!" "Chat gue cuma dibalas 'Y'. Dingin banget kayak kulkas dua pintu." "Tugas numpuk terus, dosen nggak ngertiin mental health kita!"
Oke, valid. Perasaan kalian valid. Tapi, pernah nggak kalian zoom out sebentar dan melihat dari sudut pandang si Dosen?
Dalam konsep Manajemen Cinta, cinta itu nggak bisa sendirian, Bestie. Cinta itu take and give. Kalau kalian menuntut dosen untuk pengertian, lembut, dan murah nilai, pertanyaannya: Sudahkah kalian "mencintai" dosen kalian dengan benar?
Atau jangan-jangan, kalianlah pelaku toxic relationship di kampus?
Banyak mahasiswa yang kalau izin sakit, nge-chat dosennya begini: "Pak, saya nggak masuk ya. Sakit." (Tanpa salam, tanpa nama, tanpa kelas).
Giliran dosennya bingung "Ini siapa?", mahasiswanya baper. "Dosennya nggak perhatian!"
Ingat ya, dosen kalian itu akademisi, bukan dukun atau cenayang yang bisa menerawang siapa pemilik nomor asing itu. Mencintai dosen itu dimulai dari komunikasi yang jelas. Sebutkan salam, nama, kelas, dan keperluan. Itu bukan formalitas basi, itu namanya menghargai.
Kalau komunikasi kalian saja "misterius" kayak intel, gimana dosen mau sayang?
Ini penyakit menahun mahasiswa tingkat akhir. Dihubungi dosen pembimbing susah banget. Ditelepon nggak diangkat. Dicari di kampus menghilang. Ghosting berbulan-bulan.
Tiba-tiba, seminggu sebelum deadline sidang, muncul dengan wajah memelas: "Pak, tolong tanda tangan sekarang ya Pak, kalau nggak saya nggak bisa wisuda..."
Waduh! Ini namanya Cinta Egois. Kalian datang cuma pas butuh. Giliran dosen mau membimbing, kalian kabur. Dalam Manajemen Cinta, kepercayaan (trust) itu mahal. Jangan harap dosen mau mempermudah jalan kalian, kalau kalian sendiri yang mempersulit komunikasi. Dosen juga manusia, bisa kecewa kalau merasa cuma dimanfaatkan.
Kuliah jarang, tugas copas (copy-paste) dari Google (bahkan font-nya lupa diganti), pas ujian jawabannya satu paragraf doang. Tapi pas nilai keluar dapat C, langsung demo ke ruang dosen: "Pak, kok nilai saya C? Saya kan rajin bayar SPP!"
Sayangku, SPP itu bayar fasilitas, bukan bayar nilai.
Nilai A itu adalah buah dari "Cinta" yang kalian tanam.
Cinta pada ilmu (belajar beneran).
Cinta pada proses (ngerjain tugas nggak asal-asalan).
Cinta pada adab (sopan santun).
Kalau usahanya minimalis tapi harapannya fantastis, itu namanya halusinasi, bukan edukasi.
Tenang, nggak perlu cari muka atau jadi penjilat. Untuk mengambil hati dosen (dan dapat keberkahan ilmu), rumusnya sederhana dalam Manajemen Cinta:
Hadirkan Hati (Presence) Kalau di kelas, jangan cuma badannya yang duduk, tapi nyawanya melayang ke Mobile Legends. Tatap mata dosen, angguk-angguk (biarpun belum paham), dan tanya kalau bingung. Dosen itu simple: liat mahasiswa antusias, hatinya langsung luluh.
Adab di Atas Ilmu (Attitude is Everything) Pintar itu penting, tapi sopan itu mutlak. Mahasiswa yang biasa saja tapi sopan, jujur, dan komunikatif, biasanya lebih diingat dan dibantu dosen daripada mahasiswa jenius tapi songong.
Manusiakan Dosenmu Dosen juga bisa capek, bisa sakit, bisa punya masalah di rumah. Kalau dosen telat balas chat atau agak uring-uringan, coba dimengerti (positive thinking). Doakan beliau. Energi positif doa kalian itu bakal balik lagi ke kalian dalam bentuk kemudahan urusan.
Kampus itu simulasi kehidupan nyata. Kalau sekarang kalian belajar me-manajemen cinta (hubungan baik) dengan dosen, nanti kalian akan mudah me-manajemen hubungan dengan atasan, mertua, atau pasangan.
Jadi, yuk stop mengeluh di sosmed. Mulailah tebar pesona (kebaikan) di kelas. Percayalah, dosen killer itu hanyalah mitos bagi mahasiswa yang pandai menyentuh hatinya.
Semangat mengejar gelar sarjana, para pejuang skripsi! Jangan lupa bahagia!
Your email address will not be published. Required fields are marked *