
Pernah nggak sih kalian punya teman yang saking baiknya, saking rajin bantuin, sampai kalian takut kehilangan dia? Nah, kira-kira itulah perasaan Ketua MPR RI, Bapak Ahmad Muzani, saat memberikan sambutan di Harlah 100 Tahun NU.
Dalam pidatonya, Pak Muzani nggak pakai bahasa kaku ala buku diktat hukum. Beliau justru menyampaikan pesan yang kalau diterjemahkan ke bahasa tongkrongan bunyinya begini: "NU, kamu jangan bosan sama Indonesia ya. Kalau kamu bosan, aku harus lari ke mana?"
Waduh, so sweet banget kan? Mari kita bedah pidato "romantis" ini dengan kacamata guyon.
1. NU: Senior yang Udah "Login" Sebelum Negaranya Ada
Pak Muzani mengingatkan fakta sejarah yang ngeri-ngeri sedap. NU itu sudah sibuk ngurusin rakyat bahkan sebelum Indonesia punya KTP.
Bayangkan, negara belum lahir, bendera belum berkibar, tapi Mbah-Mbah Kiai NU sudah sibuk reriungan menjaga masyarakat. Ini ibarat NU itu kakak kelas senior (kakak angkatan tua banget) yang sudah hafal semua sudut sekolah sebelum murid barunya datang.
Jadi wajar kalau Ketua MPR bilang NU itu penjaga bangsa. Lha wong NU yang ikut "babat alas". Kalau Indonesia diibaratkan rumah, NU itu tukang pasang pondasinya. Makanya, kalau pondasinya goyang, rumahnya ikut gemetar.
2. Paket Kombo: Kyai Menenangkan, Banser Mengangkat
Ini bagian yang paling menarik. Pak Muzani menyoroti peran NU saat ada bencana. Kata beliau, NU punya pembagian tugas yang epik banget.
Kyai/Ulama: Bagian Healing Mental. Saat rakyat panik karena bencana, Ulama NU turun kasih nasihat yang adem. "Sing sabar, Gusti Allah mboten sare." Ini penting, biar korban bencana nggak cuma dapat mie instan, tapi juga dapat ketenangan jiwa.
Banser: Bagian Otot Kawat Balung Besi. Nasihat saja nggak cukup kalau genteng masih bocor atau jalan ketutup longsor. Di sinilah "Pasukan Loreng" beraksi.
Banser itu unik. Mereka bisa jadi satpam pengajian, bisa jadi tim SAR dadakan, bisa ngatur lalu lintas mudik, bahkan bisa bantu dorong mobil mogok. Banser adalah bukti bahwa superhero itu nggak harus pakai jubah, cukup pakai seragam loreng dan sepatu boots.
3. Rumus Matematika Negara: NU Kuat = Indonesia Kuat
Pak Ketua MPR mengeluarkan rumus canggih: "Negara perlu NU kuat, karena jika NU kuat, Indonesia kuat."
Ini bukan gombalan, Gaess. Ini fakta lapangan. Coba bayangkan kalau NU lagi "lemes" atau lagi "bad mood".
Siapa yang bakal ngademin suasana kalau medsos lagi panas?
Siapa yang bakal ngadain tahlilan kalau ada tetangga meninggal?
Siapa yang bakal ngabisin sisa konsumsi rapat RT? (Eh, maaf salah fokus).
Intinya, NU itu kayak Wifi buat Indonesia. Kalau sinyal NU kencang, koneksi persatuan Indonesia lancar jaya. Kalau NU down, wah satu negara bisa lagging parah.
4. Tantangan Terberat: "Aja Bosen" (Jangan Bosan)
Di akhir pesannya, Pak Muzani bilang: "NU jangan bosan memberi yang terbaik untuk bangsa negara, jangan pernah bosan."
Manusiawi sih kalau bosan. Kita aja kadang bosan makan nasi goreng tiap hari. Tapi bagi NU, bosan mengurus Indonesia itu dilarang keras.
Bayangkan kalau NU ngambek:
"Duh, capek ah jagain NKRI, mau rebahan aja setahun."
Waduh, bisa bubar jalan kerukunan kita!
Makanya, permintaan Pak Muzani ini adalah permohonan tulus dari negara. Negara butuh NU yang staminanya kayak kuda, napasnya panjang, dan kesabarannya setebal kulit badak.
Penutup: Tetaplah Menjadi "Pawang" Indonesia
Terima kasih Pak Ahmad Muzani sudah mewakili isi hati kami. Memang benar, NU adalah aset mahal yang nggak boleh dijual.
Buat warga NU di mana pun berada, dari yang struktural sampai yang kultural (yang cuma modal sarung dan rokok klobot), tolong dengarkan jeritan hati Ketua MPR ini: Jangan Bosan Jadi Orang Baik.
Tetaplah ngopi, tetaplah sholawatan, dan tetaplah jagain Indonesia. Karena kalau bukan kalian, siapa lagi yang mau jagain negeri seunik ini dengan cara yang se-santuy ini?
NU Kuat, Indonesia Hebat, Kita Semua Sepakat!
(Jangan lupa seruput kopinya sebelum dingin).
Your email address will not be published. Required fields are marked *