
Pernah nggak sih kamu merasa spiritually glow up abis check-list semua ibadah sunnah? Rasanya kayak dapet tiket VIP konser tulus, terus liat temen yang bangun jam 9 pagi, dalam hati langsung mikir: "Kasihan, kurang asupan cahaya ilahi."
Nah, kalau pernah, selamat! Kita sama-sama punya 'kebanggaan tersembunyi' yang perlu ditata ulang. Artikel ini bukan buat ceramah (siapa aku, yakan?), tapi buat berbagi observasi lucu dan kocak tentang betapa relate-nya kesombongan amal dalam kehidupan sehari-hari kita yang kekinian.
Kembang Api Kesombongan dan Rahmat Allah yang Pikir-Pikir
Kita sering beramal kayak nyalain kembang api. Kita merasa amalnya berwarna-warni, indah, dan hebat. Tapi kalau kesombongan ikut meletus, suara jedor-jedor-jedor kesombongan kita itu mengalahkan keindahan amalnya. Rahmat Allah yang mau datang jadi mikir-mikir: "Waduh, berisik amat. Udah dikasih kesempatan beramal, malah mau dapet tepuk tangan juga?"
Zaman sekarang, godaan flexing amal tuh gede banget. 'Spill the tea' amal rahasia kamu? Mana ada, semuanya terekam kamera! Pernah gak kamu sedekah di masjid terus pas masukin uang, matamu melirik kanan-kiri, memastikan ada yang liat? Kalau ada, dalam hati langsung: "Yes, misi personal branding sedekah hari ini sukses."
Circle Kajian 'Paling Benar' dan Self-Correction Lucu
Terus ada lagi 'Circle Kajian Paling Benar'. Ini tipe yang merasa amalnya paling kaffah, paling murni. Kalau ada yang beda sedikit dalam pemahaman, langsung dianggap kurang asupan nasehat. "Tolong ya, tobat dulu sebelum ikut kajian kami." Padahal, dalam 'circle' itu, mereka sibuk ngebicarain kurangnya amal orang lain. Plot twist yang kocak banget, yakan?
Menjemput rahmat Allah lewat amal yang rendah hati itu artinya kita sadar kalau amal kita itu sebenarnya masih banyak erornya, kayak aplikasi Android versi beta yang belum update. Kita beramal bukan buat tukar poin dapet surga, tapi buat nunjukin kita butuh Rahmat Allah. Titik.
Cobain Tantangan: Amal Diem-Diem Versi Kekinian
Cobain tantangan ini: sholat tahajud tanpa upload foto sajadah di story jam 3 pagi dengan caption 'Hanya Engkau yang Tahu'. Bisakah? Ataukah jari-jarimu gatal mau ngetik "Sedang merenungi takdir"?
Atau tantangan sedekah tanpa posting Instagram story dengan caption 'Self reminder: sedekah itu penting'. Bisakah? Ataukah jiwa flexing-mu akan menjerit?
Kesimpulan: Beramal Aja, Malu-Malu Kucing Aja
Jadi, daripada flexing amal yang bikin Rahmat Allah 'jauh', mending kita 'Menata Ulang Hati' kita. Beramal diem-diem, penuh kerendahan hati, kayak lagi nyolong mangga tetangga (tapi jangan beneran!).
Biar Allah yang ngasih Rahmat-Nya. Tugas kita? Beramal aja, sambil malu-malu kucing karena sadar amal kita masih eror. Yuk, kita mulai tata ulang hati kita, pelan-pelan, tapi pasti!
Your email address will not be published. Required fields are marked *